FAKTOR PEMBENTUK INTEGRITAS
Kejujuran dan Integritas bukanlah sesuatu yang kita dapatkan begitu saja secara
otomatis (Taken for Granted), melainkan sesuatu yang harus diupayakan dengan
sungguh-sungguh dan hanya bisa dicapai dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Ada beberapa faktor yang membentuk kejujuran dan integritas.
Beberapa faktor tersebut adalah :
Niat yang lurusBerpikir jernihBicara benarSikap terpujiKeteladananDalam
kesempatan ini saya akan mencoba menguraikan salah satu faktor yang membentuk
kejujuran dan integritas, untuk kemudian di sesi berikutnya akan saya sajikan
uraian
faktor berikutnya secara berurut.
1. Niat yang lurus
Kejujuran dan integritas harus dimulai dari niat yang lurus dan tulus. Niat
memang bukanlah segala-galanya, sebab tak ada karya dan prestasi besar hanya
dengan bermodal niat semata. Prestasi besar dan karya hebat hanya bisa diraih
jika niat itu diwujudkan dalam aksi nyata.
Namun niat adalah dasar dari segala-galanya. Tidak akan ada karya dan prestasi
apapun tanpa didahului dengan niat. Bahkan niat itulah yang menjadi ukuran
bernilai atau tidaknya amal seseorang. Perbuatan yang sama akan menghasilkan
nilai yang berbeda di sisi tuhan lantaran niat yang berbeda.
Dalam hidup keseharian kita, Nilai pekerjaan kita tergantung dari niat
(motivasi) yang melandasinya. Seseorang yang bekerja dengan baik karena
mengharapkan pujian dari atasannya dan mendapatkan kenaikan jabatan, boleh jadi
akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Atasannya senang dan ia mendapatkan
kenaikan pangkat.
Tapi ia tidak akan mendapatkan apa-apa di sisi Tuhan.
Namun jika respon dari sang atasan tidak seperti yang diharapkannya, ia akan
merasa kecewa dan tak lagi merasa perlu bekerja dengan baik. Bahkan bukan
mustahil akan menjadi trouble maker yang menghambat kinerja perusahaan. Ia
bukan menjadi pembawa beban, tapi malahan jadi beban, bahkan menciptakan
beban-beban baru.
Berbeda halnya dengan orang yang bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas karena
Tuhan. Baginya bekerja adalah ibadah. Karenanya ia akan berusaha keras
melakukannya dengan sebaik-baiknya. Ia faham benar, semakin baik dan
berkualitas ibadahnya, akan semakin tinggi ganjaran/pahala yang diterimanya di
sisi Tuhan. Ia bekerja dengan baik karena Tuhan memrintahkan setiap orang yang
beriman bekerja dengan baik. Ia berdisiplin lantaran Tuhan menyruh hidup
berdisiplin. Ia suka membantu dan menolong orang lain sebab Tuhan memang
menghasung hamba-hamba-Nya untuk tolong-menolong.
Ia
akan terus bekerja dengan baik apapun respon yang diterimanya dari orang
sekitarnya. Jika atasan merespon dengan positif lalu menaikkan jabatannya, hal
itu dinilainya sebagai nikmat tambahan dari Tuhan. Dan ia akan menjadikan
jabatan dan rizki yang diterima sebagai sarana untuk meningkatkan kinerjanya.
Namun jika sang atasan ternyata cuek dan menganggap sepi kinerja yang
dihasilkannya, ia tidak akan kecewa dan putus asa. Ia akan terus saja bekerja
dengan baik. Ia tahu Tuhan maha melihat apa yang dikerjakannya, dan tidak akan
pernah lalai mencatat amal shaleh yang dilakukan hambaNya. Sedangkan sikap sang
atasan diserahkannya kepada Tuhan. Ia yakin dan percaya Tuhan akan memberikan
balasan setimpal kepada mereka yang tidak berbuat adil.
Niat adalah urusan hati. Maka untuk menjaga agar niat kita ikhlas, tidak ada
cara lain kecuali menjaga hati tetap bersih. Caranya buang jauh-jauh
sifat-sifat dan perilaku yang merusak kebersihan
hati.
Setidaknya ada tiga penyakit hati yang amat berbahaya. Yang pertama adalah
takabur (sombong). Penyakit takabur berasal dari perasaan "lebih". Lebih
pintar, lebih hebat, lebih kaya, lebih terhormat, lebih tinggi jabatan, dan
seterusnya. Padahal tidak ada setitik debupun hak manusia untuk sombong dan
merasa lebih.
Semua berasal dari nenek moyang yang sama, yakni Adam dan Hawa. Semua kita juga
berasal dari bahan baku yang sama, yakni pertemuan spermatozoa dengan sel telur.
Ketika lahir ke dunia, semua kita dalam kondisi yang sama yakni bodoh, lemah
dan tidak punya apa-apa. Kita bodoh lantaran tidak tahu apa-apa, termasuk diri
sendiri maupun orangtua. Yang kita tahu hanya menangis. Kita menjadi pintar dan
berilmu, lantaran Tuhan berkenanmemberikan ilmunNya kepada kita.
Kita lemah karena tak mampu berbuat apa-apa. Termasuk mengurus dan menolong
diri sendiri. Makan, minum, buang air, membersihkan diri, semuanya ditolong
oleh orang lain. Kita menjadi kuat lantaran Tuhan mengaruniai kita udara yang
bersih, makanan dan minuman yang lezat dan bergizi tinggi, seperti ASI, daging,
air dan sebagainya. Dengan itu Tuhan menjadikan kita sehat dan kuat, karena DIa
Maha Gagah dan Maha Kuat.
Kita miskin, sebab setiap kita lahir dalam keadaan telanjang tanpa punya
sehelai benangpun. Apalagi yang lebih dari itu. Kita jadi berpunya dan kaya
lantaran Tuhan menganugerahkan rezeki yang berlimpah. Bukankah Tuhan
satu-satunya yang Maha Pemberi Rezeki.
Tuhan amat murka kepada orang yang sombong dan takabbur. Ingatlah kisah
terusirnya iblis dari surga lantaran sombong dan takabbur. Ia menolak perintah
Tuhan menghormat Adam. Iblis merasa lebih mulia lantaran ia diciptakan dari api
yang menyala, sedangkan Adam diciptatan dari tanah lempung yang hitam. Iblis
juga merasa lebih senior karena diciptakan lebih dulu dari Adam. Pendeknya,
kesombongan iblis bermula dari perasaan "lebih".
Dalam konteks kerja, sikap sombong dan merasa "lebih" akan menjauhkan orang
dari sisi kita. Orang tidak ingin berteman, karena selalu merasa dilecehkan dan
direndahkan. Padahal setiap orang ingin dihargai dan dihormati, dan tidak suka
dilecehkan dan direndahkan.
Penyakit hati kedu yang amat berbahaya adalah iri hati dan dengki. Membiarkan
penyakit iri hati dan dengki bersemayam dalam hati, sama artinya dengan
menghancurkan diri sendiri. Di dunia hidup menjadi resah dan gelisah, sedangkan
di akhirat mendapat azab yang amat pedih. Karena itu cegah penyakit iri dan
dengki dengan selalu mengikhlaskan niat hanya untuk Tuhan semata. denganbegitu
kita akan tetap bahagia dalam situasi dan kondisi apapun.
Jika mendapat nikmat dan sesuatu yang menyenangkan kita bersyukur. Caranya
dengan menggunakan nikmat yang kita terima itu untuk menambah amal shaleh dan
kebajikan. Namun jika kenyataan tak seperti yang kita harapkan, kita bersabar,
karena dibaliknya pasti terdapat sejumlah kebaikan. Syukur dan sabar adalah
kunci untuk sukses menjalani hidup, termasuk dalam dunia kerja.
Penyakit yang ketiga adalah riya (ingin dilihat dan dipuji orang). Penyakit ini
akan membuat orang yang mengidapnya selalu dalam kelelahan dan kerisauan. Lelah
karena hidupnya hanya untuk mendapat pujian orang, padahal jumlah manusia
demikian banyak dengan berbagai orientasinya masing-masing. Risau karena
faktanya tidak semua orang mau memujinya, malah mungkin mengejeknya.
Dalam hidup keseharian, riya juga membuat orang lain sebal. Sebab, ketika
seseorang ingin dipuji, pada saat yang sama sebenarnya ia merendahkan orang
lain. sedangkan setiap orang tidak ingin direndahkan.
2. Berpikir jernih ( akan di urai pada tulisan berikutnya ).
Semoga bermanfaat.
Salam IHSAN
Ridwan Fadil
REKSA LEADERSHIP CENTRE
081317212141
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/