Sahabat-sahabat milist yang budiman,

Saya menyampaikan permohonan maaf yang terdalam, atas menjadi simpang siurnya 
milist kita tercinta, terkait subyek Tuhan ada dimana-mana.
Seperti yang saya sampaikan, pembelajaran tersebut untuk konsumsi remaja dan 
bukan forum ilmu para ahli aqidah.  Saya sampaikan, sebagai masukan bagi para 
orang tua yang memiliki kendala dalam mendidik aqidah putra-putrinya.

Di bawah, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat, sebuah korespondensi pribadi 
(nama saya samarkan) terkait subyek yang sangat hangat dibincangkan.
Bersama ini, saya mohon agar sahabat-sahabat menahan diri agar tidak seperti 
"1000 orang yang berbicara tetapi tidak saling berhubungan dalam sebuah 
ruangan".  Saya mengundang sahabat-sahabat untuk mengembalikan permasalahan ini 
secara proporsional dan menyerahkan kepada ahlinya.

Terima kasih yang dalam atas kesediaan sahabat menjadikan saya salah satu 
sahabat baik Anda.

Wassalam,

Syarif Niskala

http://syarifniskala.wordpress.com
http://superwords.wordpress.com


----- Original Message ----- 
From: Syarif Niskala 
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 19, 2008 9:58 AM
Subject: Terima kasih atas masukannya


Assalamu'alaykum war wab.
Terima kasih atas informasi dan tanggapan Anda yang sangat berbobot, dalam dan 
luas.  Mohon dimaafkan atas ketebatasan saya dalam ilmu tafsir dan referensi 
terikait pembahasan yang sangat penting ini.  Saya sesungguhnya tidak memiliki 
pengetahuan yang lengkap tentang jawaban pertanyaan aqidah itu.  Karena 
keterbatasan itu, saya telah membaca sekitar 10 jawaban-pertanyaan senada, yang 
di situs eramuslim saja mencapai 3 pertanyaan.  Berikut saya saliinkan untuk 
Anda, siapa tahu, catatan ini telah terselip lama di daftar koleksi Anda.  
Jawaban sejenis, dapat Anda temukan pada situs pusat konsultasi syariah online.

Pak Fulan bin Fulan yang mulia dan luas ilmunya,

Pada tulisan itu, ada beberapa pemilihan kalimat dan kata saya yang tidak tepat 
untuk ukuran saya dan Anda.  Tapi itu kalimat yang terbaik yang dapat saya 
temukan, agar remaja mau dan mampu menerimanya.  Tentu pilihan kata pada setiap 
perbincangan atau tulisan, sangat terpulang pada kebijakan masing-masing.  
Sebab seperti Baginda Rasululah Saw, pemilihan kalimat 'mata yang ada 
putih-putihnya' adalah kebijakan tertinggi dalam pendidikan yang jenaka dan 
benar.  Bukankah kebijakan ini yang mengundang decak kagum.
Pilihan rasa kata dan ketepatan makna, sangat ditentukan oleh pendengar, bukan 
oleh akurasi ketinggian filsafat sang penasihat - inilah kebijakan.  Itulah 
hikmahnya Al Quran berbahasa manusia (Arab), bukan 'bahasa Allah Swt' yang 
pasti tak terjangkau itu.  Bukankah tidak ada informasi bahwa 'bahasa Allah 
Swt' adalah bahasa Arab!.  Koridor terpentingnya adalah Laisa kamitslihi 
syai'un, wa lam yakun lahu kufuwan ahad.

Pak Fulan yang mulia,

Terima kasih yang terdalam atas nasihat dan silaturahim Bapak.

Wassalamu'alaykum war wab.

Syarif Niskala




Sebenarnya di Mana Allah Itu?
Selasa, 5 Sep 06 11:57 WIB (eramuslim.com)

Kirim teman

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Pak ustadz yang dirahmati Allah, teman saya pernah bertanya, di manakah Allah 
itu? Dikatakan dalam Al-Quran Allah ada di atas di 'Arasy, kalau Dia di Arasy 
berarti Allah berada dalam dimensi tempat, dan kalau ada dimensi tempat berarti 
berada dalam dimensi waktu, kalau berada dimensi waktu berarti... Saya tak mau 
meneruskannya lagi. Saya sangat bingung pak Ustadz, jawaban apa yang bisa 
berikan jika ada yang bertanya kepada saya lagi, dan saya juga sangat-sangat 
bingung juga bertanya-tanya pada diri sendiri.

Terima kasih pak Ustadz atas jawabannya, semoga bisa menjadi ilmu yang 
bermanfaat.

Assalam alaikum,

Mohammad Rabban
rabban

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Sebenarnya anda tidak perlu terlalu bingung dalam menjawab masalah itu. Semua 
mari kita kembalikan kepada Allah SWT. Kalau Allah SWT telah memberikan 
keterangan tentang di mana keberadaan diri-Nya, tentu saja kita tidak bisa 
menolaknya. Sebaliknya, bila Allah SWT sendiri tidak memberikan keterangan 
apapun tentang hal itu, kita pun akan menjawab tidak tahu.

Inilah yang membedakan aqidah kita sebagai muslim dengan aqidah-aqidah lain di 
luar agama Islam. Titik perbedaannya ada para cara pandangan kita tentang tuhan 
kita.

Seorang muslim mengenal tuhannya lewat penjelasan langsung dari tuhan, bukan 
lewat imajinasi, logika atau angan-angan kosong. Logika memang bisa sekedar 
membantu memastikan keberadaan tuhan, tetapi tidak pernah bisa menjawab 
pertanyaan lebih lanjut, misalnya tentang bagaimana sosok tuhan, 
sifat-siafat-Nya, kemauan-Nya, kehendak-Nya, aturan-Nya, hukuman-Nya serta 
hal-hal lainnya.

Bagi seorang muslim, tuhan memperkenalkan dirinya. Sehingga sudah bisa 
dipastikan tidak akan terjadi kesalahan atas pemahaman tentang tuhan.

Lain halnya dengan agama di luar Islam, mereka mungkin bisa menemukan tuhan 
dalam hal keberadaannya. Tetapi sebenarnya apa yang mereka kenal tentang tuhan 
tidak lain hanya mitos, imajinasi, khayal, bahkan sekedar teori yang tak pernah 
terbukti. Dalam kuliah ilmu teologi, banyak sekali dibahas berbagai teori 
tentang tuhan, bahkan ada buku yang secara khusus menulis tentang sejarah tuhan.

Tapi semua itu tidak pernah ada gunanya, karena tak satu pun penjelasan di 
dalamnya yang langsung bersumber dari tuhan langsung. Semua hanya ilusi, imaji, 
khayal, konsep, anggapan, waham atau sekedar mimpi-mimpi belaka. Tuhannya 
sendiri tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan sosok dirinya. Maka 
ilmu itu tidak ada gunanya, bahkan hanya membut orang sesat semakin tersesat.

Kalau kita mau tahu tentang siapa 'jati diri' tuhan, maka sesuai kaidah 
jurnalistik, kita langsung 'wawancarai' tuhan. Biar diri-Nya sendiri yang 
memberi keterangan pasti. Tentu saja tidak semua jati diri-Nya pasti 
dibeberkan, tetapi minimal kita tidak membuat diskripsi secara ngawur asal jadi.

Lalu bagaimana cara kita wawancara dengan tuhan untuk menanyakan jati diri-Nya?

Tidak usah repot-repot, sebab 14 abad yang lalu, tuhan sudah begitu banyak 
berbicara kepada kita umat manusia, lewat wahyu dari langit. Baik berbentuk 
kitab suci Al-Quran atau pun lewat sabda nabi-Nya (hadits). Keduanya adalah 
wahyu yang turun dari langit. Hanya dua sumber inilah yang secara pasti bisa 
dikatakan valid, otentik, original dan resmi yang berbicara tentang tuhan.

Selain kedua sumber itu, sudah bisa dipastikan palsu, sesat, salah dan sesat. 
Otak manusia tidak bisa menjawab lebih jauh tentang tuhan, kecuali hanya sampai 
batas kesimpulan awal, yakni bahwa tuhan itu ada, eksist, wujud. Selebihnya, 
otak kita punya banyak kelemahan untuk mendeskripsikan 'anatomi' tuhan.

Tapi sebenarnya kalau kita teliti sejarah lebih dalam, sepanjang sejarah tidak 
pernah kita dapati ada suatu peradaban yang 100% atheis (tidak mengakui 
eksistensi tuhan). Bahkan Abu Jahal yang kafir itu pun meyakini adanya tuhan. 
Sehingga tugas nabi SAW sebenarnya bukanlah membuktikan keberadaan tuhan, 
tetapi memperkenalkan sosok, jati diri serta 'anatomi' tentang Tuhan. Termasuk 
perintah-perintah, kehendak, keinginnan, rule of the game yang datang dari 
tuhan. Pendek, bukan hanya tuhan itu ada, tetapi apa maunya tuhan pada dan dari 
diri kita, semua telah dijelaslah oleh nabi dan kitab suci.

Quran Menjawab Tuhan Ada di Mana

Sebelumnya Al-Quran telah menjelaskan sifat tuhan secara umum, yaitu bahwa 
tuhan itu tidak sama dengan apa pun. Lam yakun lahu kufuwan ahad, tidak ada 
satu pun yang sekufu dengan tuhan. Laisa kamitslihi syai'un, tidak ada sesuatu 
pun yang menyerupi tuhan.

Misalnya disebutkan dalam Quran lafadz yadullahi yang artinya tangan tuhan. 
Benarkah tuhan punya tangan, ataukah hanya makna kiasan saja?

Jawabnya, benar tuhan punya tangan sungguhan dan bukan kiasan. Tetapi tangannya 
tidak sama dengan tangan manusia. Kita tidak menolak keadaan tuhan yang punya 
tangan dengan jalan mentakwilkannya dengan makna lain seperti kekuasaan. Tidak 
perlu ditakwilkan seperti itu, karena dengan cara itu kita malah sudah mulai 
mengarang tentang diskripsi tuhan. Dan mentakwilkan tangan tuhan dengan makna 
lain seperti kekuasaan tuhan, merupakan sebuah kesalahan fatal.

Lalu bagaimana?

Kita tetap terima bahwa tuhan punya tangan sesungguhnya, bukan kiasan. Tetapi 
tangan-Nya itu tidak sama dengan apa pun. Baik ukurannya, massanya, struktur 
kimianya, DNA-nya, atau semua halnya. Laisa kamitslihi syai'un, wa lam yakun 
lahu kufuwan ahad.

Tuhan di Langit, di Tempat yang Tinggi dan di Arsy

Maka ketika kita bicara tentang tuhan itu ada di suatu tempat, maka tidak bisa 
kita samakan keberadaannya itu dengan makhluk ciptaan-
Nya. Sebab laisa kamitslihi syai'un, wa lam yakun lahu kufuwan ahad.

Namun tuhan sendiri telah menyebutkan di mana dirinya. Mari kita dengar 
baik-baik 'pengakuan' tuhan langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

"Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan 
menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu 
berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia 
akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana 
(akibat) mendustakan peringatan-Ku". (QS Al-Mulk: 16-17).

Selain itu juga silahkan buka surat lainnya:

"Yang Maha Pemurah itu berada DI ATAS 'ARYS BERSEMAYAM".(QS Thaha: 5)

"Sesungguhnya tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi 
lalu bersemayam DI ATAS 'ARSY". (QS. Al-A'raf: 54).

Juga ada sabda utusan resmi dari tuhan, nabi Muhammad SAW tentang keberadaan 
Allah SWT.

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Kasihanilah yang bumi maka 
kamu akan dikasihani oleh Yang DI LANGIT". (HR. Tirmiziy).

Dan dalil yang menyebutkan bahwa Allah ada di langit, Arsy atau di tempat yang 
tinggi itu sangat banyak sekali dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

Benarkah Allah Ada di mana-mana?

Sebaliknya, tentang keterangan bahwa Allah SWT itu ada di mana-mana, sama 
sekali kita tidak mendapatkan dalil yang sharih. Paling jauh ada ayat berikut 
ini saja:

Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang 
kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

Namun kata ma'a tidak berarti menunjukkan tempat seseorang berada. Sebab dalam 
percakapan kita bisa mengatakan bahwa aku menyertaimu, meski pada kenyataannya 
tidak berduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk 
muraqabah atau pengawasan.

Seperti ketika Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar ra di dalam gua,"Jangan 
kamu sedih, Allah beserta kita." Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua. 
Juga ketika Musa as berkata, "Bersamaku tuhanku," tidak berarti Allah SWT ada 
di pinggir laut merah saat itu.

Jikalau kamu tidak menolongnya maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika 
orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah seorang dari dua orang 
ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, 
"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (QS At-Taubah: 
40)

Musa menjawab, "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku 
besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS As-Syu'ara: 62).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim email ke