Oleh-Oleh dari Dawuan, Subang

Bismilahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, hari Ahad, 25 November 2007 yang lalu, penulis diundang
oleh BEM KEMA Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah
seorang penyuluh di daerah Dawuan, Kabupaten Subang.

Dijemput pukul 11.00 di Depan Masjid Daarut Tauhid Bandung, perjalanan
dengan Sepeda Motor itu menjadi begitu indah.  Selepas kota Lembang,
pemandangan kiri dan kanan mulai menghijau dengan rimbunan pepohonan
teh. Siang itu terasa sejuk, udara dingin menelisik ke sela-sela jaket,
terasa begitu nyaman. Walau sesekali, kesyahduan itu terusik dengan
suara klakson mobil-mobil orang kota yang tampaknya  bergegas  sampai ke
Jakarta untuk kembali ke rutininas Senin pagi.

Sekitar setengah jam lebih perjalanan, kami tiba di sebuah lapangan
sepakbola yang di pinggirnya sudah berdiri tiga buah tenda pleton ukuran
besar, tempat para mahasiswa menginap semenjak hari Sabtunya.

Yang membuat hati menjadi sangat riang, di tengah lapangan itu begitu
banyak wajah-wajah riang yang menikmati hari libur dengan cara mereka
yang sederhana, bermain bola, berlari serta saling mengejar, atau
sekedar duduk melamun mengamati anak-anak muda berjaket almamater biru
muda, yang mungkin hanya setahun sekali mampir di desa mereka.
Pemandangan ini sangat penulis rindukan semenjak terakhir, hampir tiga
tahun yang lalu, berkeliling Cianjur Selatan untuk mengenal pertama kali
indahnya keluguan bumi Pasundan.

Di undangan yang dikirimkan oleh para mahasiswa ini, penulis diminta
memberikan pencerahan tentang Wirausaha, tapi seperti yang sudah diduga
sebelumnya, materi haruslah disesuaikan ulang agar tidak membosankan,
tapi tetap sarat makna. Peserta yang diestimasi sebelumnya hanya 30
orang ibu-ibu juga harus bertambah menjadi satu tenda pleton, lengkap
dengan bayi kecil yang masih menyusui ibunya, hingga para bapak yang
duduk dibelakang sambil menikmati hembusan asap rokoknya lamat-lamat.
Pemandangan yang sungguh sudah sangat lama penulis rindukan.

Penyuluhan berlangsung semarak, sesekali tawa ibu-ibu memecah siang itu
... yang terus terngiang hingga saat tulisan ini diketik. Penulis sama
sekali tidak memberikan penyuluhan apa-apa, hanya mengungkapkan beberapa
cerita kerinduan, agar nanti dari rumah-rumah di sela-sela kebun teh ini
bisa lahir seorang anak muda yang kepalan tangannya kokoh, mampu merubah
dan mengajarkan tentang pentingnya ilmu dan kebanggaan harga diri
pribumi.

Sebelum penutup sesi, penulis menantang seorang ibu untuk maju ke depan,
mengucapkan ikrar bahwa putra mereka harus tetap sekolah, walaupun
penghasilan seorang pemetik teh hanya seperempat UMK. Ibu Kokom,
perwakilan itu, memegang gagang microphone dengan sedikit bergetar. Ibu
4 orang anak itu tampak mengumpulkan keberaniannya untuk tampil ke muka,
walau candaan para ibu yang lain sesekali menciutkan tekadnya. Dan
selang beberapa waktu kemudian, bebukitan hijau di sekeliling tenda itu
menjadi saksi, tentang tekad mereka untuk tidak mewariskan kelemahan
pada diri generasi sesudah mereka. Bergetar hati ini mendengarnya ...

Selepas bermain bola bersama Agung kecil, Ujang, Ikhsan dan
teman-temannya yang penuh keringat dan semangat, penulis meninggalkan
tempat itu dengan sebuah mimpi kecil ...

Mimpi itu adalah kembali kesana suatu saat nanti ... melihat sebuah
ruang sederhana berpapan tulis kapur, ... yang di kiri dan kanannya ada
rak-rak bambu penuh buku ... yang selalu ramai dengan canda para
bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak mereka ketika belajar segala sesuatu
yang baru ... yang di dindingnya ada kaligrafi sederhana buatan pemuda
setempat "Iqro .. Bismi Robbika aladzi kholaq" ... serta yang diatas
pintu masuknya ada tulisan sederhana buatan tangan mereka sendiri.

Tulisan itu berbunyi ... Selamat Datang di Ruang Belajar Rumah Ilmu
Indonesia ...

Kabulkan ya Robb ...

Amin

(Original Story by Reza Ervani)

Kirim email ke