Dari Kesederhanaan Semua Bermula............... Tidak ada kesibukan apa-apa pagi itu, sama seperti pagi-pagi yang lain. Orang tua lalu lalang pulang pergi mengantar anak-anaknya tercinta menuju sekolah. Ada beberapa bapak-bapak sedang berbincang agak serius di depan rumah yang mungil, cukup asri dan sederhana. Luasnya kurang lebih 250m persegi. Tidak ada tanda bendera kuning dipasang, sebagaimana biasa jika ada seseorang meninggal ada beberapa orang yang berniat memasangnya, namun urung karena dikhawatirkan orang mengira jenazah disemayamkan di rumah mungil tersebut.
Mari kita longok sedikit ke dalam rumah..... Kurang lebih ada 4 kamar sebagai ruang tidur, satu ruang tamu yang merangkap ruang keluarga nampaknya. 2 ruang tidur tidak ada kasur sebagaimana ruang tidur pada umumnya, tetapi diisi dengan rak-rak buku dengan koleksi buku-buku yang lumayan banyak dan sebagian besar berbahasa Arab. Setiap kita yang melihatnya mungkin langsung akan menduga sang empunya rumah adalah orang yang gemar membaca buku dan cinta akan ilmu. Mari kita lihat sekeliling rumah, tidak ada satupun pendingin ruangan (AC), tidak ada barang-barang mewah sebagaimana rumah-rumah orang kaya yang pernah saya lihat, terkesan sempit karena mungkin dengan tanah yang cuma 250 m persegi, sang empunya menginginkan rumah ini benar-benar dapat menjadi tempat berlindung dari cuaca selama di dunia ini (yang sementara), bukan untuk menampilkan prestise atau kebanggaan duniawi. Pagi itu suasana sama seperti hari-hari kemarin tidak ada kesibukan, kecuali beberapa orang yang berkerumun di depan rumah mungil. Pagi itu suasana sama seperti kemarin tidak ada kesibukan, kecuali hati kami yang berduka, karena telah di tinggal, oleh ibu yang sederhana, yang selalu berpakaian sama seperti wanita masyarakat umumnya, tidak akan ada orang yang menduga bahwa ia adalah istri salah satu petinggi negara. Seorang teman bertutur, ia pernah melihat ibu sederhana ini turun dari angkot kwk K-02 dan berjalan menuju rumah mungilnya, ketika ditanya, "Saya senang kalau naik angkot, pasar pondokgede ke jalan ayat jati makmur, kan jaraknya tidak jauh". Selamat jalan ibu, semoga Inayah, Ruzaina, Ala dan Hubaib menjadi ana yang sholeh dan sholehah yang dapat mendo'akan ibunya, yang dapat menghantarkan ibu menuju syurgaNya Allah Rabbil Izzati. Selamat Jalan Ibu Kastian Indriawati, semoga kesederhanaan ibu adalah buah dari pemahaman ibu kepada istri-istri Rasulullah. Semoga semua wanita muslimah dapat mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. aamiiin.
