Assalamualaikum wr wb.

Waktu sma saya sering ikut lomba bikin komik..di majalah 'Animonster' terus di 
ITB juga pernah, tapi ga pernah menang tuh!hehehe..cuma sempet masuk 80 besar 
aja, waktu itu saya berusaha buat karakter gambar indonesia(seperti panji 
koming dan sawung kampret) dengan tema penyebaran islam di tanah jawa(khususnya 
sunda)... kebanyakan pesertanya itu membuat komik tipe 'manga', gak tau 
kenapa??apa karena 'Animonster' itu khusus majalah manga atau karena 
peminat-peminat komik di Indonesia lebih menyukai karakter manga...hmmm

Kalo tentang gambar dalam islam, itu masih ada perbedaan pendapat...ada yg 
berhujah, bahwa gambar yg dilarang itu adalah gambar yg menyerupai manusia pada 
umumnya begitu juga dengan boneka/patung..mangkanya dulu sunan kalijaga membuat 
tokoh wayang itu modifikasi sedemikian rupa sampai tidak menyerupai lagi bentuk 
manusia pada umumnya.

wassalam,
 
doGol d' gReat  

----- Pesan Asli ----
Dari: endah sriredjeki <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 23 Januari, 2008 6:04:19
Topik: Bls: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya ? 
(Inspirasi)









  


    
            
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Iya, memang sharing pengalamanlah yang bisa kita lakukan.
Alhamdulillah anak2 saya sudah di SMP dan ketika  saya ajak diskusi tentang
kekhawatiran ortu akan film2 kartun di TV, si Mbak (anakku mbarep perempuan)
berkomentar : 
"Ma, film kartun Naruto itu kan ada tulisannya di layar TV buat remaja, 
jadi anak2 sebaiknya tidak nonton donk. "
Si Mbak (14 th) dan adiknya (12 th) rupanya merasa sudah remaja sehingga  layak 
menonton Naruto 
Kebetulan di rumah memang si Adek yg paling kecil, jadi mereka berdua menikmati 
sekali dan 
menunggu-nunggu jam tayang Naruto.  Sementara saya mengawasi
 saja dan sesekali berkomentar 
ketika dua bersaudara, buah hatiku ini minta pendapat.

Dunia memang berputar .....
Apa yang ditulis Adindaku Reza Ervani tentang Gatotkaca, Wirosableng, Musashi, 
sampe Shidney Sheldon bahkan Agatha Christy saya juga membaca dan menikmatinya. 
 Bahkan dulu ortu saya di Kediri berlangganan majalah Jawa Panyebar Semangat 
dan saya sangat menikmati cerita Wayang dan Alaming Lelembut 

Rasanya memang harus ada action nyata untuk menghidupkan karakter Tokoh 
Indonesia.  Kita tidak bisa melarang anak2 menonton Naruto dkk, tapi kita 
harusnya bisa menyajikan film kartun dengan kualitas yang sama namun dengan 
karakter Tokoh  Indonesia sebagai sparing partner.
Meski sudah dimulai dengan Laptop si Unyil yang dikemas lebih modern, rasanya 
itu belum cukup.
Trus bagaimana upaya membumikan Tokoh Indonesia ini ???
Perlukah kita punya
 semacam kumpulan sejarah masa kecil para pahlawan Indonesia (semacam 
ensiklopedia)
untuk ditularkan kepada anak-anak kita, kemudian dibuat film  kartunnya dengan 
kualitas  seperti Naruto, dkk ??? 
Perlukah penetrasi karakter Tokoh  Indonesia melalui kurikulum ???
Jika iya apakah sebaiknya sejak Pendidikan Anak Usia Dini ??? Mengingat daya 
ingat anak2 usia dini sangat kuat dan kemampuan berimajinasinya luar biasa.

Trus pekerjaan siapa pula ini ?
Bagaimana kalau Rumah Ilmu Indonesia juga mulai memikirkannya ?
Waduh, banyak nian pertanyaan saya........ .
Memang sih bukan pekerjaan gampang, tapi kalau terbayang beberapa tahun 
mendatang
anak n cucu kita nantinya asyik cosplay dan dengan bangganya mengenakan kostum 
Cut Nya Dien, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dsb.  tidak hanya pada 
saat pawai 17 an saja, ....hmmm.... ..rasanya  semangat nasionalisme akan makin 
kokoh terbangun. Wallahu'alam
 ....


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Salam hangat,


ESR





----- Pesan Asli ----
Dari: Nurul Dwi <[EMAIL PROTECTED] net>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Terkirim: Rabu, 23 Januari, 2008 2:03:20
Topik: RE: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya ? 
(sambungan diskusi Naruto









    
            








Assalamualaikum
 

Saya penggemar baca buku dan komik juga. Krn
dulu gak berduit, jadi bacanya di toko buku sambil diusir2 ama penjaga. Juga
penggemar film kartun sampai sekarang. Hanya saya tidak pernah dilarang
melakukan semua itu, mungkin dulu masih kategori aman ya utk dikonsumsi anak2.
Senangnya hayalan dan imajinatif saya pada saat itu berkembang dan senang
sekali meniru tokoh2 yg menurut saya asik utk ditiru. Dari soal cara makan, 
gaya bahasa, gaya 
baju, kesukaan, semuanya. Orang tua juga gak protes, mungkin krn dilihatnya
masih normal anak2.
 

  
 

Sekarang jika saya melihat kartun jepang
dan lain2, juga jauh lebih seru. Dan sering rebutan nonton dengan anak2
walaupun udah berkali2 ditayangkan tetap enak utk ditonton. Yg repot, yg saya
rasakan adalah ternyata banyak juga dalam kartun itu yg dikuatirkan bisa
membawa efek negatif, seperti beb era pa
adegan di naruto, juga adegan percintaan di kartun lain. Ini yg suka buat saya
deg-degan. Anak2 itu seperti kertas putih dan akan merekam apapun yg ada
didepannya. Melarang mereka menonton pun, saya m era sa
kurang efektif. Saya lebih suka pembatasan Bayangkan.. lingkungan sekolahnya
membicarakan naruto, X samurai de el el, mereka tidak tahu pun akan repot ke
mereka juga dan mungkin saja tanpa sepengetahuan kita mereka menonton dan
mengartikan semau mereka krn penasaran. Itu baru SD, saya lebih deg-degan lagi
ngebayangin kalau anaknya sudah ABG, SMP dan SMA, atau univ ??? aduuhhh…
gak mungkin kan 
saya pelototin mereka 24 jam ? siapa yg akan menjaga mereka di belakang kita ?
dikala kita tidak lihat ? atau yakin mereka tidak akan salah mengartikan semua
adegan yg mereka lihat. Jadi inget smack down yg dipraktekan anak2 SD. Gak 
kebayang
tau2 mereka pake pisau dapur ngejar2 orang hanya gara2 pengen dianggap seperti
salah satu adegan di naruto yg pernah saya lihat bareng anak2. Duuh.. deg2an
bener.
 

  
 

Sharing dong dengan miliser yg punya anak2
yg hobi nonton kartun, sinetron, atau internet, bagaimana cara pengawasan dan
edukasi yg efektif kepada mereka. 
 

 
 

Yang saya lakukan sekarang ini adalah
ikutan menemani menonton utk kartun tertentu dan ikutan berkomentar jika ada
adegan yg “kurang” dan saya kaitkan dg agama. Serta pada jam shalat
stop menonton. Tapi cukup tidak ya ?
 

  
 

Yg ingin saya tahu, bagaimana cara edukasi
agama sebagai benteng bagi mereka jika mereka bertemu dgn sesuatu yg buruk dan
mereka mampu untuk berkata TIDAK. Saya ingat di pendidikan SD di amerika anak2
didoktrin berkata TIDAK utk drugs dengan melakukan simulasi, mengundang polisi.
Jadi mereka mengerti dari awal TIDAK untuk drugs (walaupun banyak juga yg gagal
ya). Juga ingin teman2 sharing cara mendidik anaknya seperti bagaimana.  Maklum
saya pemula sebagai orang tua.
 

  
 

Terima kasih sebelumnya
 

  
 

Wassalam
 

Dwi
 

  
 










From: [EMAIL PROTECTED] ups.com [mailto: [EMAIL PROTECTED] ups.com ] On Behalf 
Of annisa_fpb

Sent: Tuesday, January 22, 2008
6:00 PM

To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

Subject: [rezaervani] Re:
[KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia 
ndak ya ? (sambungan diskusi Naruto
 




  
 







Wa'alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh



wah sepertinya enak ya pada bisa baca komik.

Ana pernah baca komik itu beb era pa
bulan saja. 



Ibu yang menjaga perpus melarang saya membaca komik. Namanya anak kan

penurut, jadi ya saya pilih buku lain saja, buku yang sangat sukai di

perpus adalah ensiklopedi tentang sains, ternyata dunia ini luas dan

"kaya".



Sebetulnya lakon-lakon di pewayangan itu, dibuat oleh walisongo untuk

menyebarkan Islam. Mereka cerdas sekali lho !, karena di sana ada

konsep membentengi diri dari pengaruh kristenisasi pula. Ini

dikisahkan saat ada Gatotkaca palsu yang akan mencuri jimat kalimasada. 



Syukron jaziilan

Wasslamu'alaikum warohmatullohiwabar okatuh



--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com,
"Hendro Rosardi" 



<hendro.rosardi@ ...> wrote:

>

> Assalamu'alaikum.

> 

> 

> 

> Mau nimbrung sikit nich..

> 

> Saya sendiri sampai sekarang masih menjadi penggemar film kartun ataupun

> bacaanya, baik itu berupa komik ataupun novel.

> 

> 

> 

> Zaman sewaktu masih kecil saya juga pernah membaca komik tokoh super

hero

> asli Indonesia 
namanya Nusantara, selain yang disampaikan saudara Ahmad

> 

> Sekuel ceritanyapun cukup bagus. dan bisa jadi panutan.

> 

> Masih banyak lagi komik atau novel lainnya...

> 

> 

> 

> Sayangnnya saat ini, saya belum menemukan komik2 (asli Indonesia )

yang bisa

> menyaingi manga yang diterbitkan elex media

> 

> Juga termasuk film2 kartun yang menarik seperti dragon ball, conan dll. 

> 

> Saya mengharapkan komik2 indonesia 
bisa bangkit seperti novel2 islam

yang

> sudah mulai jadi best seller seperti Novel Ayat2 Cinta dsb.

> 

> Semoga juga para pnerbit mau menerbitkan komik2 Indonesia dengan

format yang

> bagus seperti punya elex media

> 

> 

> 

> Sebenarnya kebanyakan kartun cukup bagus... Cuma memang anak2 harus

diberi

> pengertian dan bimbingan selama menyaksikan film2 tersebut

> 

> Agar tidak 100 % meniru tokoh idolanya. Ambillah yang baik dan jagan

tiru

> yang tidak baik.

> 

> 

> 

> Wasssalam

> 

> Hendro

> 

> 

> 

> _____ 

> 

> From: [EMAIL PROTECTED] ups.com
[mailto:[EMAIL PROTECTED] ups.com]
On

> Behalf Of Ahmad Sopiani

> Sent: Tuesday, January 22, 2008 10:06 AM

> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

> Subject: RE: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia

ndak ya ?

> (sambungan diskusi Naruto)

> 

> 

> 

> Assalamu'alaikum. .

> 

> 

> 

> Waah, luar biasa !! seru sekali diskusinya, seseru avatar, naruto,

dragon

> ball, atau hunterXhunter, dan samuraiX atau doctor SLUMP dan Arale

yang cute

> juga Shincan yang ngeyel...

> 

> Kalau bicara kartun dan animasi, rasanya sedikit sekali orang yang tidak

> suka, rata-rata punya satu tokoh yang diingat dan mencoba

mencitrakan diri

> sepertinya. Misalnya saya selalu ingin mencitrakan diri seperti Son

Go Ku

> dalam Dragon Ball; yang kuat, selalu giat berlatih, pantang meny era h,

> menjaga persahabatan, selalu menolong dan melindungi, tidak punya niat

> jahat, menang tidak sombong, kalah tidak sakit hati dan dendam, malah

> menjadi motivasi untuk lebih maju, kekalahan dijadikan dorongan

untuk bisa

> lebih baik lagi. Son Go Ku juga selalu berusaha "save the world"
dengan

> segenap kesungguhan dan kemampuan yang ada padanya. Kadang juga saya

> mencitrakan diri seperti SBDGH Barda Mandrawata, yang kalem, tenang,

sangat

> peka, namun suka menolong dengan segala keterbatasannya, juga tentu saja

> bisa berkelana ke mana suka.

> 

> 

> 

> Karakter Asli Indonesia ,
sesungguhnya banyak sekali yang bisa diangkat

> dengan tema sentral membela keadilan dan kebenaran, hanya saja,

apakah itu

> cukup menantang bagi animator-animator tanah air dan penyandang dana

serta

> media/jurnalis untuk mengangkatnya ke sebuah film animasi panjang

dan lama.

> Yang sudah di sebutkan, macam SBDGH dan monyet kecilnya, itu serinya

banyak

> sekali dan pernah sukses diangkat ke sinetron, sangat mungkin juga untuk

> suskses jika diangkat ke animasi.. Belum lagi tokoh lain seumpama

GUNDALA

> Put era Petir, GODAM, MAZA, atau
DENI Manusia Ikan. Kalau perlu

angkat juga

> kisah-kisah kocak PET-GAR yang juga punya tokoh pembela keadilan super

> bernama SUPERPET dari Karang Tumaritis. Kalau mau yang baru dan agak

kocak,

> bisa angkat Si Lender karya P-Project yang entah mengapa saya tidak

temukan

> lanjutannya setelah jilid dua.... (Kang Deni and kang Daan

P-Project, please

> answer me about Si Lender, atau ada kawan2 yang kenal dengan P-Project,

> tolong bilang agar Si Lender dilanjutkan) .

> 

> 

> 

> Dari Cerita Rakyat jauh lebih banyak dan lebih kaya lagi, saya

kadang-kadang

> melihat satu-dua cerita rakyat yang dianimasikan dalam bentuk VCD,

tetapi

> tidak cukup "berdaya jual" untuk menghidupi animatornya. Kalau
mau

serius,

> ADBM (Api Di Bukit Menoreh) dengan tokoh Agung Sedayu atau NSSI

(Naga Sasra

> Sabuk Inten) dengan Mahesa Jenar nya yang durasinya sangat panjang

bisa jadi

> serial laga yang mendidik. Masalahnya, siapkah para animator, penyandang

> dana, dan media untuk itu.

> 

> 

> 

> Jadi persoalannya bukan kekurangan karakter yang bisa diangkat, tetapi

> faktor pendukungnya yang nyaris tidak ada. Mungkin pertimbangan daya

jual

> yang rendah sehingga tidak bisa mencukupi untuk nafkah sehari-hari atau

> secara kapitalistik kurang bernilai... entahlah... yang jelas saya

pencinta

> komik dan kartun meski tidak bisa menggambar dan akan sangat bangga dan

> terharu jika komik Indonesia 
asli bisa kembali jadi raja di tanah air

> seperti tahun 80-an dan bisa diangkat ke animasi menggantikan

animasi impor

> bernilai budaya asing. Jangan sampai kita menjadi orang asing di negeri

> sendiri.

> 

> 

> 

> Wassalamu'alaikum.

> 

> 

> 

> _____ 

> 

> From: [EMAIL PROTECTED] ups.com
[mailto:[EMAIL PROTECTED] ups.com]
On

> Behalf Of Reza Ervani

> Sent: Monday, January 21, 2008 2:38 PM

> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

> Subject: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak
ya ?

> (sambungan diskusi Naruto)

> 

> 

> 

> Assalamu alaikum, 

> Nyambung diskusi tentang Naruto.

> Saya jadi bertanya-tanya, ada nggak ya karakter tokoh fiksi yang 

> bener-bener asli Indonesia 
dan pantas untuk diceritakan ke anak didik 

> atau anak kandung kita ?

> 

> Dulu waktu SD-SMP-SMA ada beb era pa
buku yang akrab dengan penulis. 

> Misalnya Wiro Sableng, Dewa Arak, Pendekar Rajawali Sakti, Gatotkaca 

> yang memang ditulis oleh penulis asli Indonesia . Apakah tokoh-tokoh 

> ini lebih baik untuk diberikan kepada anak didik dibandingkan tokoh-

> tokoh asing semacam Avatar Aang dan Naruto ?

> 

> Waktu kecil pula penulis mulai membaca buku-buku karya Asmaraman Kho

 Ping

> Hoo yang ceritanya panjang-panjang. Ada 
kemiripan antara

cerita-cerita silat

> Kho Ping Hoo dengan cerita-cerita anima dan manga yang ada di TV-TV saat

> ini. Bagaimana pula dengan ini ? Apakah ia sesuatu yang tidak boleh

> dikonsumsi pula oleh anak usia dini ?

> 

> Selain itu ada pula buku-buku Hans Christian Anderson yang juga akrab 

> dengan masa kecil kami, yang rela bersepeda ke perpustakaan setempat. 

> Belakangan baru penulis dapati bahwa ternyata buku-buku HCA ada 

> refleksi dari kehidupan pribadi HCA yang tersingkirkan dari kehidupan 

> sosial. Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh dalam dongeng-dongeng HCA 

> mewakili karakter t era singkan,
seperti Ugly Duck (Bebek Buruk Rupa) 

> Thumbelina. Beb era pa kritikus
juga mengatakan bahwa dongeng-dongeng 

> HCA terlalu sadis untuk dikonsumsi anak-anak. Bagaimana pendapat 

> anda ?

> 

> Selain itu ada buku-buku favorit lain masa kecil seperti TINTIN, 

> Asterix, SMURF, Tiger Wong, Pukulan Geledek dll.

> 

> Alhamdulillah, ketika masih sangat kecil pula, penulis mulai membaca 

> buku-buku sastra lokal seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, 

> Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (HAMKA), Salah Asuhan, Siti Nurbaya 

> (Marah Rusli) dan lain-lain. Ada 
pula fiksi asing yang diterjemahkan 

> seperti MUSASHI dan buku-buku dari SIDNEY SHELDON.

> 

> O ya, yang juga jadi favorit waktu itu adalah kisah-kisah Kang Poirot-

> nya Agatha Christie, juga Sherlock Holmes-nya Conan Doyle. Hmmm, 

> masuk juga dalam daftar Lima Sekawan, Tiga S era ngkai
(yang waktu itu 

> menginspirasi kami ketika kelas 3 SD untuk membuat klub detektif 

> cilik)

> 

> Kesimpulannya, perlukah kita membatasi bacaan anak-anak kita ? Atau 

> biarkan mereka membaca semuanya ? Lalu ajak ngobrol asyik tentang 

> bacaan-bacaan itu. Tentu saja ortu atau gurunya juga harus gila baca.

> 

> Bagaimana pula dengan tokoh-tokoh Islam yang agak sulit menjadikannya 

> dalam bentuk komik atau animasi karena alasan-alasan fiqh.

> 

> Atau bagaimana ?

> 

> Salam,

> Reza Ervani

> 

> --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:rezaervani% 40yahoogroups. com>

ups.com,

> helmi purwanti <helmipurwanti@ > 

> wrote:

> >

> > Assalamualaikum Wr, Wb

> > 

> > Kalau komik, di indonesia juga udah ada dari dulu, saya dulu salah 

> satu penggemar komik indonesia, dulu komik yang terkenal sih judulnya 

> Si Buta dari Gua Hantu, trs ada juga pengarang komik yang terkenal 

> namanya Yan Mintaraga, nah sekarang kayaknya komikus indonesia udah 

> pada kolaps kalah sama manga dari jepang.....kalau mau lihat2 komik 

> indonesia coba ke JL Pagar Gunung Bandung, di Komik Corner. thnx

> > Wassalam

> ++cut++

>
 















    
  












      Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->








      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke