Ada tidak research untuk mencari sebab kenapa anak2 suka kartun?
Lebih specific lagi, kenapa Manga & Anime lebih disukai daripada kartun 
Amerika (Batman dkk atau Totaly Spice dkk)?
Apalagi kartun indonesia?

Saya tidak pernah research..
Tapi kalau dari sekilas saja, sudah jelas, 
Mange & Anime punya gambar yang sangat menarik.
Even Doraemon yang menurut saya tidak menarik saja, punya adya tarik 
tersendiri untuk anak-anak..

Dari sisi cerita, mungkin sama saja dengan kartun Amerika, atau mungkin 
cerita2 tradisional indonesia.
Naruto compare to Jaka Tingkir, mungkin masih lebih bagus Jaka Tingkir 
ceritanya.. :)

Yang membuat berbeda adalah gambarnya. 
Bentuk dan komposisi warnanya mempunyai daya tarik tersendiri.

IMHO, kalau kartun Indonesia mau maju, seharusnya bisa mempelajari 
karakteristik tertentu dari Manga/Anime Jepun itu..
Jadi, apakah ada di antara member ini yang profesinya sebagai kartunis?

wasalam
-dwip-




endah sriredjeki <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
01/23/2008 06:04 PM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
Bls: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya ? 
(Inspirasi)







Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Iya, memang sharing pengalamanlah yang bisa kita lakukan.
Alhamdulillah anak2 saya sudah di SMP dan ketika  saya ajak diskusi 
tentang
kekhawatiran ortu akan film2 kartun di TV, si Mbak (anakku mbarep 
perempuan)
berkomentar : 
"Ma, film kartun Naruto itu kan ada tulisannya di layar TV buat remaja, 
jadi anak2 sebaiknya tidak nonton donk. "
Si Mbak (14 th) dan adiknya (12 th) rupanya merasa sudah remaja sehingga  
layak menonton Naruto [IMAGE]
Kebetulan di rumah memang si Adek yg paling kecil, jadi mereka berdua 
menikmati sekali dan 
menunggu-nunggu jam tayang Naruto.  Sementara saya mengawasi saja dan 
sesekali berkomentar 
ketika dua bersaudara, buah hatiku ini minta pendapat.

Dunia memang berputar .....
Apa yang ditulis Adindaku Reza Ervani tentang Gatotkaca, Wirosableng, 
Musashi, sampe Shidney Sheldon bahkan Agatha Christy saya juga membaca dan 
menikmatinya.  Bahkan dulu ortu saya di Kediri berlangganan majalah Jawa 
Panyebar Semangat dan saya sangat menikmati cerita Wayang dan Alaming 
Lelembut [IMAGE]

Rasanya memang harus ada action nyata untuk menghidupkan karakter Tokoh 
Indonesia.  Kita tidak bisa melarang anak2 menonton Naruto dkk, tapi kita 
harusnya bisa menyajikan film kartun dengan kualitas yang sama namun 
dengan karakter Tokoh  Indonesia sebagai sparing partner.
Meski sudah dimulai dengan Laptop si Unyil yang dikemas lebih modern, 
rasanya itu belum cukup.
Trus bagaimana upaya membumikan Tokoh Indonesia ini ???
Perlukah kita punya semacam kumpulan sejarah masa kecil para pahlawan 
Indonesia (semacam ensiklopedia)
untuk ditularkan kepada anak-anak kita, kemudian dibuat film  kartunnya 
dengan kualitas  seperti Naruto, dkk ??? 
Perlukah penetrasi karakter Tokoh  Indonesia melalui kurikulum ???
Jika iya apakah sebaiknya sejak Pendidikan Anak Usia Dini ??? Mengingat 
daya ingat anak2 usia dini sangat kuat dan kemampuan berimajinasinya luar 
biasa.

Trus pekerjaan siapa pula ini ?
Bagaimana kalau Rumah Ilmu Indonesia juga mulai memikirkannya ?
Waduh, banyak nian pertanyaan saya.........
Memang sih bukan pekerjaan gampang, tapi kalau terbayang beberapa tahun 
mendatang
anak n cucu kita nantinya asyik cosplay dan dengan bangganya mengenakan 
kostum Cut Nya Dien, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dsb.  tidak 
hanya pada saat pawai 17 an saja, ....hmmm......rasanya  semangat 
nasionalisme akan makin kokoh terbangun. Wallahu'alam ....


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Salam hangat,


ESR





----- Pesan Asli ----
Dari: Nurul Dwi <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 23 Januari, 2008 2:03:20
Topik: RE: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak 
ya ? (sambungan diskusi Naruto

Assalamualaikum

Saya penggemar baca buku dan komik juga. Krn dulu gak berduit, jadi 
bacanya di toko buku sambil diusir2 ama penjaga. Juga penggemar film 
kartun sampai sekarang. Hanya saya tidak pernah dilarang melakukan semua 
itu, mungkin dulu masih kategori aman ya utk dikonsumsi anak2. Senangnya 
hayalan dan imajinatif saya pada saat itu berkembang dan senang sekali 
meniru tokoh2 yg menurut saya asik utk ditiru. Dari soal cara makan, gaya 
bahasa, gaya  baju, kesukaan, semuanya. Orang tua juga gak protes, mungkin 
krn dilihatnya masih normal anak2.

 

Sekarang jika saya melihat kartun jepang dan lain2, juga jauh lebih seru. 
Dan sering rebutan nonton dengan anak2 walaupun udah berkali2 ditayangkan 
tetap enak utk ditonton. Yg repot, yg saya rasakan adalah ternyata banyak 
juga dalam kartun itu yg dikuatirkan bisa membawa efek negatif, seperti 
beb era pa adegan di naruto, juga adegan percintaan di kartun lain. Ini yg 
suka buat saya deg-degan. Anak2 itu seperti kertas putih dan akan merekam 
apapun yg ada didepannya. Melarang mereka menonton pun, saya m era sa 
kurang efektif. Saya lebih suka pembatasan Bayangkan.. lingkungan 
sekolahnya membicarakan naruto, X samurai de el el, mereka tidak tahu pun 
akan repot ke mereka juga dan mungkin saja tanpa sepengetahuan kita mereka 
menonton dan mengartikan semau mereka krn penasaran. Itu baru SD, saya 
lebih deg-degan lagi ngebayangin kalau anaknya sudah ABG, SMP dan SMA, 
atau univ ??? aduuhhh? gak mungkin kan  saya pelototin mereka 24 jam ? 
siapa yg akan menjaga mereka di belakang kita ? dikala kita tidak lihat ? 
atau yakin mereka tidak akan salah mengartikan semua adegan yg mereka 
lihat. Jadi inget smack down yg dipraktekan anak2 SD. Gak kebayang tau2 
mereka pake pisau dapur ngejar2 orang hanya gara2 pengen dianggap seperti 
salah satu adegan di naruto yg pernah saya lihat bareng anak2. Duuh.. 
deg2an bener.

 

Sharing dong dengan miliser yg punya anak2 yg hobi nonton kartun, 
sinetron, atau internet, bagaimana cara pengawasan dan edukasi yg efektif 
kepada mereka. 

 

Yang saya lakukan sekarang ini adalah ikutan menemani menonton utk kartun 
tertentu dan ikutan berkomentar jika ada adegan yg ?kurang? dan saya 
kaitkan dg agama. Serta pada jam shalat stop menonton. Tapi cukup tidak ya 
?

 

Yg ingin saya tahu, bagaimana cara edukasi agama sebagai benteng bagi 
mereka jika mereka bertemu dgn sesuatu yg buruk dan mereka mampu untuk 
berkata TIDAK. Saya ingat di pendidikan SD di amerika anak2 didoktrin 
berkata TIDAK utk drugs dengan melakukan simulasi, mengundang polisi. Jadi 
mereka mengerti dari awal TIDAK untuk drugs (walaupun banyak juga yg gagal 
ya). Juga ingin teman2 sharing cara mendidik anaknya seperti bagaimana. 
 Maklum saya pemula sebagai orang tua.

 

Terima kasih sebelumnya

 

Wassalam

Dwi

 



From:[EMAIL PROTECTED] ups.com [mailto: [EMAIL PROTECTED] ups.com ] On 
Behalf Of annisa_fpb
Sent: Tuesday, January 22, 2008 6:00 PM
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Subject: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia  ndak 
ya ? (sambungan diskusi Naruto

 

Wa'alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh

wah sepertinya enak ya pada bisa baca komik.
Ana pernah baca komik itu beb era pa bulan saja. 

Ibu yang menjaga perpus melarang saya membaca komik. Namanya anak kan
penurut, jadi ya saya pilih buku lain saja, buku yang sangat sukai di
perpus adalah ensiklopedi tentang sains, ternyata dunia ini luas dan
"kaya".

Sebetulnya lakon-lakon di pewayangan itu, dibuat oleh walisongo untuk
menyebarkan Islam. Mereka cerdas sekali lho !, karena di sana ada
konsep membentengi diri dari pengaruh kristenisasi pula. Ini
dikisahkan saat ada Gatotkaca palsu yang akan mencuri jimat kalimasada. 

Syukron jaziilan
Wasslamu'alaikum warohmatullohiwabar okatuh

--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "Hendro Rosardi" 

<hendro.rosardi@ ...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum.
> 
> 
> 
> Mau nimbrung sikit nich..
> 
> Saya sendiri sampai sekarang masih menjadi penggemar film kartun ataupun
> bacaanya, baik itu berupa komik ataupun novel.
> 
> 
> 
> Zaman sewaktu masih kecil saya juga pernah membaca komik tokoh super
hero
> asli Indonesia  namanya Nusantara, selain yang disampaikan saudara Ahmad
> 
> Sekuel ceritanyapun cukup bagus. dan bisa jadi panutan.
> 
> Masih banyak lagi komik atau novel lainnya...
> 
> 
> 
> Sayangnnya saat ini, saya belum menemukan komik2 (asli Indonesia )
yang bisa
> menyaingi manga yang diterbitkan elex media
> 
> Juga termasuk film2 kartun yang menarik seperti dragon ball, conan dll. 
> 
> Saya mengharapkan komik2 indonesia  bisa bangkit seperti novel2 islam
yang
> sudah mulai jadi best seller seperti Novel Ayat2 Cinta dsb.
> 
> Semoga juga para pnerbit mau menerbitkan komik2 Indonesia dengan
format yang
> bagus seperti punya elex media
> 
> 
> 
> Sebenarnya kebanyakan kartun cukup bagus... Cuma memang anak2 harus
diberi
> pengertian dan bimbingan selama menyaksikan film2 tersebut
> 
> Agar tidak 100 % meniru tokoh idolanya. Ambillah yang baik dan jagan
tiru
> yang tidak baik.
> 
> 
> 
> Wasssalam
> 
> Hendro
> 
> 
> 
> _____ 
> 
> From: [EMAIL PROTECTED] ups.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] ups.com] 
On
> Behalf Of Ahmad Sopiani
> Sent: Tuesday, January 22, 2008 10:06 AM
> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Subject: RE: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia
ndak ya ?
> (sambungan diskusi Naruto)
> 
> 
> 
> Assalamu'alaikum. .
> 
> 
> 
> Waah, luar biasa !! seru sekali diskusinya, seseru avatar, naruto,
dragon
> ball, atau hunterXhunter, dan samuraiX atau doctor SLUMP dan Arale
yang cute
> juga Shincan yang ngeyel...
> 
> Kalau bicara kartun dan animasi, rasanya sedikit sekali orang yang tidak
> suka, rata-rata punya satu tokoh yang diingat dan mencoba
mencitrakan diri
> sepertinya. Misalnya saya selalu ingin mencitrakan diri seperti Son
Go Ku
> dalam Dragon Ball; yang kuat, selalu giat berlatih, pantang meny era h,
> menjaga persahabatan, selalu menolong dan melindungi, tidak punya niat
> jahat, menang tidak sombong, kalah tidak sakit hati dan dendam, malah
> menjadi motivasi untuk lebih maju, kekalahan dijadikan dorongan
untuk bisa
> lebih baik lagi. Son Go Ku juga selalu berusaha "save the world" dengan
> segenap kesungguhan dan kemampuan yang ada padanya. Kadang juga saya
> mencitrakan diri seperti SBDGH Barda Mandrawata, yang kalem, tenang,
sangat
> peka, namun suka menolong dengan segala keterbatasannya, juga tentu saja
> bisa berkelana ke mana suka.
> 
> 
> 
> Karakter Asli Indonesia , sesungguhnya banyak sekali yang bisa diangkat
> dengan tema sentral membela keadilan dan kebenaran, hanya saja,
apakah itu
> cukup menantang bagi animator-animator tanah air dan penyandang dana
serta
> media/jurnalis untuk mengangkatnya ke sebuah film animasi panjang
dan lama.
> Yang sudah di sebutkan, macam SBDGH dan monyet kecilnya, itu serinya
banyak
> sekali dan pernah sukses diangkat ke sinetron, sangat mungkin juga untuk
> suskses jika diangkat ke animasi.. Belum lagi tokoh lain seumpama
GUNDALA
> Put era Petir, GODAM, MAZA, atau DENI Manusia Ikan. Kalau perlu
angkat juga
> kisah-kisah kocak PET-GAR yang juga punya tokoh pembela keadilan super
> bernama SUPERPET dari Karang Tumaritis. Kalau mau yang baru dan agak
kocak,
> bisa angkat Si Lender karya P-Project yang entah mengapa saya tidak
temukan
> lanjutannya setelah jilid dua.... (Kang Deni and kang Daan
P-Project, please
> answer me about Si Lender, atau ada kawan2 yang kenal dengan P-Project,
> tolong bilang agar Si Lender dilanjutkan) .
> 
> 
> 
> Dari Cerita Rakyat jauh lebih banyak dan lebih kaya lagi, saya
kadang-kadang
> melihat satu-dua cerita rakyat yang dianimasikan dalam bentuk VCD,
tetapi
> tidak cukup "berdaya jual" untuk menghidupi animatornya. Kalau mau
serius,
> ADBM (Api Di Bukit Menoreh) dengan tokoh Agung Sedayu atau NSSI
(Naga Sasra
> Sabuk Inten) dengan Mahesa Jenar nya yang durasinya sangat panjang
bisa jadi
> serial laga yang mendidik. Masalahnya, siapkah para animator, penyandang
> dana, dan media untuk itu.
> 
> 
> 
> Jadi persoalannya bukan kekurangan karakter yang bisa diangkat, tetapi
> faktor pendukungnya yang nyaris tidak ada. Mungkin pertimbangan daya
jual
> yang rendah sehingga tidak bisa mencukupi untuk nafkah sehari-hari atau
> secara kapitalistik kurang bernilai... entahlah... yang jelas saya
pencinta
> komik dan kartun meski tidak bisa menggambar dan akan sangat bangga dan
> terharu jika komik Indonesia  asli bisa kembali jadi raja di tanah air
> seperti tahun 80-an dan bisa diangkat ke animasi menggantikan
animasi impor
> bernilai budaya asing. Jangan sampai kita menjadi orang asing di negeri
> sendiri.
> 
> 
> 
> Wassalamu'alaikum.
> 
> 
> 
> _____ 
> 
> From: [EMAIL PROTECTED] ups.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] ups.com] 
On
> Behalf Of Reza Ervani
> Sent: Monday, January 21, 2008 2:38 PM
> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Subject: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya ?
> (sambungan diskusi Naruto)
> 
> 
> 
> Assalamu alaikum, 
> Nyambung diskusi tentang Naruto.
> Saya jadi bertanya-tanya, ada nggak ya karakter tokoh fiksi yang 
> bener-bener asli Indonesia  dan pantas untuk diceritakan ke anak didik 
> atau anak kandung kita ?
> 
> Dulu waktu SD-SMP-SMA ada beb era pa buku yang akrab dengan penulis. 
> Misalnya Wiro Sableng, Dewa Arak, Pendekar Rajawali Sakti, Gatotkaca 
> yang memang ditulis oleh penulis asli Indonesia . Apakah tokoh-tokoh 
> ini lebih baik untuk diberikan kepada anak didik dibandingkan tokoh-
> tokoh asing semacam Avatar Aang dan Naruto ?
> 
> Waktu kecil pula penulis mulai membaca buku-buku karya Asmaraman Kho
Ping
> Hoo yang ceritanya panjang-panjang. Ada  kemiripan antara
cerita-cerita silat
> Kho Ping Hoo dengan cerita-cerita anima dan manga yang ada di TV-TV saat
> ini. Bagaimana pula dengan ini ? Apakah ia sesuatu yang tidak boleh
> dikonsumsi pula oleh anak usia dini ?
> 
> Selain itu ada pula buku-buku Hans Christian Anderson yang juga akrab 
> dengan masa kecil kami, yang rela bersepeda ke perpustakaan setempat. 
> Belakangan baru penulis dapati bahwa ternyata buku-buku HCA ada 
> refleksi dari kehidupan pribadi HCA yang tersingkirkan dari kehidupan 
> sosial. Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh dalam dongeng-dongeng HCA 
> mewakili karakter t era singkan, seperti Ugly Duck (Bebek Buruk Rupa) 
> Thumbelina. Beb era pa kritikus juga mengatakan bahwa dongeng-dongeng 
> HCA terlalu sadis untuk dikonsumsi anak-anak. Bagaimana pendapat 
> anda ?
> 
> Selain itu ada buku-buku favorit lain masa kecil seperti TINTIN, 
> Asterix, SMURF, Tiger Wong, Pukulan Geledek dll.
> 
> Alhamdulillah, ketika masih sangat kecil pula, penulis mulai membaca 
> buku-buku sastra lokal seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, 
> Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (HAMKA), Salah Asuhan, Siti Nurbaya 
> (Marah Rusli) dan lain-lain. Ada  pula fiksi asing yang diterjemahkan 
> seperti MUSASHI dan buku-buku dari SIDNEY SHELDON.
> 
> O ya, yang juga jadi favorit waktu itu adalah kisah-kisah Kang Poirot-
> nya Agatha Christie, juga Sherlock Holmes-nya Conan Doyle. Hmmm, 
> masuk juga dalam daftar Lima Sekawan, Tiga S era ngkai (yang waktu itu 
> menginspirasi kami ketika kelas 3 SD untuk membuat klub detektif 
> cilik)
> 
> Kesimpulannya, perlukah kita membatasi bacaan anak-anak kita ? Atau 
> biarkan mereka membaca semuanya ? Lalu ajak ngobrol asyik tentang 
> bacaan-bacaan itu. Tentu saja ortu atau gurunya juga harus gila baca.
> 
> Bagaimana pula dengan tokoh-tokoh Islam yang agak sulit menjadikannya 
> dalam bentuk komik atau animasi karena alasan-alasan fiqh.
> 
> Atau bagaimana ?
> 
> Salam,
> Reza Ervani
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:rezaervani% 40yahoogroups. com>
ups.com,
> helmi purwanti <helmipurwanti@ > 
> wrote:
> >
> > Assalamualaikum Wr, Wb
> > 
> > Kalau komik, di indonesia juga udah ada dari dulu, saya dulu salah 
> satu penggemar komik indonesia, dulu komik yang terkenal sih judulnya 
> Si Buta dari Gua Hantu, trs ada juga pengarang komik yang terkenal 
> namanya Yan Mintaraga, nah sekarang kayaknya komikus indonesia udah 
> pada kolaps kalah sama manga dari jepang.....kalau mau lihat2 komik 
> indonesia coba ke JL Pagar Gunung Bandung, di Komik Corner. thnx
> > Wassalam
> ++cut++
>





Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke