Berpelukan Dengan Pohon Durian           
  Date: Tue, 22 Feb 2005 20:22:56 -0800 (PST)
From: < [EMAIL PROTECTED] >
Subject: Berpelukan dengan pohon durian
   
   
                            
   "Pagi itu saya sedang beberesih dan bebenah rumah’ tutur Ibu Sapiah. 
  ‘…tiba tiba saya mendengar  suara keras sekali seperti  ledakan bom dan 
diikuti dengan goncangan keras.’  Ibu Sapiah berteriak memanggil kedua anaknya
   
   
  " Ya Allah naak ini kiamat..kiamat " sambil berlari keluar. Semua orang panik 
dan ketakutan..tak lama kemudian air bah datang, semua orang teriak teriak:
   
   
  ' Air...air..air..!!! Naak  sini naak ini kiamat, ini kiamat...' 
  Lalu ia mencari anak anaknya. Yultisa usia 10 yang paling besar sudah 
melarikan diri kegunung. Si Ibu  mengajak  kedua anaknya yang kecil untuk lari 
kegunung. Syahril sudah lari pula kebukit dengan cepatnya. Ibu Sapiah  memegang 
erat anaknya yang kecil, namun apa daya… sang ombak Tsunami tiba tiba memampas 
anaknya Yuliana, memisahkan mereka. Terlepas. Ibu Sapiah panik dan berteriak..
   
   
  ' Pa. ..pa anakku lepas, anakku lepas....' setengah histeris. Mereka suami 
istri berupaya menyelamatkan diri berlari kearah gunung. Mata mereka  seakan 
berkunang kunang, tak tahu apa yang bisa mereka lihat kecuali warna kelabu 
kelam dengan suara gemuruh yang begitu menakutkan.
   
   
   'Piaaah..daaah biarin anak kita hilang. Selamatkan dirimu, cepat lari !' 
ujar suaminya, keras sekali.
   
   
  ‘Saya sudah tidak tahu apa yang terjadi sama diri saya dan saya tetap mencari 
anak saya, Yuliana.  Saya ingat, saya di tergulung dengan ombak tapi sekali 
saja lalu dihempas kedarat. Kayanya 2 atau tiga kali ombak Tsunami terjadi, 
saya nggak ingat bu. Waktu lemparan pertama saya setengah terhempas  
kepinggiran lalu saya berenang, tiba-tiba saya lihat ada  anak kecil terapung, 
lalu saya berfikir ' Ehh..ini anak siapa ini, kasihan amat, lalu  saya ambil 
dan saya gendong...oh..ternyata anak saya sendiri, ya Allah anakku…! oh saya 
seneng sekali.
   
   
  ' Ibuu Yul jangan dilepas lagi..uuuuhhh ' Yul menangis sekuat tenaga lalu 
saya gendong, Yul pegangan dipundak saya, lalu mencoba berenang ke daratan. 
Tiba tiba saya terlempar lagi kearah bukit, tapi tidak terbawa  oleh sang 
ombak, pas terdampar dipohon durian.Karena saya takut tersambar lagi saya 
manjat sekuat tenaga. Kepohon itu. Betul saja, saya melihat air datang lagi 
mengejar kami, sayapun naik dan terus memanjat sang pohon..’ tutur bu Sapiah 
diringi air mata, mengenang perjuangan untuk menyelamatkan dirinya.
   
   
  “Saya melihat air besar datang lagi saya pegangan erat dengan pohon yang 
besar dan kasar itu..’ ia mengulangnya, dengan rasa bersyukur.” Naah sesudah 
air tidak datang lagi dan saya yakin sudah aman saya melihat kebawah dan air 
surut dan nampak tenang, barulah kami turun.
   
   
  “Entah bagaimana kami bias memanjat  pohon durian yang besar itu, padahal 
saya tidak pernah bisa manjat pohon. Pohon durian itu besar batangnya dan 
kasar….dengan pertolongan Allah kami bisa turun kebawah lalu kami mendaki 
gunung”.  Bu menyatkan rasa syukurnya akan kebesaran Allah.
   
   
  “Kami duduk meratapi dan memikirkan kiamat yang begitu cepat...lalu saya 
teriak teriak memanggil anak saya Yulrisa dan Syahril, mereka  mendengar suara 
saya…mereka datang  mendekat, kami bertangisan dan berpelukan. Badan dan baju 
kami penuh lumpur. Ombak Tsunami membawa lumpur warna abu-abu kecoklatan dan 
baunya uuuh  tidak sedap, namun kami bersabar saja", tambahnya lagi.
   
   
  “ Itu bener-benera kiamat bu, walaupun kecil’ ia meyakinkan saya. “Digunung 
kami diam beberapa jam lalu kami mencari kelapa yang ada, anak saya Syahril 
memecahkannya lalu kami minum airnya. Dengan susah payah kami pecahkan si 
kelapa dan kami makan dagingnya, ya alhamdulillah kami bertahan hidup beberapa 
hari dibukit dengan kelapa”.
   
   
  Turun kedarat 
  ‘Kami tidak mendapat pertolongan dan tidak ada yang memberi tahu harus 
kemana, jangankan  yang menjemput. Akhirnya kami turun kedaratan mencari jalan 
ketempat yang aman. Susah sekali karena kami tidak pake sepatu atau sandal…wah 
ngeri sekali,  kami berjalan sekitar 2- 3 kilometer, syukurlah akhirnya kami 
tiba di kantor kecamatan dan alhamdulillah saya dan keluarga lainnya menempati 
tenda ini bu....’ ibu Sapiah mengakhiri  pengalamannya yang dahsyat itu, sambil 
menyilahkan saya untuk masuk kedalam tendanya.
   
   
  Saya berpura-pura menerma undanganya,masuk kedalam tenda, membongkok dan 
menggenggami uang sebesar limapuluh ribu untuk menutupi kebutuhan sehari hari 
mereka. Lalu saya pamit untuk berkunjung ke tenda-tenda lainnya. Mereka melepas 
kami, relawan dengan rasa bungah akan perhatian dan kunjungan kami.
   
   
  Diceritakan oleh ibu Sapiah dan suaminya pak  Zainal Abidin usiaa 45, ditenda 
berwarna biru, dihalaman kantor Kecamatan Lhoong pada awal Februari 2005. (Al 
Shahida)
   
   
  London, 26 Desember 2007
   
   
   
  * Puluhan cerita yang saya dapatkan dari para survivors, ketika berkunjung ke 
Aceh pada pekan ketiga Jan.2005. Ini saya dapatka dari box draft yang awalnya 
akan saya kirimkan ke milis2, entah bagaimana si cerita masih terperam di  file 
draft ini. moga bermanfaat sebagai satu peringatan.
   




       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke