Kurban Marmut
Mbah Kemi
Oleh: Joko W
Berkurban bukan hak eksklusif orang kaya saja, tetapi disunnahkan bagi
muslim yang mampu. Hadits Nabi, Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk
menyembelih kurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah. (HR. At-
Tirmidzi). Ternyata, tolok ukur kemampuan bukan hanya kelimpahan materi.
Laki-laki uzur itu bernama Muhammad Sukemi (86), biasa dipanggil Mbah Kemi.
Sebatang kara, Mbah Kemi tinggal di sebuah gubuk bambu berukuran 4x4 m2 di
dusun Kembang Kuning, Windusari, Magelang, Jawa Tengah. Gubuk itu dibuatkan
warga di jalur hijau jalan desa, beratap genting berdinding bilik.
Saya sampai di sini karena ikut Jepang membuat jalan. Rumah dan pekarangan
di kampung halaman sudah dijual, kenang Mbah Kemi. Dia bertutur, sudah
tigapuluh tahun lebih istrinya hijrah ke Kalimantan, mengikuti putri
semata wayang mengadu peruntungan dirantau. Alamatnya tidak jelas, tapi saya
dengar kabar, istri saya sudah meninggal lima tahun lalu, tutur
jompo yang masih segar-bugar itu. Jadilah Mbah Kemi sebatang kara. Untuk
mengisi hari, Mbah Kemi rajin mengikuti pengajian walau harus berjalan kaki
puluhan kilometer ke tetangga desa. Selain getol menyerap ilmu agama, snack
pengajian dibawanya pulang untuk menangsal perut. Satu kardus snack
bisa mengganjal lapar sampai tiga hari. Simbah pecandu kitab kuning. Aneka
kitab klasik menjadi koleksi pribadinya. Kalau ada yang ngasih sedekah, saya
selalu tabung untuk beli kitab, tutur Nbah Kemi. Simbah percaya, menuntut
ilmu wajib bagi nuslim, dari mbrojot (lahir) sampai mati, harus terus
ngaji, kata dia menyitir sebuah hadits.
Jadi, dalam kesahajaan hidup, tak ada kekhawatiran singgah di hati.
Hari-harinya penuh kebahagiaan dan semangat mengaji yang meluap-luap. Urusan
perut sama sekali bukan prioritas Mbah Kemi. Sepiring nasi pemberian Bu Carik,
dimakannya sedikit demi sedikit berlauk sepotong gorengan. Nasi itu bertahan
empat hari, dirubung lalat, lumer, dan bau asam menyengat. Tapi di lidah
Simbah, rizki selalu nikmat. Dan dia tidak pernah sakit perut karenanya.
Di gubugnya yang sempit, Mbah Kemi mesti berbagi ruang dengan seorang pria
jompo kurang waras yang tak jelas asal-usulnya. Rumahnya pun disekat bilik
yang saban malam bilah-bilah bambunya kerap dilolosi Mbah Suhli, kakek
majnun itu untuk membuat unggun, berdiang mengusir dingin. Selain si Kakek
Majnun, Mbah Kemi mesti berbagi ruang dengan seekor ayam betina yang sedang
mengeram dan dua ekor kambing jawa. Dulu saya dikasih uang, tak tabung lalu
dibelikan ayam dan marmut (sejenis hamster) sepasang. Marmutnya beranak 23
ekor, jantannya cuma satu. Cucunya tidak kehitung banyaknya,
kalau saya jalan sampai harus menyingkirkan marmut-marmut itu dari lantai
biar tidak terinjak,celoteh Mbah Kemi.Marmut dan ayam lalu dijual, dibelikan
dua
ekor anak kambing. Nanti kalau saya mati, kambingnya biar dipotong
orang-orang buat mereka yang ngurusi jenasah saya, Mbah Kemi mengutarakan
niatnya. Tapi karena ditunggutunggu maut tak kunjung menjemput, Simbah
mengubah niat, Kambingnya sudah besar, sebentar lagi Iedul Adha, jadi nanti
dipotong buat kurban saja. Sebenarnya Simbah ingin pergi haji,
Kalau tidak bisa ke Mekah, ya motong hewan kurban saja dulu. Subhanallah!
(A)