ANJING MENGGONGGONG, GUE AMBIL BATU
   
  Fiyan Arjun
  http://sebuahrisalah.multiply.com
  ID YM : paman_sam2
  
   
   
  Pernah mendengar pepatah bijak sepertini ini: Anjing menggonggong kafilah 
berlalu.“  Yup, gue rasa semua pernah mendengarnya. Walau pun tidak tahu secara 
detail apa maksud makna yang terkandung didalamnya tetapi bagi gue yang 
terpenting semua sudah mengetahui keberadaan pepatah tersebut. Daripada tidak 
tahu sama sekali. Iyakan? Tapi jangan dikira gue yang menggonggong ya? Awas lho 
kalo ada yang bilang yang menggonggong itu gue, nanti gue gonggong beneran lho? 
   
   
  Kali ini gue menulis bukan mengenai tentang pepatah tersebut. Melainkan ini 
tentang kelakuan itu hewan. Lebih tepatnya peristiwa yang membuat gue 
geleng-geleng kepala. (Bukannya triping ini lho?). Yang katanya itu hewan tidak 
pernah makan bangku sekolah dan dididik sama Tuan rumahnya. 
   
   
  Kok bisa? Iyaiyalah lha wong itu hewan biar di didik seperti apa ya tetap aja 
insting kehewanan masing ada. Beda sama gue! Biar jelek-jelek begini gue masih 
sempat makan sekolah. Tapi sih mengenai keberadaan sekolah yang pernah gue 
rasai itu masih ada, belum gue sempat gue makan beneran. Oya, ngomong-ngomong 
kok gue nyadar diri begini ya? Kalau gue ini memang nggak seganteng kayak Shah 
Rukh Khan dan Hritik Roshan bintang dari negeri Paman Thakur dan juga penghasil 
bawang bombay itu. Dan kalau tiap adegan filmnya ada nyanyinya. Mau sedih. Mau 
berrduka. Apalagi gembira tetap aja nyanyi. Ya, begitulah cinta tiada akhir. 
Nah, semua pada tahu nggak sama bintang dari India yang gue sebuti tadi? Pasti 
tahu dong? Kalau nggak tahu gue punya CD/DVD film-nya nih. Mau pinjam? Boleh 
aja biar tahu bagaimana tampangnya. Apa lebih gantengan itu bintang India atau 
gue yang lebih....Maksudnya lebih ancur gitu! Oke, deh balik lagi ke soal 
anjing. Tuh, kan kalau ngomong anjingnya pasti deh
 ke arah gue? Nggaklah....!
   
   
  Peristiwa yang membuat gue geleng-geleng kepala ini terjadi saat gue  
bersillaturahim ke rumah kawan gue. Dan kebetulan rumah kawan gue itu dekat 
komplek yang penghuninya banyak pelihara itu hewan. Sori ya gue nggak mau 
menyebuti namanya? Habisnya kalau ngomong namanya pasti arahnya ke gue melulu. 
Tuh kan? Peristiwa yang membuat gue geleng-geleng kepala dan juga narik urat 
ketika sepatu gue dibawa kabur sama anjing tetangga dekat  kawan gue.  Yang 
rumahnya hanya dua dari rumah kawan gue. Sebel banget nggak itu ngebayanginya. 
Sepatu gue di gondol tanpa bilang-bilang gue lagi. Lha iya anjing namanya mana 
bisa ngomong. Tapi ada tips nih kalau anjingnya mau bisa ngomong. Tips-nya 
begini: ambil batu terus tinggal lempari deh ke muka Tuan rumahnya. Pasti deh 
bisa ngomong. Benarkan? Ye, itu sih Tuan rumahnya bukan anjingnya! Tapikan di 
wakili sama Tuan rumahnya juga. Entahlah!
   
   
  Hari itu gue mau silturahim ke ruimah kawan gue. Kebetulan hari itu hari 
Minggu jadi gue sempati diri untuk mampir ke rumah kawan gue. Ya, walau 
tulang-tulang di tubuh gue sudah hampir mau copot dari tungkainya. Lelah dan 
cape. Tak bertenaga akhirnya gue paksa diri gue ke rumah kawan gue juga. 
Bukankah menjalin silaturahim itu akan memperpanjang rezeki? Akhirnya dengan 
upaya dan daya dari sisa-sisa tenaga gue seharian kumpul-kumpul di TIM sesame 
kawan-kawan penulis gue langkahkan azzam gue untuk silaturahim ke rumah kawan 
gue. Dan tibalah di rumah kawan gue dengan selamat. Walau gue ke sananya tengok 
kiri-tengok kanan dulu takut ada anjing nyasar menggonggong gue.Oya, gue sampai 
lupa kan gue bisa menggonggong…Guk.., guk…, guk…, giukkkk……
   
   
  “Assalamualaikum,” ucap gue seperti biasa kalau ke rumah orang. Memberi 
salam. Maklum gue ini orang yang tahu tata krama dan anak budiman. Biasanya nih 
kalau gue ke rumah orang terlebih dahulu gue itu pantun dulu. Maklumlah gue 
orang Betawi modern yang cita-citanya jadi penulis sekaliber Seno Gumira 
Adjidarama. Aminin dong, kok diam aja? Pantunnya seperti ini: Beli pepaya di 
hari petang. Bolehkah saya datang. Itulah kebiasaan gue ke rumah orang. 
Berpantun ria dulu. Tapi sayang kebisaan itu gue hilangi karena nanti gue 
dianggap norak dan jayus lagi terpaksa deh gue tinggali kebiasaan seperti itu. 
   
   
  “Wa’alaikumsalam,” jawab kawan gue memberi salam dari dalam rumahnya. “Eh, lo 
Yan, masuk-masuk. Oya, sepatu lo masukin ke dalam aja nanti sepatu lo di gondol 
anjing tetangga gue llagi,” ujar kawan gue lagi. Memberitahukan agar sepatu gue 
di masukan ke dalam rumahnya. Gue yang diperintahkan seperti itu nggak 
menggubrisnya. Masa bodo. Cuek. “Lagi pula siapa sih yang mau curi sepatu 
gembel gue itu,” gumam gue saat itu.
   
   
  Tidak lama kemudian saat gue sedang bercuap-cuap asyik ngobrol ngalor-ngidul  
sama kawan gue tadi. Baik ngobroli dari harga cabe keriting, bawang Bombay, 
waotel tanpa daun hingga mengandai-andai jadi cucunya Presiden Soeharto yang 
dapat warisannya. Enak kali ya? Nah, pas gue lagi seru-serunya ngobrol sama 
kawan gue tiba-tiba datang itu  peristiwa yang bikin gue bete banget. Anjing 
peliharaan tetangga kawan gue menggondol sepatu gue.
   
  “Yan…, Yan sepatu lo tuh dibawa anjing,” kata kawan gue memberitahukan gue. 
Gue yang ngeliat kejadian seperti itu jadi ilfil buat ngelajutin obrolan gue 
sama kawan gue saat itu juga. Dan gue langsung ngejar itu anjing yang bawa 
sepatu gue.
   
   
  Dan jadilah hari itu  gue main kejar-kejaran sam anjing yang baw sepatu gue. 
Gue kejar anjing itu sampai ke rumah Tuannya. Dan akhirnya anjing itu berhenti 
juga di rumah dimana dia dipelihara sama majikannya. Sepatu gue akhirnya 
dilepas juga dari gigitannya. Dan gue nggak langsung mengambilnya. Gue 
pikir-pikir gimana cara ngambilnya.Yup, akhirnya gue punya iniisiatif akhirnya 
sepatu yang bekas di gigit anjing tetangga kawan gue itu gue bungkus sama 
plastik warna hitam. Palstik yang gue temui nggak sengaja di jalanan. Kenapa 
gue nggak mau ngambil pakai tangan? Kata ustadz-ustadz di tv bialng kalau air 
liur anjing itu najis. Najis Mughallazhah. Najis yang sangat berat. Nah, itu 
baru air liur anjing, najis? Bagaimana sama air liur gue ya kalau sedang tidur 
menetes? Punya jawabannya?
   
   
  “Sepatu lo dapat, Yan,” tiba-tiba kawan gue ngomong ke arah gue pas gue baru 
sampai di rumahnya.
   
   
  “Ye, lo gimana sih ketauan sepatu gue di gondol anjing bukan lo usir dari 
tadi eh malah lo diamin,” kata gue keki ke arah kawan gue. ”Eya, gue pinjam 
sandal lo ya buat gue pulang nanti,” kata gue untuk minta izin memijam sandal 
kawan gue itu.
   
   
  “Ya, udah nggak usah kahawatir. Nanti lo boleh pijnam sandal gue deh.” 
Akhirnya kawan gue mau memberi pinjam sandanya. Dan gue pun merasa aman pas 
nanti pulang ke rumah gue lagi.
   
   
  “Oya, gue pamit dulu deh. Udah sore nih. Kapan-kapan gue main ke rumah lo 
lagi. Tapi bilang ya sama teangga lo tolong anjingnya di didik jangan suka 
gondol sepatu orang,“ kata gue asal goblek. Kawan gue bukannya berpikir malah 
ketawa-ketiwi. Senang ngeliat penderitaan gue hari itu.
   
   
  “Ya, udah makasih banyak Yan atas silaturahimnya. Jangan kapok datang ke 
rumah gue lagi ya. Maklum namany juga rumah dekat komplek yang pelihara lo di 
sini,” ledek kawan gue. Dan gue hanya mesem-mesem dengar kegilaan kawan gue 
itu. 
   
   
  “Oke,  gue pamit dulu. Assalamulaikum,” ucap gue. Pamitan sama kawan gue. 
Tapi sebelum gue melangkah jauh meninggalkan rumah kawan gue. Gue lebih dulu 
mengumpuli batu-batu yang ada di sekitar rumah kawan gue itu. Gue yang sedang 
lagi mungiti batu saat itu kawan gue ngeliat ke arah gue.
   
   
  “Yan lo lagi ngapain?” Tanya kawan gue.
   
   
  Gue nggak jawab, lagi serius ngumpuli batu.
   
   
  “Alhamdulillah udah cukup buat ngelempar anjing kalo gue hadapan langsung,” 
bathin gue saat gue berhasil kumpuli bstu di sekitsr rumah kawan gue. 
   
   
  Akhirnya hari itu jugs gue bukannya pulang dulu ini malah asyik cari batu. 
Kumpuli batu buat ngelmpar anjing yang bawa sepatu gue jika gue ketemu sama itu 
anjing. Gue kumpuil itu batu di plastik hitam buat siaga-siaga kalau ada musuh 
menyerang gue, eh salah anjing maksudny  “Eh, Yan ko gue tanya buat apaan tuh 
batu ko lo diam,” Tanya kawan gue lagi.
   
   
  “Nih, batu buat anjing yang gondol se[patu gue tau.” Ucap gue memberitahukan 
kawan gue bar puas sekalian. Kawan gue yang gue beritahu seperti itu malah 
senyum-senyum sambil nyukil pepatah. Jadi benar dong Yan pepatah bilang,” 
Anijng menggong lo Yan ambill batu. Terus lempar deh biar terkaing-kaing!” Gue 
yang dengar banyolan yang ngak bermutu dari kawan gue seperti itu langsung 
ngacir. Malas ngelayani kawan gue itu sambil bawa batu sekantong plastik hitam 
buat ngelempar anjing.
   
   
                                                    Ciputat, 13 Februari 2008
                              Sudahkah Anda menertawaikan diri sendiri?

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke