Tanggal 2 February lalu, kembali saya menginjakkan kakiku di negeri Menara
Kembar Petronas (The Twin Towers) Kuala Lumpur, Malaysia. Kira-kira pukul 9:30
pagi, aku bersama dengan seorang ibu memasuki bandara KLIA (Kuala Lumpur
International AirPort).
Berhubung karena orang yang ditugaskan menjemput kami belum datang, maka kami
masuk di sebuah restoran untuk sarapan. Maklum, kami tidak sempat sarapan
sebelum berangkat. Tetapi, malangnya, sudah hampir 1 jam kami menghabiskan
makanan, penjemput yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Akhirnya, kami
keluar dari restoran itu. Dan, tidak lama kemudian, orang yang ditugaskan untuk
menjemput kami menelpon kalau dia berhalangan datang karena adanya urusan
penting. Dan, katanya dia sudah menyuruh orang lain untuk menjemput kami.
Sekali lagi, kami menunggu. Saya dan Ibu Ivy duduk di sebuah besi panjang
(yang memang diperuntukkan sebagai tempat duduk) sambil memandang hilir mudik
orang-orang yang datang dan pergi silih berganti.
Tiba-tiba seorang ibu yang memakai baju kurung (istilah orang Malaysia untuk
pakaian sewarna berpasangan/baju lengan panjang dan rok panjang) menghampiri
saya dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas terdengar di telingaku. Entah apa
yang ditanyakannya? Seperti biasa, jika kambuh penyakit egoisku (hehehe... )
saya langsung menjawabnya, "Tidak!" Ya, kata itu keluar begitu saja dari
mulutku. Begitulah kalau saya ingin mempersingkat dialog.
Mungkin, karena ibu itu merasa kalau apa yang beliau inginkan tidak mungkin
beliau temukan pada diriku, maka dia memilih melangkah agak jauh dari tempatku,
duduk. Kembali aku larut dalam pemandangan tadi (hilir mudik mobil dan lalu
lalang orang yang entah kapan mencapai titik keletihannya). Aku dan ibu Ivy
sama-sama diam. Seakan-akan orang akan kehabisan bahan bicara jika jemu
menunggu. Padahal, sejak di pesawat tadi, kami bersembang dengan penuh
semangatnya. Sedangkan, ibu itu berdiri tanpa melepaskan pegangan tangannya
dari koper rodanya yang berwarna biru kehitam-hitaman itu.
Orangnya pendek dan kulitnya agak hitam. Rambutnya keriting dan pendek.
Matanya agak cekung. Orangnya kurus. Sandal tipis mengalasi kakinya yang mulai
menampakkan ketuaan. Beliau memakai baju kurung berwarna hijau menyala. Bagiku,
beliau mampu memadankan busana-busana yang dipakainya dengan bentuk tubuhnya.
Tidak lama kemudian, datang sepasang anak muda berdiri di sampingnya. Beliau
tetap menatap jalanan. Dalam hati, aku begitu yakin, nasibku sama persis dengan
nasibnya, yaitu menunggu. Menunggu penjemput yang katanya akan datang menjemput
kita, tetapi malah dia yang dijemput.
"Lin, saya beli newspaper dulu ya! Mau ikut?"
Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum masam menanggapi pertanyaan ibu
Ivy. Ya, aku akui, aku pun sudah amat letih menunggu. Namun, keletihanku itu
beralih ketika samar-samar aku mendengar percakapan dari ibu tadi dengan
sepasang anak muda tadi yang kemungkinannya keturunan Cina yang berdiri di
sampingnya.
"...pukul berapa dia janji nak datang menjemput Mak Cik?" tanya Sang Pemuda.
"...asal saya sudah sampailah!" jawabnya.
"Mak Cik punya nombor teleponnya tak?" tanya Sang Pemuda lagi.
"Ada, tetapi bukan dia yang punya. Punya jirannya....," jawab beliau.
"O...," hanya huruf itu yang keluar dari mulut pemuda tadi.
Namun, nampaknya, Si Ibu masih ingin bercerita. Tetapi, pemuda itu sudah
mulai mengalihkan perhatian di jalanan. Lalu, ibu itu mencoba berkomunikasi
dengan Sang Gadis. Mereka pun ngobrol. Entah apa yang mereka obrolkan? Aku
sudah tidak mendengarkannya. Apalagi, saat itu, Ibu Ivy memberiku surat kabar.
Media yang banyak mengelu-elukan PM Malaysia, Datuk Sri Abdullah Ahmad Badawi.
Di halaman berikutnya, "Seorang warga Indon ditangkap polis karena memiliki
kartu pengenalan palsu". Ada juga berita pemerkosaan. Dan, tidak lupa pula,
berita seorang anak kecil (kalau tidak salah berumur 9 tahun) dinyatakan
hilang/diculik. Masih banyak berita dalam negeri. Dan, di halaman terakhir,
berita olahraga.
Kembali saya memalingkan wajah memandang tempat Sang Ibu tadi berdiri. Beliau
masih di sana. Sedangkan, sepasang pemuda tadi sudah melangkah pergi. Timbul
rasa kasihan dan rasa penasaran dalam dadaku. Aku berdiri, lalu menghampirinya.
Kuberanikan diri bertanya, "Ibu sedang menunggu anaknya ya?"
"Iya!" jawabnya sambil menatapku
"Pukul berapa katanya dia hendak datang untuk menjemput Ibu?"
"Dia cakap, saat aku sampai, dia pun datanglah!" jawabnya dengan logat malayu
Malaysianya yang kental. Akhir suku kata 'a' berubah bunyi jadi 'e'.
"Ibu sudah menelponnya?" tanyaku
"Tak!" jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Ibu punya nomor telepon anak Ibu?" tanyaku lagi.
"Ada. Tapi, ..." beliau tidak melanjutkan kata-katanya.
Aneh. Dia mempunyai nomor telepon, kenapa tidak dihubungi saja? Menanyakan
persoalannya. Sudah berjam-jam beliau berdiri menunggu. Tiba-tiba, akalku
menebak sesuatu. Sehingga membuat bibirku bergerak lagi bertanya, "Ibu punya
HP?"
"Ha?" Beliau menganga. Ya, ampun! Aku lupa kalau orang Malaysia mengeja
huruf-huruf abjad berdasarkan ejaan Bahasa Inggeris. Aku tertawa dalam hati.
"Ibu punya telepon? Maksud saya, handphone?" ulangku kembali
"Tidak ada!" jawabnya yang sekali lagi disertai dengan gelengan kepala.
"Saya punya, Bu! Biar saya telepon anak, Ibu!" kataku sambil merogoh tas
putihku. Secepat kilat pula beliau merogoh tas biru mudanya. Tidak lama
kemudian, nokiaku sudah siap diremot dan tangan beliau sudah menyodorkan
secarik kertas putih. Lalu, menunjukkan nomor telepon mana yang harus aku
hubungi. Karena di kertas itu, ada beberapa nomor telepon.
Singkat cerita, terdengar sambungan, tut...tut...tut...
"Hallo!" terdengar suara perempuan di sana. Segera saya menyerahkan HP itu ke
tangan beliau. Mereka pun ngobrol sebentar. Entah bahasa apa yang mereka pakai?
Yang jelasnya bukan bahasa Nasional Malaysia. Tidak lama kemudian, beliau
menyerahkan HP itu kembali ke tanganku.
"Sudah dekat ya, Bu?"
"Ha?" kembali dia memperlihatkan mimik tidak mengertinya pada ucapanku.
"Anak Ibu sudah mau datang?"
"Tak! Dia ada kursus dulu..."
"Jadi?"
"Nanti dia beri kau nomor telepon. Dan, dail nomor tu!" katanya. Aku hanya
mengangguk. Dan, tidak lama kemudian, nada dering sms HP-ku mengalun. Sebuah
sms masuk ke HP-ku itu seperti ini:
013-807#### (aku sembunyikan) galion namanya
trimakasih ya... bg tau emak saya suruh dail no ni
Aku pun menghubungi nomor seperti yang ada dalam suruhan sms itu. Sekali
lagi, terdengar bunyi tut...tut...tut...
"Hallo!" suara lelaki. Lagi-lagi, tanpa berkata apa-apa, saya langsung
menyerahkan HP ke tangannya. Mereka pun berbicara dengan bahasa yang sama.
Tiba-tiba mobil putih datang menghampiri yang sopirnya memperlihatkan gigi ke
arah kami.
"Sudah sampai!" kata ibu Ivy dengan nada gembira. Aku pun tersenyum. Saya
segera bangkit mengangkat tas cokelat pakaianku. Begitupula dengan ibu Ivy,
mengangkat koper rodanya. Melihat gelagat itu, Sang Ibu berbicara terburu-buru.
Setelah menyimpan barang di bagasi mobil, aku menghampiri sang Ibu tadi.
Sedangkan, Ibu Ivy memandangku dengan heran dari belakang. Ibu tersebut
menyodorkan HP itu kepadaku tanpa mengucapkan apa-apa.
"Anak Ibu sudah mau datang?" tanyaku lagi.
Beliau hanya memperlihatkan giginya. Entah dia tidak mengerti bahasaku atau
memang anaknya tidak akan datang? Entahlah! Walaupun heran bercampur penasaran,
aku tetap minta pamit, "Saya duluan, Bu!"
"Tunggu!" katanya tiba-tiba. Beliau merogoh tasnya dan meraih dompetnya.
Nampak dari tangannya, beliau meraih uang kertas dari dompetnya tersebut.
"Ha?" kini giliran saya yang memakai bahasanya. "Saya ikhlas kok membantu
Ibu. Saya bukannya mau dibayar!" kataku dengan senyuman manis. hehehe...
Beliau pun menatapku tanpa berkata-kata.
"Saya duluan ya, Bu!" kataku sekali lagi.
"Awak orang apa?" tanyanya tiba-tiba.
"O... saya orang Indonesia, Bu!" jawabku tanpa kehilangan senyuman ramah.
"Suamiku juga orang Indonesia. Tetapi, dia sudah meninggal..." katanya dengan
senyuman yang dipaksakan.
"O..., " kataku sambil menganggukkan kepala. "Saya jalan, Bu!" ucapku kembali
ketika menyadari kalau Ibu Ivy masih bengong di sana dengan mimik tidak
mengerti sama sekali perbincangan kami.
Aku melambaikan tangan yang terakhir kalinya saat aku berada di dalam mobil.
"Kenapa?" tanya Ibu Ivy
"O... Saya menolong dia dengan meminjamkan HP padanya. Kasihan! Dia tidak
punya telepon. Sedangkan, dia sudah lama menunggu anaknya. Tetapi, tidak
datang-datang juga...!" kataku menjelaskan panjang lebar.
"Hai-hati! Sekarang banyak orang jahat, Lin! Pura-pura kasihan, tetapi dia
akan menghipnotismu. Mengambil semua barang-barangmu... bla bla bla... " kata
Ibu Ivy
Hehehe... aku hanya tertawa lepas.
Kemudian, sejenak, aku berbalik memandang ke belakang. Beliau masih di sana.
Namun, bukan berdiri. Tetapi, duduk. Hampir saja air mataku jatuh. Saya merasa
seakan-akan yang di sana adalah ibuku yang sedang menungguku. Lalu, aku
mengetik sms dan mengirim sms itu ke nomor yang terakhir dihubungi, tadi.
Silahkan jemput Ibu Anda!
Beliau sudah lama menunggu...
Mohon maaf dan terimakasih!
Sebenarnya, aku ingin menelpon seseorang di antara mereka. Tetapi, aku takut
mereka akan marah karena menganggapku terlalu ikut campur urusan orang lain.
Maka, aku memilih diam. Walau masih saja dibayang-bayangi oleh wajah ibu itu.
"Dan, Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu
bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkan dia
dengan susah payah pula: mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan" (Al-Ahqaf:
15)
"Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan
sesuatu apa-pun! Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak!" (An-Nisak:36)
Dan, dibeberapa surah lainnya yang setiap selesai Allah menyuruh hamba-Nya
hanya menyembah kepada-Nya, menghargai dan berbuat baik kepada ayah ibu akan
senantiasa diikutkan. Anda bisa menemukannya di QS. Al-Isra ayat 23-24 atau
Luqman ayat 14-15.
Dalam hadist pula....
"Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw dan bertanya:Siapakah
manusia yang berhak saya layani dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu! Dia bertanya
lagi: Kemudian siapa? Nabi menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa
lagi? Nabi menjawab: Ibumu! Kemudian dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi?
Nabi menjawab: Ayahmu!" (HR. Bukhari & Muslim)
"Ada 3 golongan orang yang tidak akan masuk surga; 1) Orang yang durhaka
kepada kedua orang tuanya; 2) Lelaki yang tidak ada perasaan cemburu terhadap
keluarganya; 3) Perempuan yang menyerupai lelaki" (Riwayat Nasa'i, Bazzar &
Hakim)
"Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi dan berkata: Saya datang dan
hendak berbai'at kepadamu untuk berhijrah, tetapi saya tinggalkan kedua orang
tuaku dengan menangis. Maka jawab Nabi: Pulanglah dan perbuat kedua orang tuamu
itu dengan ketawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis." (HR
Bukhari)
"Ada seorang lelaki datang kepada Nabi dan meminta izin untuk pergi
berperang, kemudian Nabi bertanya: Apakah kedua orang tuamu masih hidup?
Dijawab: Masih! Maka, sabda Nabi: Berjuanglah untuk kedua orang tuamu itu!" (HR
Bukhari & Muslim)
Subahanallah! Betapa mulianya kedudukan seorang Ibu di dalam agama Islam. Di
dalam Al-Qur'an kedua orang tua berada di posisi kedua sesudah "hanya menyembah
kepada Allah". Begitupula di dalam hadist Rasulullah saw. Sampai-sampai berbuat
baik kepada kedua orang tua (terutama ibu) lebih besar pahalanya dibandingkan
jika dengan berjihad fisabilillah yang jelas-jelas balasannya adalag surga.
Tentu sebagai umat Islam, sudah pasti tidak asing lagi dengan kisah Alqomah
yang tidak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ketika sakratul maut hendak
menjemput karena lebih mementingkan istrinya daripada ibunya. Ada pula, kisah
Zuraij, pemuda Islam yang taat beribadah. Yang suatu hari dipanggil ibunya
ketika sedang sholat. Sehingga lahir hukum kalau sedang sholat sunnah,
panggilan seorang ibu wajib dijawab. Dengan kata lain, membatalkan sholat
sunnah tersebut. Kecuali, jika sedang sholat fardhu.
Saya pernah membuat Ibuku menangis ketika beliau sudah sangat cemas
menungguku pulang dari sekolah (waktu itu, saya masih di bangkus SMA kelas 3).
Saya pulang agak malam karena hari pertama mengikuti bimbel Gadjah Mada
Makassar. Padahal, saya sudah memberitahu beliau ketika pagi saat hendak
berangkat ke sekolah.
Namun begitu, beliau tetap cemas. Saat saya masuk ke lorong rumahku yang agak
remang-remang (Waktu itu, sudah menghampiri pukul 7 malam), tiba-tiba dari arah
depan, ada 2 sosok tubuh yang sedang berjalan ke arahku. Hati saya
berdebar-debar. Ternyata, itu adalah ibuku beserta kakakku.
"Kenapa telat pulang, Nur?" tanyanya dengan nada agak tinggi
"Bukankah tadi pagi Nur sudah memberitahu ibu?" tanyaku. Tiba-tiba ibuku
duduk. Terdengar suara tangisan. Ya, ibuku betul-betul menangis. Nasib, rumah
orang tidak berdempetan amat. Aku serba salah. Aku pun duduk di depannya.
"Ibu sudah lama menunggumu!" sela kakakku
"Ibu pikir, kamu sudah dilarikan oleh sopir mobil pete-pete!" kata ibuku di
sela-sela tangisnya.
Ingin rasanya saya tertawa mendengar alasan beliau. Tetapi, tidak jadi.
Malah, yang ada adalah air mata juga. (Aduh! ) Aku membimbingnya pulang ke
rumah, karena saat itu juga, ada seorang tetangga melalui jalan itu.
Sesampainya di rumah, aku meminta maaf beberapa kali sambil berbaring di
sampingnya. Ya, aku suka sekali tidur di samping ibuku sambil memeluknya.
Walaupun sudah sebesar ini. Ibuku kadang berkata, "Tidakkah kau malu seperti
anak kecil?" Biasanya, aku akan menambah eratkan pelukanku menanggapi
pertanyaannya itu. Ibuku adalah surgaku. hehehehe....
Mungkin, Anda-Anda akan merasa lucu dengan kata ibuku saat beliau menangis
saat itu? Ya, ibuku masih dibayang-bayangi kejadian yang menimpa 3 kakak
perempuanku beberapa tahun yang lalu (sudah 10 tahun lebih). Waktu itu, 3 kakak
saya Hasnawati, Musnira dan Arifah) pulang dari rumah kakak tertuaku yang
sedang sakit. Menjelang subuh, 3 kakakku itu pamit pulang karena sudah harus
masuk sekolah. Dan, tetangga di situ mencarikan mobil pete-pete untuk ke-3
kakakku tersebut. Malangnya, sudah sampai di tempat tujuan, si sopir tidak
menghentikan mobilnya. Malah, membuatnya semakin laju. Sehingga ke-3 kakakku
itu (kelas 6, kelas 4 dan kelas 3) memutuskan melompat dari mobil. Ya, mereka
melompat di tengah kelajuan mobil tersebut. Orang-orang mengira kalau yang
jatuh adalah baju. Akhirnya, ke-2 kakakku berpulang ke pangkuan-Nya. Yang hidup
cuma Kak Arifah yang kini sudah mempersembahkan aku 2 kemenakan kecil yang
lucu-lucu. Itulah yang selalu membayangi ibuku. Saat-saat menyakitkan
saat beliau ke luar daerah.
Jadi, marilah kita sama-sama belajar memuliakan ibu kita. Menempatkan
posisinya yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadist. Mari, sama-sama belajar
menjadi anak yang berbakti!
Semoga kita menjadi ahli-ahli penghuni surga karena sesungguhnya ridho Allah
adalah ridho ibu kita juga. Amin.
*Semoga bermanfaat dan bisa menjadi pelajaran buat kita semua, terutama untuk
diriku sendiri.
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel