Islam Ngotorin Tembok
tulisan dan gambar oleh : Reza Ervani
www.rezaervani.com
Pagi ini penulis menikmati pagi dengan berjalan-jalan di seputar sebuah
kampus di kawasan utara Bandung. Sejuk dan nikmat.
Seperti biasa, senjata utama penulis, sebuah laptop "pink" selalu menemani
kemana-mana, seperti juga pagi ini. Selalu saja ada momen menarik untuk
diabadikan menjadi sebuah tulisan, itu pula yang jadi keyakinan ketika
melangkah keluar tadi.
***
Melewati gedung perpustakaan, penulis disodori pemandangan wah ... langsung
saja penulis abadikan dengan webcam laptop, sambil benak berusaha menyusun
kalimat-kalimat yang akan tersusun untuk dikirimkan via milis hari ini.
Walaupun mungkin menjadi pemandangan yang biasa bagi anak-anak kampus, tapi
rasa-rasanya budaya ini bukanlah budaya yang baik. Menempelkan pengumuman di
tembok yang akhirnya menjadi hal yang lumrah.
Penulis sering membayangkan ada sebuah majalah dinding besar disana, yang
diatasnya tersusun dengan rapi berbagai tulisan berdasarkan kategori, sehingga
orang bisa memilih apa yang ingin ia baca, mana yang tidak. Mahalkah ? Untuk
ukuran kampus rasa-rasanya tidak ...
Penulis terus berjalan, ternyata bukan hanya di satu tembok pemandangan yang
sama penulis temukan. Hampir di wilayah "strategis" ada tempelan-tempelan yang
bergaya macam-macam.
Yang paling menyedihkan, banyak tulisan "ISLAM" besar-besar disitu.
Aduuuh ...
Pamflet-pamflet itu mungkin efektif untuk mengenalkan brand atau acara yang
ingin disampaikan. Tapi pernahkah kita berfikir tentang citra dan hal-hal lain
di belakangnya ? Tidak ada lagi ekslusifisme yang indah disana, apalagi teladan
baik tentang pentingnya detailist dalam manajemen isu. Ironis ... padahal
pamflet yang terpasang banyak yang mengangkat isu pendidikan dan Islam.
Memakai istilah Hermawan Kartajaya, untuk apa merek yang kuat kalau tidak ada
yang beli. Pamflet itu berhasil menunjukkan betapa kuat propaganda yang
disampaikan, tapi apakah ia mampu merayu hati pembaca untuk peduli ?
Memakai istilah pendidikan, ada falsafah dasar yang harus menjadi landasan
pemikiran dalam membangun sistem pedagogi. Memperhatikan efek pengajaran lebih
penting daripada sekedar membuat cara penyampaian menjadi berkesan.Pamflet itu
mungkin berhasil membuat isu kelemahan pendidikan Islam menjadi bombastis, tapi
apakah ia kemudian para penempelnya mampu meletakkan dasar yang baik bagi
bangunan edukasi ummat diatasnya ? Masih patut dipertanyakan ...
Melulu melihat borok di kulit, tanpa melakukan analisa mendalam penyebab
penyakitnya. Apakah ini citra pendidikan yang ingin kita bangun ?
Allahu 'Alam
Koleksi foto lengkap bisa dilihat di http://www.rezaervani.com/gambar/140208/
Komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.