Assalamu'alaikum wr wb

saya pengen nimbrung masalah ini. 
memang pengamatan saya terhadap lingkungan sekitarku pun demikian, 
seseorang lebih memilih untuk menghindar dari pada ikut duduk bahkan 
hanya menatap. ketika ditanya, jawabnya " apakah saya ini pantas 
duduk dengan mu?...sedang aq ini orang yang penuh dosa.........."

ya..hati kecil mereka, hati kecil kita selalu mengatakan hal yang 
benar, mengatakan sejujurnya. meskipun berkata "aku ini senang dan 
menang menjadi seorang penjahat!!!aku sukses jadi penjahat, untuk 
apa berbuat hal-hal yang baik???" 
namun saudaraku... ketika kau tanyai mereka, sebenarnya di hati 
kecil mereka mengaku dosa. maka wahai saudaraku... mari kita 
snantiasa ber Amar ma'ruf nahi munkar, bar fastabikhul khoirot, 
terus tanpa henti. upaya kita untuk itu dibantu Alloh dengan 
menggerakkan hati kecil yang selalu jujur........
Allohu A'lam........

salam kenal untuk semua...keep ukhuwah.....:)

wassalamualaikum wr wb







--- In [email protected], Reza Ervani <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Gue Neraka Banget
>   www.rezaervani.com
>    
>   Lama sudah ingin menulis ini, tapi baru bertemu dengan judul 
yang pas hari ini. Terima kasih pada Uni Intan yang telah 
menginspirasi lewat dialognya, sehingga tergugah kembali semangat 
untuk mengangkat tema ini.
>    
>   Uni Intan cerita ...
>   "Kang, saya pernah merasakan ketika duduk dengan orang-orang 
yang berjilbab dan merasa kalo gue tu neraka banget ... dan mereka 
surga banget ..."
>    
>   Perjalanan mencari nilai itu tentulah pernah kita rasakan dengan 
episode yang khas pada tiap orangnya. Semakin panjang perjalanan, 
biasanya semakin bijak seseorang memandang kehidupan.
>    
>   Sayangnya, fenomena yang kita temukan adalah betapa seringnya 
kalimat-kalimat tak bersahabat itu lahir dari orang-orang yang 
seharusnya jadi pemandu bagi para awam. Terbentuklah kemudian kotak-
kotak yang sangat sulit dimasuki oleh kaum yang tak "sejenis". Saat 
itulah indahnya nilai-nilai meredup. Bukan karena lenteranya tidak 
terang benderang, tapi kaca yang melingkupinya tertutup debu 
ekslusifisme tebal.
>    
>   Kita seringkali terpukau dengan cerita-cerita bijak para ulama 
besar.
>   Terpukau pada betapa santunnya mereka mengatakan bahwa yang 
salah itu salah, sesantun kala mereka mengatakan bahwa yang benar 
itu benar. Ada rasa aman yang kita tangkap dari cerita itu, apatah 
lagi jika kita hidup sezaman dengan mereka, duduk di antara para 
murid-muridnya mendengar tiap patah kata yang mengalir dari lidah 
fasih dan sopan.
>    
>   Mari kembali ke "dunia nyata".
>   Pernah suatu waktu kurasakan, betapa rumah Allah tidak lagi 
menjadi tempat yang nyaman, karena khawatir ada yang melarang untuk 
berdua saja denganNya. 
>   Jangan-jangan pakaian yang kukenakan tak seragam dengan 
yang "empunya" masjid. 
>   Jangan-jangan sujudku tak semodel dengan jamaah masjid ...
>    
>   Kadang dalam diam tercetus doa sederhana,
>   "Ya Allah, jangan cabut cintaku pada rumahMu hanya karena rasa 
tak nyaman itu ..."
>   "Bukankah Engkau yang terangkan pada hamba kalimat penyejuk 
itu ... Inna Robbaka Huwa a'lamu biman dholla 'an sabiilihi, wa Huwa 
a'lamu bimanihtada"
>   Tuntun Hamba dengan PengetahuanMu ya Robb ...
>    
>   Ingin rasanya aku jadi orang yang ketika orang duduk di 
sebelahku ... mereka tidak lantas beranjak menjauh dan mengatakan 
dalam hatinya ... Gue Neraka Banget ...
>    
>   Allahu 'Alam
>    
>   (Original Writing by Reza Ervani)
>   Komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani 
>    
>    
>    
>    
>    
> 
>        
> ---------------------------------
> Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
>


Kirim email ke