Sahabat sahabat milist yang budiman, Telah sangat lama, saya terlibat dalam dialog-dialog terbuka dalam dunia maya, beranda masjid, ruang kelas, kelompok mentoring, dan tempat-tempat lainnya, kecuali dalam runag khusus mudzakarah keilmuan. Aktivitas yang menguras tenaga, pikiran; tidak jarang menodai pertemanan, melukai persahabatan dan menambah retas silaturahim. Semua itu telah menjadi aktivitas, dan tidak lagi menjadi aktivitas.
Membicarakan Fakta Kita, saya dan Anda, dapat dengan mudah menundukkan argumentasi seseorang jika kita lebih mengetahui fakta. Kelengkapan dan keluasan fakta yang kita ketahui, menjadi faktor penentu 'kemenangan' dan 'kewibawaan'. Mohon Anda sadari, bahwa secara umum, fakta merujuk pada obyektivitas, statistik, fisik dan kuantitatif. Adalah tidak mudah kita dibantah, ketika kita menyatakan : sesendok madu merupakan upaya kerja keras sekelompok lebah dengan sekitar 2000 kali penerbangan ke sumber-sumber madu. Membicarakan Rasa Kita, Anda dan saya, paling sulit bersepakat dalam mengungkapkan rasa, baik itu perasaan hati maupun perasaan sensori (bunyi, kecap lidah, warna, tekstur, aroma). Kita bisa berdebat tak terhenti menentukan, sayur asem dari daerah mana yang paling enak; warna musik apa yang paling merdu, gaya lukisan mana yang paling indah, kain jenis apa yang paling lembut dan arma mangga apa yang paling disuka. Membicarakan Tuhan adalah membicarakan rasa, jika kita tidak tunduk pada wahyu. Sekali lagi, prasyarat utamanya adalah ketundukan pada wahyu. Kita semua, memang berpendapat sesuai dengan sudut pandang. Maka pada sebuah wahyu pun, kita beragam dalam sudut pandang. Ibu Dwi Purnamasari dan Ustadz Syarwat Lc, memiliki sudut pandang yang berbeda pada ayat QS 47 : 4. Hanya satu pesan saya, jangan me-nuhan-kan sudut pandang. Berbijaklah dengan mengambil sudut pandang para ahli agama. Sahabat-sahabat milist yang budiman. Terima kasih atas kebersamaan yang baik ini. Wassalam Syarif Niskala http://syarifniskala.wordpress.com http://superwords.wordpress.com
