E Learning itu tentang Pedagogi, Bukan Internet
Oleh : Reza Ervani
Alhamdulillah, insya Allah dalam waktu dekat, Rumah Ilmu Indonesia akan mulai
menggulirkan risetnya yang pertama tentang e-learning, yang langsung dilakukan
di lingkungan sekolah. Beberapa hari ini terasa sekali kesibukan bertambah,
mulai dari membaca berbagai macam literatur tentang media pembelajaran dan
interactive learning, membuat konsep penelitian, hingga memberikan pengarahan
pada mahasiswa yang akan ikut bergabung dalam proyek penelitian ini.
Jangan bayangkan ketika penulis menyebutkan proyek identik dengan uang
jutaan. Bahkan kami memulainya hanya dengan sebuah tekad bahwa apa yang akan
diperbuat ini dapat memberikan manfaat lebih luas bagi pengembangan edukasi
ummat. Walau kadang harus pusing juga karena terpaksa tambal kiri kanan, tapi
keyakinan bahwa Allah Maha Kaya itu terjawab selama ini dengan berbagai bantuan
yang masuk, baik bantuan materi hingga bantuan bimbingan dari pihak-pihak yang
lebih lama bergerak di bidang pengembangan e-learning.
Ada sedikit catatan yang menarik ketika menyusun konsep penelitian ini.
Ternyata banyak diantara kita yang salah kaprah mengidentikkan e-learning
dengan internet. Padahal bukan itu. Tanpa internet pun e-learning tetap bisa
berlangsung. Bahkan dengan sedikit pengetahuan tentang database, sebuah proses
sharing-content dapat berlangsung dengan sangat baik via media offline semacam
CD atau DVD.
Ketika www.rezaervani.com dibuat pertama kali, konsep yang mendasarinya
sangat sederhana, yakni berbagi koleksi. Dalam perjalanannya, proses berbagi
koleksi yang tadinya berlangsung dari 1 orang ke komunitas, harus mulai dirubah
polanya dari komunitas ke komunitas. Inilah target penulis ketika mulai
merancang tahapan-tahapan pengembangan sayap Research & Development di Rumah
Ilmu Indonesia. Proses-proses ini tidak melibatkan baris-baris koding program
di komputer, tapi sepenuhnya adalah tentang bagaimana efektifitas penggunaan
web itu dalam pembelajaran dapat tercapai. Berbagai instrument dalam evaluasi
hasil belajar misalnya menjadi pertimbangan dalam menyusun tahapan
berikutnya. Singkat kata, perancangan itu dimulai dari pemahaman tentang
pedagogi, bukan dari ketersediaan fasilitas internet.
Penelitian yang akan dilangsungkan diharapkan mampu membuka pintu lebih lebar
tentang berbagai hal yang melatar belakangi kesuksesan atau kegagalan sebuah
sistem pembelajaran elektronik. Sekali lagi inti utamanya terletak pada
proses belajar mengajarnya, yang barulah kemudian diejawantahkan ke dalam
perangkat lunak pembelajaran. Jika proses ini dibalik, maka yang terjadi
kemudian adalah kemandegan proses belajar, karena pembelajar dipaksa mengerti
sistem tertentu yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
LCMS seperti Moodle, juga dirancang dengan memperhatikan aspek pedagogis ini.
Karenanya kerjasama yang baik antara para praktisi dan akademisi pendidikan
serta para penggiat ICT menjadi diperlukan jika kita ingin menghasilkan
praktika yang benar di ranah e-learning ini.
Mudah-mudahan apa yang akan dilakukan oleh Rumah Ilmu Indonesia ini menjadi
salah satu menuju upaya tersebut. Insya Allah Amin.
Salam,
Reza Ervani
www.rezaervani.com
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani
alumni workshop : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani-ict
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.