FAKTOR PEMBENTUK INTEGRITAS (Poin 4)


Integritas diri seseorang dapat terbentuk bila memiliki beberapa faktor, antara 
lain ; niat yang lurus, pikiran jernih dan  bicara benar, faktor berikutnya 
adalah :

4. Sikap dan perilaku terpuji

Kita tidak bisa menilai hati dan pikiran seseorang, sebab keduanya berada dalam 
wilayah yang abstrak. "Dalamnya laut bisa diselami, dalamnya hati siapa tahu",  
begitu bunyi sebuah syair. Demikian pula halnya dengan apa yang berkecamuk  
dalam otak seseorang, hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa 
menilai apa yang nampak dan kelihatan. Karenanya selain dari ucapannya 
integritas seseorang dapat dinilai dari sikap dan tindakannya. Jika caranya 
bersikap dan bertindak sesuai dengan yang dikatakannya, berarti orang
 tersebut memiliki integritas yang tinggi. Dengan kata lain, orang yang 
memiliki integritas
 pasti mempunyai sikap yang terpuji dan perilaku yang dapat diteladani. Dalam 
bahasa agama disebut akhlakul karimah (akhlak yang mulia).

Karakter seperti itulah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sebagaimana 
ditegaskan dalam firman Allah SWT: 

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti agung" (QS Al 
Qalam/68:4). 


Firman Tuhan di atas bermakna ganda. Pertama, sebagai pujian atas keagungan 
akhlak beliau. Kedua, sebagai penjelasan kenapa beliau yang diangkat sebagai 
Rasul, bukan banyak laki-laki lain dimasa itu. Risalah Tauhid yang harus 
diemban Rasulullah adalah amanat yang teramat besar, sehingga memerlukan orang 
dengan karakter dan sifat-sifat mulia pula. Jika tidak, tentu misi tersebut 
tidak akan dapat ditunaikan dengan baik. Karenanya, para rasul itu haruslah 
orang-orang terpilih diantara orang-orang pilihan (Al mustofa al akhyar).

Sejarah mencatat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW itu sudah nampak sejak kecil, 
jauh sebelum beluau dingkat menjadi Rasul. Orang-orang Arab Quraisy memberinya 
gelar Al-Amin (orang yang terpercaya). Kemuliaan akhlak ini pula yang menjadi 
kunci sukses beliau saat berniaga ke Syam (Sekarang Damaskus) bersama pamannya 
Abu Thalib, maupun ketika membawa barang dagangan milik Siti Khadijah. Begitu 
legendarisnya keluhuran akhlak beliau, sehingga belau menjadi standar harga di 
sana. Para pedagang belum akan menetapkan harga gandum (baik basah atau kering) 
sebelum beliau datang. Dan ketika beliau menetapkan harga, semua pedagang 
mengikutinya. Tak heran jika para saudagar Quraisy berebut memintanya membawa 
dagangan mereka ke Syam, sebab kafilah dagang yang dipimpin beliau selalu 
sukses dan membawa keuntungan yang besar. Tapi beliau lebih suka membawa 
dagangan pamannya atau membawa dagangan Siti Khadijah, seorang Saudagar wanita 
yang terkenal jujur, santun, dermawan
 dan berakhlak mulia, yang dikemudian hari menjadi istri beliau.

Kemuliaan akhlak adalah kata kunci kesuksesan Rasulullah SAW. Maka tak heran 
jika ia menjadi salah satu misi utama dakwah beliau, seperti sabdanya;

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia". Bahkan 
sedemikian pentingnya arti sikap terpuji dan akhlak yang mulia itu, sehingga 
beliau bersabda; "Sesempurna-sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang paling 
mulia akhlaknya" (H.R Tirmidzi).


Kesuksesan Nabi SAW cukup menjadi bukti betapa akhlak mulia (didalamnya ada 
sikap terpuji) adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin 
sukses dalam hidup. Termasuk dalam bekerja dan berbisnis. Dengan akhlak yang 
mulia kepercayaan akan terbangun, ketenangan akan tumbuh. Pada gilirannya, 
relasi akan semakin bertambah dan interaksi semakin terjalin. Buahnya bisnispun 
akan semakin menguntungkan.

Semoga bermanfaat.

Sessi tulisan berikutnya akan menguraikan tentang faktor pembentuk integritas 
ke 5; "Keteladanan".

Salam IHSAN


Ridwan Fadil
REKSA LEADERSHIP CENTRE
081317212141






      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke