Assalamualaikum

Saya penggemar baca buku dan komik juga. Krn dulu gak berduit, jadi
bacanya di toko buku sambil diusir2 ama penjaga. Juga penggemar film
kartun sampai sekarang. Hanya saya tidak pernah dilarang melakukan semua
itu, mungkin dulu masih kategori aman ya utk dikonsumsi anak2. Senangnya
hayalan dan imajinatif saya pada saat itu berkembang dan senang sekali
meniru tokoh2 yg menurut saya asik utk ditiru. Dari soal cara makan,
gaya bahasa, gaya baju, kesukaan, semuanya. Orang tua juga gak protes,
mungkin krn dilihatnya masih normal anak2.

 

Sekarang jika saya melihat kartun jepang dan lain2, juga jauh lebih
seru. Dan sering rebutan nonton dengan anak2 walaupun udah berkali2
ditayangkan tetap enak utk ditonton. Yg repot, yg saya rasakan adalah
ternyata banyak juga dalam kartun itu yg dikuatirkan bisa membawa efek
negatif, seperti beberapa adegan di naruto, juga adegan percintaan di
kartun lain. Ini yg suka buat saya deg-degan. Anak2 itu seperti kertas
putih dan akan merekam apapun yg ada didepannya. Melarang mereka
menonton pun, saya merasa kurang efektif. Saya lebih suka pembatasan
Bayangkan.. lingkungan sekolahnya membicarakan naruto, X samurai de el
el, mereka tidak tahu pun akan repot ke mereka juga dan mungkin saja
tanpa sepengetahuan kita mereka menonton dan mengartikan semau mereka
krn penasaran. Itu baru SD, saya lebih deg-degan lagi ngebayangin kalau
anaknya sudah ABG, SMP dan SMA, atau univ ??? aduuhhh... gak mungkin kan
saya pelototin mereka 24 jam ? siapa yg akan menjaga mereka di belakang
kita ? dikala kita tidak lihat ? atau yakin mereka tidak akan salah
mengartikan semua adegan yg mereka lihat. Jadi inget smack down yg
dipraktekan anak2 SD. Gak kebayang tau2 mereka pake pisau dapur ngejar2
orang hanya gara2 pengen dianggap seperti salah satu adegan di naruto yg
pernah saya lihat bareng anak2. Duuh.. deg2an bener.

 

Sharing dong dengan miliser yg punya anak2 yg hobi nonton kartun,
sinetron, atau internet, bagaimana cara pengawasan dan edukasi yg
efektif kepada mereka. 

 

Yang saya lakukan sekarang ini adalah ikutan menemani menonton utk
kartun tertentu dan ikutan berkomentar jika ada adegan yg "kurang" dan
saya kaitkan dg agama. Serta pada jam shalat stop menonton. Tapi cukup
tidak ya ?

 

Yg ingin saya tahu, bagaimana cara edukasi agama sebagai benteng bagi
mereka jika mereka bertemu dgn sesuatu yg buruk dan mereka mampu untuk
berkata TIDAK. Saya ingat di pendidikan SD di amerika anak2 didoktrin
berkata TIDAK utk drugs dengan melakukan simulasi, mengundang polisi.
Jadi mereka mengerti dari awal TIDAK untuk drugs (walaupun banyak juga
yg gagal ya). Juga ingin teman2 sharing cara mendidik anaknya seperti
bagaimana.  Maklum saya pemula sebagai orang tua.

 

Terima kasih sebelumnya

 

Wassalam

Dwi

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of annisa_fpb
Sent: Tuesday, January 22, 2008 6:00 PM
To: [email protected]
Subject: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak
ya ? (sambungan diskusi Naruto

 

Wa'alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh

wah sepertinya enak ya pada bisa baca komik.
Ana pernah baca komik itu beberapa bulan saja. 

Ibu yang menjaga perpus melarang saya membaca komik. Namanya anak kan
penurut, jadi ya saya pilih buku lain saja, buku yang sangat sukai di
perpus adalah ensiklopedi tentang sains, ternyata dunia ini luas dan
"kaya".

Sebetulnya lakon-lakon di pewayangan itu, dibuat oleh walisongo untuk
menyebarkan Islam. Mereka cerdas sekali lho !, karena di sana ada
konsep membentengi diri dari pengaruh kristenisasi pula. Ini
dikisahkan saat ada Gatotkaca palsu yang akan mencuri jimat kalimasada. 

Syukron jaziilan
Wasslamu'alaikum warohmatullohiwabarokatuh

--- In [email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com>
, "Hendro Rosardi" 

<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alaikum.
> 
> 
> 
> Mau nimbrung sikit nich..
> 
> Saya sendiri sampai sekarang masih menjadi penggemar film kartun
ataupun
> bacaanya, baik itu berupa komik ataupun novel.
> 
> 
> 
> Zaman sewaktu masih kecil saya juga pernah membaca komik tokoh super
hero
> asli Indonesia namanya Nusantara, selain yang disampaikan saudara
Ahmad
> 
> Sekuel ceritanyapun cukup bagus. dan bisa jadi panutan.
> 
> Masih banyak lagi komik atau novel lainnya...
> 
> 
> 
> Sayangnnya saat ini, saya belum menemukan komik2 (asli Indonesia)
yang bisa
> menyaingi manga yang diterbitkan elex media
> 
> Juga termasuk film2 kartun yang menarik seperti dragon ball, conan
dll. 
> 
> Saya mengharapkan komik2 indonesia bisa bangkit seperti novel2 islam
yang
> sudah mulai jadi best seller seperti Novel Ayat2 Cinta dsb.
> 
> Semoga juga para pnerbit mau menerbitkan komik2 Indonesia dengan
format yang
> bagus seperti punya elex media
> 
> 
> 
> Sebenarnya kebanyakan kartun cukup bagus... Cuma memang anak2 harus
diberi
> pengertian dan bimbingan selama menyaksikan film2 tersebut
> 
> Agar tidak 100 % meniru tokoh idolanya. Ambillah yang baik dan jagan
tiru
> yang tidak baik.
> 
> 
> 
> Wasssalam
> 
> Hendro
> 
> 
> 
> _____ 
> 
> From: [email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com>
[mailto:[email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com>
] On
> Behalf Of Ahmad Sopiani
> Sent: Tuesday, January 22, 2008 10:06 AM
> To: [email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com> 
> Subject: RE: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia
ndak ya ?
> (sambungan diskusi Naruto)
> 
> 
> 
> Assalamu'alaikum..
> 
> 
> 
> Waah, luar biasa !! seru sekali diskusinya, seseru avatar, naruto,
dragon
> ball, atau hunterXhunter, dan samuraiX atau doctor SLUMP dan Arale
yang cute
> juga Shincan yang ngeyel...
> 
> Kalau bicara kartun dan animasi, rasanya sedikit sekali orang yang
tidak
> suka, rata-rata punya satu tokoh yang diingat dan mencoba
mencitrakan diri
> sepertinya. Misalnya saya selalu ingin mencitrakan diri seperti Son
Go Ku
> dalam Dragon Ball; yang kuat, selalu giat berlatih, pantang menyerah,
> menjaga persahabatan, selalu menolong dan melindungi, tidak punya niat
> jahat, menang tidak sombong, kalah tidak sakit hati dan dendam, malah
> menjadi motivasi untuk lebih maju, kekalahan dijadikan dorongan
untuk bisa
> lebih baik lagi. Son Go Ku juga selalu berusaha "save the world"
dengan
> segenap kesungguhan dan kemampuan yang ada padanya. Kadang juga saya
> mencitrakan diri seperti SBDGH Barda Mandrawata, yang kalem, tenang,
sangat
> peka, namun suka menolong dengan segala keterbatasannya, juga tentu
saja
> bisa berkelana ke mana suka.
> 
> 
> 
> Karakter Asli Indonesia, sesungguhnya banyak sekali yang bisa diangkat
> dengan tema sentral membela keadilan dan kebenaran, hanya saja,
apakah itu
> cukup menantang bagi animator-animator tanah air dan penyandang dana
serta
> media/jurnalis untuk mengangkatnya ke sebuah film animasi panjang
dan lama.
> Yang sudah di sebutkan, macam SBDGH dan monyet kecilnya, itu serinya
banyak
> sekali dan pernah sukses diangkat ke sinetron, sangat mungkin juga
untuk
> suskses jika diangkat ke animasi.. Belum lagi tokoh lain seumpama
GUNDALA
> Putera Petir, GODAM, MAZA, atau DENI Manusia Ikan. Kalau perlu
angkat juga
> kisah-kisah kocak PET-GAR yang juga punya tokoh pembela keadilan super
> bernama SUPERPET dari Karang Tumaritis. Kalau mau yang baru dan agak
kocak,
> bisa angkat Si Lender karya P-Project yang entah mengapa saya tidak
temukan
> lanjutannya setelah jilid dua.... (Kang Deni and kang Daan
P-Project, please
> answer me about Si Lender, atau ada kawan2 yang kenal dengan
P-Project,
> tolong bilang agar Si Lender dilanjutkan).
> 
> 
> 
> Dari Cerita Rakyat jauh lebih banyak dan lebih kaya lagi, saya
kadang-kadang
> melihat satu-dua cerita rakyat yang dianimasikan dalam bentuk VCD,
tetapi
> tidak cukup "berdaya jual" untuk menghidupi animatornya. Kalau mau
serius,
> ADBM (Api Di Bukit Menoreh) dengan tokoh Agung Sedayu atau NSSI
(Naga Sasra
> Sabuk Inten) dengan Mahesa Jenar nya yang durasinya sangat panjang
bisa jadi
> serial laga yang mendidik. Masalahnya, siapkah para animator,
penyandang
> dana, dan media untuk itu.
> 
> 
> 
> Jadi persoalannya bukan kekurangan karakter yang bisa diangkat, tetapi
> faktor pendukungnya yang nyaris tidak ada. Mungkin pertimbangan daya
jual
> yang rendah sehingga tidak bisa mencukupi untuk nafkah sehari-hari
atau
> secara kapitalistik kurang bernilai... entahlah... yang jelas saya
pencinta
> komik dan kartun meski tidak bisa menggambar dan akan sangat bangga
dan
> terharu jika komik Indonesia asli bisa kembali jadi raja di tanah air
> seperti tahun 80-an dan bisa diangkat ke animasi menggantikan
animasi impor
> bernilai budaya asing. Jangan sampai kita menjadi orang asing di
negeri
> sendiri.
> 
> 
> 
> Wassalamu'alaikum.
> 
> 
> 
> _____ 
> 
> From: [email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com>
[mailto:[email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com>
] On
> Behalf Of Reza Ervani
> Sent: Monday, January 21, 2008 2:38 PM
> To: [email protected] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com> 
> Subject: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya
?
> (sambungan diskusi Naruto)
> 
> 
> 
> Assalamu alaikum, 
> Nyambung diskusi tentang Naruto.
> Saya jadi bertanya-tanya, ada nggak ya karakter tokoh fiksi yang 
> bener-bener asli Indonesia dan pantas untuk diceritakan ke anak didik 
> atau anak kandung kita ?
> 
> Dulu waktu SD-SMP-SMA ada beberapa buku yang akrab dengan penulis. 
> Misalnya Wiro Sableng, Dewa Arak, Pendekar Rajawali Sakti, Gatotkaca 
> yang memang ditulis oleh penulis asli Indonesia. Apakah tokoh-tokoh 
> ini lebih baik untuk diberikan kepada anak didik dibandingkan tokoh-
> tokoh asing semacam Avatar Aang dan Naruto ?
> 
> Waktu kecil pula penulis mulai membaca buku-buku karya Asmaraman Kho
Ping
> Hoo yang ceritanya panjang-panjang. Ada kemiripan antara
cerita-cerita silat
> Kho Ping Hoo dengan cerita-cerita anima dan manga yang ada di TV-TV
saat
> ini. Bagaimana pula dengan ini ? Apakah ia sesuatu yang tidak boleh
> dikonsumsi pula oleh anak usia dini ?
> 
> Selain itu ada pula buku-buku Hans Christian Anderson yang juga akrab 
> dengan masa kecil kami, yang rela bersepeda ke perpustakaan setempat. 
> Belakangan baru penulis dapati bahwa ternyata buku-buku HCA ada 
> refleksi dari kehidupan pribadi HCA yang tersingkirkan dari kehidupan 
> sosial. Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh dalam dongeng-dongeng HCA 
> mewakili karakter terasingkan, seperti Ugly Duck (Bebek Buruk Rupa) 
> Thumbelina. Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa dongeng-dongeng 
> HCA terlalu sadis untuk dikonsumsi anak-anak. Bagaimana pendapat 
> anda ?
> 
> Selain itu ada buku-buku favorit lain masa kecil seperti TINTIN, 
> Asterix, SMURF, Tiger Wong, Pukulan Geledek dll.
> 
> Alhamdulillah, ketika masih sangat kecil pula, penulis mulai membaca 
> buku-buku sastra lokal seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, 
> Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (HAMKA), Salah Asuhan, Siti Nurbaya 
> (Marah Rusli) dan lain-lain. Ada pula fiksi asing yang diterjemahkan 
> seperti MUSASHI dan buku-buku dari SIDNEY SHELDON.
> 
> O ya, yang juga jadi favorit waktu itu adalah kisah-kisah Kang Poirot-
> nya Agatha Christie, juga Sherlock Holmes-nya Conan Doyle. Hmmm, 
> masuk juga dalam daftar Lima Sekawan, Tiga Serangkai (yang waktu itu 
> menginspirasi kami ketika kelas 3 SD untuk membuat klub detektif 
> cilik)
> 
> Kesimpulannya, perlukah kita membatasi bacaan anak-anak kita ? Atau 
> biarkan mereka membaca semuanya ? Lalu ajak ngobrol asyik tentang 
> bacaan-bacaan itu. Tentu saja ortu atau gurunya juga harus gila baca.
> 
> Bagaimana pula dengan tokoh-tokoh Islam yang agak sulit menjadikannya 
> dalam bentuk komik atau animasi karena alasan-alasan fiqh.
> 
> Atau bagaimana ?
> 
> Salam,
> Reza Ervani
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:rezaervani%40yahoogroups.com>
ups.com,
> helmi purwanti <helmipurwanti@> 
> wrote:
> >
> > Assalamualaikum Wr, Wb
> > 
> > Kalau komik, di indonesia juga udah ada dari dulu, saya dulu salah 
> satu penggemar komik indonesia, dulu komik yang terkenal sih judulnya 
> Si Buta dari Gua Hantu, trs ada juga pengarang komik yang terkenal 
> namanya Yan Mintaraga, nah sekarang kayaknya komikus indonesia udah 
> pada kolaps kalah sama manga dari jepang.....kalau mau lihat2 komik 
> indonesia coba ke JL Pagar Gunung Bandung, di Komik Corner. thnx
> > Wassalam
> ++cut++
>

 

Kirim email ke