Alhamdulillaah, Was Sholatu Was Salamu 'ala Rosulillaah wa aalihii wa shohbihi ajma'in. Ammaa Ba'du.
Disela-sela kesibukan menyiapkan materi training terkait tugas kantor... ane coba menanggapi pertanyaan ini, walau sebenarnya permasalahan ini sudah dijawab oleh beberapa rekan-rekan di mailing list mualafindonesia. Namun akan ane formulasikan ulang dgn beberapa tambahan dari ane khusus utk mailing list komunitas rumah ilmu indonesia (reza ervani), yg nantinya juga akan ane forward ke mailing list lain, tentunya sesuai dgn yg ane ketahui, alami, dan pahami...bersumber dari background ane sendiri sebagai muslim tionghua, juga dari beberapa diskusi, serta berbagai kajian. Pertama-tama, harus dipahami Imlek dlm dialek Hokkian atau Inli dlm dialek Mandarin adalah suatu sistem penanggalam lunar solar, gabungan kalendar dgn sistem perhitungan siklus orbit bulan digabung dgn siklus orbit matahari, terutama terkait dgn pengamatan 4 musim. Tidak kaitan dengan ritual agama dan tradisi pada awalnya. Karena itu jika diperhatikan, tanggalannya agak mirip dgn kalender Hijriah yg merupakan kalender Qomariyah (bulan), tetapi selalu awal tahunnya berkisar di bulan Februari yg memang secara umum adalah awal dari musim semi. Dan biasanya di banyak negara terutama daerah tropis terlebih di garis khatulistiwa diiringan dgn hujan. Bahkan (sedikit OOT) di Indonesia hujan pd saat Imlek sudah mulai tdk dianggap bawa hoki, sampai ada pepatah ledekan, "Kong Xi Fat Choi (dialek Kanton), Ngungsi yok Coi"...akibat efek banjirnya. Dlm kultur agraris terlebih di negara 4 musim, khususnya daerah Asia Timur dan beberapa daerah Asia Tenggara (China, Taiwan, Singapura, Thailand, Vietnam, Korea, Jepang, dsb) merayakannya sebagai tanda bergembira dan bersyukur, karena mendapatkan kesempatan utk bercocok tanam lagi. Jadi jangan samakan kasus Imlek dgn kasus Natal dan Valentine. Dalam artian penanggalan, Imlek ini netral...tapi belum selesai penjelasannya. Kita lihat bagian berikutnya. Kedua, perayaan Imlek diwarnai tradisi netral yg merupakan simbol kebudayaan lokal dan tercampur nilai agama/kepercayaan tertentu serta mitos/tahayul. Coba lihat dari sisi lain, ada suatu kelebihan dan kekurangan, yg menurut ane lebih banyak mudhorotnya, yaitu bahwa kebiasaan orang Tionghoa adalah menghormati leluhur, berusaha melestarikan tradisinya, bahkan mengagungkannya...dan tdk jarang sampai ke praktek penyembahan. Dan kebiasaan ini sering kali sudah sampai level Taqlid buta...tidak boleh diganggu gugat. Apa kaitan Imlek dgn ritual Khong hu cu? Akan segera terjawab dgn mengetahui karakter orang Tionghoa/China yg telah ane tulis di atas. Sebenarnya kalender ini berusian 4000 an tahun lebih, bahkan ada yg menyatakan 10.000 an tahun lebih. Namun pernyataan ini pasti mengundang rasa penasaran...kenapa angka tahun Imlek sekarang ini 2559? Persis seperti kenapa tahun Masehi sekarang berada di posisi 2008. Jawabannya adalah penghormatan dan pengagungan. Tahun Masehi perhitungan angka tahunnya dilandasi semangat menghormati dan mengagungkan Nabi Isa as (Jesus) yg belakang ber-evolusi menjadi menuhankannya - Na'udzu billaah min dzaalik. Dan tahun Imlek perhitungan angka tahunnya dilandasi semangat menghormati dan mengagungkan Khong Hu Cu (Kong Fu tze dlm dialek Mandarin), terutama oleh petinggi/kaisar Dinasti Han yg berkuasa mulai dari Abad ke-3 sebelum Masehi (th 200 an BC), sampai dengan awal abad pertama Masehi (th 100-an AD). Dinasti Han memang menjadikan ajaran Khong Hu Cu sebagai sentral pola pemikiran dan landasan bernegara, yg kemudian diwarisi oleh banyak Dinasti di China, termasuk Dinasti Tang, Sung, dan Dinasti Ming (era dimana Laksamana Chengho (Zheng He dlm dialek mandarin) melakukan ekspedisi kenegaraan sambil mendakwahkan Islam). Khong Hu Cu, filosof China Kuno yg hidup sekitar Abad ke-6 sebelum Masehi - sezaman dgn Lao tze pembawa ajaran Tao, dan Sidharta Gautama pembawa ajaran Budhisme -, yg terkenal dgn ajaran kebijaksanaanya, sangat membentuk karakter orang Tionghoa apa pun backgroundnya, bahkan turut mempengaruhi daerah Asia Timur lainnya, terutama Korea dan Jepang. Banyak hikmah kebijaksanaannya yg dpt kita pelajari dan praktekkan...tentunya sepanjang tdk bertentangan dgn Aqidah dan Syariah Islam. Seperti menghormati yg tua, menghargai yg muda, menganjurkan dan mengutamakan pendidikan dan memakmurkan masyarakat, dsb. Kemudian rekan-rekan juga mulai bisa menebak, karena semangat penghormatan dan pengagungan, akhirnya ajarannya dijadikan agama (agama Ardhi) dan Khong Hu Cu dianggap sebagai Nabi, dipanjatkan sembahyang sbg penghormatan...dan kebablasan dijadikan dewa yg dlm kacamata lain berarti dipertuhankan. Jadi Khong Hu Cu sendiri sebenarnya tdk minta disembah, hanya ingin ajarannya yg penuh manfaat dan kebaikan disebarluaskan, dipraktekan dan dilestarikan. Ini mengingatkan kita dgn perjalanan bagaimana kaum Nabi Nuh as bisa musyrik, lantaran dimulai dgn orang-orang sholih mereka, terutama yg lima (ane lupa namanya, tapi bisa kita dapatkan keterangannya dalam berbagai kajian kitab Tafsir, Hadits, Aqidah)...utk menghormatinya dan mengenangnya dibuat patung. Lalu lambat laun seiring perkembangan zaman, pergantian generasi, tidak ada lagi yg tahu asal-usulnya, dan lambat laun berkembang dari mengenang dan menghormati menjadi menyembah...dan taqlid buta thd tradisi penyembahan ini. Jadi, Jangan heran bila perayaan Imlek sering (walau tdk selalu, tergantung daerahnya) diwarnai dgn acara sembahyang agama Khong Hu Cu, atau Tri Dharma - ajaran agama versi orang Tionghoa yg merupakan hasil merger/asimilasi ajaran Tao, Kong Hu Cu, dan Budha. Dimulai dari awal malam pergantian, ritual sembahyang sebelum main barongsai, mengusung tabut/peti sembahyangan terutama pd perayaan cap go meh - tgl 15 yg merupakan puncak dari perayaan Imlek, sembahyangan pd cap go meh, dsb. Ini mirip dgn kasus Quan Yu (Kwan kong dlm dialek Hokkien), awalnya adalah seorang ksatria yg bermoral luhur, setia kawan...dikenang...didoakan...lalu mendadak diangkat jadi Dewa. Inilah kebiasaan jelek orang Tionghoa. Memang ada tradisi simbolis yg menurut ane netral bahkan penuh hikmah yg baik yg perlu diaplikasikan, seperti makan-makan kumpul sekeluarga (kecuali masalah Babi (cu nyuk/Zhu Rou) dan Arak =P ) yg kaya simbol ajaran yg baik, atau pemberian angpao dari yg mampu ke yg kurang mampu...yg biasanya orang yg telah menikah dianggap mampu. Ada juga tradisi yg bias/ambigu/syubhat, yg kadang-kadang bisa dinilai ada celah bertentangan dgn Islam - juga konflik ini terjadi pd agama selain Islam, terutama dgn Kristen Protestan. Seperti tradisi barongsai, mungkin bagi orang Tionghoa itu biasa saja, hanya atraksi yg ada simbol nilai hikmah, tetapi bagi yg tdk akrab dgn simbol tsb....mungkin bisa dilihat sebagai praktek TBC (Tahayul, Bid'ah, dan Churofat). Atau cerita asal-muasal angpao, cerita asal-muasal shio yg sering mewarnai perhitungan penanggalan Imlek. Dan jelas ada tradisi yg haram, syirik, atau jelas-jelas TBC, intinya bertentangan dgn Islam, terutama masalah sembahyangan plus plus.. yah plus sesajinya (samceng), hionya, tradisi tdk boleh tutup pintu, tradisi tdk boleh bersih-bersih (menyapu), dsb. Apakah ada orang yg mengkritisi praktek ini? Terutama orang China? Ada, tetapi tidak banyak, dan tenggelam dlm karakter penghormatan serta pengagungan leluhur. Bahkan sejak zaman Khong Hu Cu, ia sendiri pernah dikritis oleh Lao tze pembawa ajaran Tao - filsafat yg pd dasarnya menegaskan konsep Tuhan, penciptaan alam dan keseimbangan/harmoni alam semesta...yg kemudian berevolusi menjadi ajaran yg berbeda dan cenderung mistis. Mereka pernah bertemu, lalu sebelum berpisah Lao tze berpesan kpd Khong Hu Cu agar jangan terlalu memegang teguh tradisi leluhur, karena mereka telah mati, dan belum tentu tradisi itu sempurna. Dan juga ajaran Kong Hu Cu ini - yg bagi sebagian orang dianggap tdk sekedar filsafat, melainkan sebagai agama - pernah mengalami naik turun dominasi penyebaran dan pengamalan. Misal pd Abad ke-3 sebelum Masehi, sempat diberangus dan dilarang oleh Dinasti Qin, bahkan buku-bukunya diburu dan dibakar. Atau pd masa komunisme terutama pd revolusi kebudayaaan di tahun 1960-1970, seperti agama lainnya, ditindas, dan efeknya banyak orang China Daratan tdk beragama, atau bahkan atheis (juga tdk mengakui Tuhan dan `tuhan-tuhan` (politheisme)). Kritisi ajaran dan pengaruh politik membentuk 2 kubu orang Tionghoa thd Imlek, yaitu: =1= Sebagai tradisi perayaan tanpa ada warna agama. Ini dianut mayoritas di China Daratan. =2= Sebagai tradisi agama Khong Hu Cu. Ini dianut mayoritas non China Daratan dan perantauan, terutama di Indonesia. Bagi orang kebanyakan di Indonesia, terutama Non-Tionghoa, jelas akan lebih cenderung mengatakan Imlek adalah tradisi agama, karena memang kita paling banyak ketemu kubu yg nomor dua ini. Sehingga tak heran dari beberapa pemuka Islam, dan juga ada dari Kristen terutama yg Protestan, mengkritik bahkan sampai mengharamkan perayaan Imlek. Tapi kalau jalan-jalan ke negara lain, mayoritas mereka menganggap ini hanya perayaan. Mirip seperti Thanksgiving di Amerika...perayaan selamatan saja. Cuma karena di daerah itu mayoritas beragama tertentu, makan pada acara selamatan biasanya diisi doa versi agama tertentu yg menjadi mayoritas. Dlm kacamata tertentu, bisa dianggap dimaklumi karena melihat backgroundnya, terutama background budaya dan agama di daerah tsb. Bahkan beberapa aliran Budhisme yg berkembang di etnis Tionghoa merayakan Imlek dgn hanya berdoa dan makan-makan, nyaris sunyi dari gegap gempita pesta, karena ini tradisi dan tuntunan agama mereka. Dan masih perayaan Imlek, di daerah yg etnis Tionghoanya mayoritas Kristiani, biasanya perayaan dilakukan dgn acara kebaktian doa atau misa. Sama seperti di daerah yg etnis Tionghoanya Muslim, biasanya perayaan dilakukan dgn selamatan sambil silaturahim...agak mirip dgn tradisi halal bi halal. Akan kurang lengkap kalau kita belum menelaah penjelasan sisa bagian terakhir berikut ini . Ketiga, ada beberapa tuntunan utama dalam Islam yg mempengaruhi kita menentukan sikap thd Imlek dan tradisi mayoritas masyarakat non-muslim lainnya. Ada beberapa kaidah/tuntunan utama dan penting dlm Islam. Namun karena keterbatasan waktu, mohon maaf ane tdk bisa kutip dalil/referensinya. Mungkin bisa ditambahkan rekan-rekan yg lain. (A) Pd dasarnya segala sesuatu terutama yg terkait muamalah (bukan terkait ibadah mahdhoh, bukan terkait ritual) dianggap boleh, kecuali sampai ada larangan yg jelas. Hal yg tdk dijelaskan/didiamkan dianggap kelonggaran dan rahmat Allah. Seperti memakai HP, Tv, Radio, Internet, Adzan memakai pengeras suara, dsb...ini semua tdk dirinci terutama dlm larangan yg ditentukan Allah dan Rasul-Nya, maka boleh kita gunakan, tidak terlarang utk memakainya. (B) Pd dasarnya segala sesuatu terkait dgn ibadah mahdhoh/ritual harus mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dan haram serta sesat untuk membuat hal-hal baru terkait tuntunan itu, baik menambahi atau pun mengurangi. Praktek manipulasi/penyimpangan ini sering dinamakan Bid'ah. By Default, secara umum dan garis besar...semua Bid'ah adalah sesat dan berdosa, menjerumuskan orang ke dalam neraka. Contoh kasus: Sholat 5 waktu dipangkas jadi 3 waktu seperti kelakuan para Inkarus-Sunnah, memangkas jumlah roka'at sholat, Tahlilan dianggap Ibadah wajib (utk Sunnah atau Bid'ah Hasanah ada khilaf, dan ane tdk mau membahas karena bukan pd tempatnya, dan tdk punya kompetensi), meniadakan sifat Allah (Jahmiyah), meniadakan keberadaan takdir Allah (Jabbariyah), meniadakan keberadaan Qudrot dan Irodat Allah (Qodariyah), dsb. (C) Pd dasarnya dilarang meniru karakter dan tradisi kaum non-muslim, terlebih yg kental aroma syirik dan menyentuh banyak area yg diharamkan oleh Agama. Contoh kasus, anjuran atau kewajiban (tergantung fatwa ulama yg dipegang) memelihara jenggot dan mencukur kumis, agar berbeda dgn non-muslim, terutama pd zaman Nabi Muhammad saw banyak orang Yahudi, Kristiani, dan Majusi yg memelihara kumis dan meniadakan jenggot. Jika meniru mereka dgn memelihara kumis dan meniadakan jenggot maka dihukumi haram atau makruh. (D) Keutamaan Muslim adalah gemar pada hal-hal yg bermanfaat, meninggalkan hal-hal yg kurang/tidak bermanfaat (walau tdk dilarang) apalagi jika melalaikan, dan sederhana dlm segala sesuatu, serta larangan pemborosan. Contoh kasus: bermain catur, mempunyai hobi koleksi barang konsumtif tertentu - seperti perangko, baju, dsb - yg halal boleh saja (mubah). Tetapi lebih baik ditinggalkan karena bisa dimanfaatkan pd hal yg berguna, seperti mengaji, sedekah, dsb. Dan wajib ditinggalkan bila sampai melalaikan dan berlebihan serta terjadi pemborosan, seperti lupa sholat, lupa/tidak zakat, melupakan keadaan tetangga, menjadi bakhil/pelit, dsb. (E) Hindari hal yg syubhat/samar/meragukan, agar tidak terjebak dalam hal yg dilarang (haram) dan hal yg berdosa. Hadits ttg perintah ini jelas ttg menghindari syubhat. Contoh, bila jelas-jelas di daerah mayoritas non-muslim yg bukan ahlul kitab (musyrikin) terutama daerah terpencil yg transaksi perdagangan lintas daerahnya minim, maka hindari makan daging, cukup makan seafood dan vegetarian. Kenapa? Karena dikhawatirkan bekas sesajian, atau umumnya tdk disembelih, atau penyembelihnya bukan muslim, bukan yahudi, bukan kristiani. (F) Anjuran untuk memanfaatkan kelonggaran (rukhshoh) yg merupakan rahmat Allah, memilih yang termudah dari beberapa alternatif yg ada. Banyak contoh dlm hadits Nabi Muhammad saw yg memberi contoh kasus mengambil rukhshoh, seperti memilih berbuka puasa pd saat puasa sunnah bila ditawari hidangan, menjama' sholat pd saat melakukan perjalanan jauh, dsb. (G) Menghukumi berdasarkan hal dan bukti yg nyata, tdk boleh menjadikan prasangka atau ilham dan hal-hal sejenis sebagai landasan pengambilan hukum/keputusan. Contoh, bila bertamu dan disuguhkan air minum atau makanan dari orang non-muslim, terutama dari ahli kitab (yahudi, kristiani), dan hidangan itu bukan babi, bangkai, darah, ataupun minuman keras, apalagi mereka berdomisili dan mayoritas daerah muslim dan tdk lazim mengkonsumsi barang haram...maka sebaiknya kita makan/minum. Tidak usah berpikiran terlalu panjang dan terlalu menganalisa serta khawatir berlebihan ttg kehalalannya, seperti memikirkan bagaimana cara menyembelihnya, bagaimana cara memasaknya, dsb. Kecuali bila telah jelas ada bukti pelanggaran (bukan sekedar insting/prasangka) atau hal yg menjatuhkan kpd haram, maka tdk boleh dikonsumsi. Kalau khawatir, obatnya bertanya, tanyalah secara sopan bagaimana cara memasaknya, dan jelaskan dgn ringkas serta penuh hikmah, serta peganglah ucapannya/jawabannya, terutama bila orang tsb secara kebiasaan bermoral baik. Keempat, ada perbedaan cara pandang/ijtihad dalam memahami tuntunan utama dlm Islam dan menentukan sikap. Kaidah dasar jelas, tetapi cara orang memahami bisa berbeda-beda, tergantung backgroundnya. Begitu juga dgn kaidah-kaidah di atas bila dikaitkan kasus serupa Imlek. Secara umum, hampir selalu ada 2 kubu orang, yaitu yg ketat dan berhati-hati, dan yg cenderung mengambil kelonggaran selama tdk ada larangan yg jelas. Ini sudah Sunnatullah, sejak zaman dahulu. Seperti pd zaman sahabat, ada 2 kubu umum, yaitu yg ketat dgn sahabat Abdullah Ibnu Umar ra sbg ikonnya, dan sahabat Abdullah Ibnu Abbas sb ikon dari golongan yg lebih luwes. Juga kasus simbolis perbedaan ijtihad, yaitu pd saat Nabi Muhammad saw memberikan perintah utk sholat Ashar di tempat perkampungan Bani Quroidzhoh - tatkala hendak menumpas pemberontakan Bani Quroidzhoh yg melanggar perjanjian dan ikut membokong pd saat perang Ahzab, pdhal waktu sholat Ashar terbatas. Ada yg mengikuti perintah tekstual dgn bergegas pergi lalu sholat Ashar di perkampungan Bani Quroidzhoh, ada yg menafsirkan sholat Ashar dulu lalu bergegas pergi ke perkampungan Bani Qurodizhoh setelah mengamati konteksnya. Dan Nabi Muhammad saw mendiamkan, tdk menyalahkan salah satu dari mereka. Ini juga mempengaruhi terkait penentuan sikap terhadap imlek dan kasus serupa. Ada yg mengharamkan mengikuti tradisi Imlek - ini mayoritas muslim terutama di Indonesia, terlebih yg non-Tionghoa. Ada yg lebih luwes dgn mengizinkan selama tdk melanggar larangan Agama, selama tdk mengkonsumsi barang haram, selama tdk melakukan praktek syirik, selama tidak melalaikan menjalankan perintah agama. Dan bila ada tradisi yg menyimpang, pilihannya tinggalkan atau rubah bila mampu. Bahkan bila bisa, ikat tali silaturahim dan warnai dgn nilai Islam. Mayoritas muallaf di Indonesia yg berasal dari komunitas Tionghoa umumnya mengambil pendapat yang kedua, yang lebih luwes. Mereka ikut perayaan makan-makan dan bagi angpao, tapi tidak ikut sembahyang, agak menghindari ritual tahayul, dan tdk mengkonsumsi barang haram, terutama Babi dan Arak. Kelima, ini hanya tradisi, produk budaya manusia, seiring perjalanan zaman dan kebutuhan manusia, akan berubah. Ini bagian terakhir yg ane lebih khususkan utk etnis Tionghoa, walau bisa diambil pelajarannya oleh golongan non-Tionghoa. Imlek sekedar tradisi, dan bisa berubah seiring perkembangan zaman. Nantinya akan ada modifikasi atau bahkan lenyap, bila tdk sesuai dgn kebutuhan zaman, dan bagi umat Islam juga akan dilenyapkan atau mungkin dimodifikasi bila bertentangan dgn tuntunan Agama. Contoh, tradisi Angpao, sekarang ini ada wacana `Green Angpao`, yaitu memakai kertas angpao daur ulang atau angpao virtual. Wacana ini muncul karena perkembangan zaman yaitu perkembangan teknologi Internet dan masalah pemanasan Global. Sama dgn tradisi perayaan Imlek, cepat atau lambat akan berubah. Ini produk manusia. Jangan terlalu dipegang sampai dianggap seperti nilai agama, bertaklid buta, tidak boleh ada penyesuaian, yg jika tdk dilakukan dianggap berdosa! Kalau sampai kita melakukan hal ini, maka ini tidak benar, jelas salah. Seorang Tionghoa masih dianggap orang Tionghoa walau tdk merayakan Imlek. Tetapi jika mengingkari adanya penanggalan Imlek maka dipertanyakan KeTionghoaannya, karena mengingkari sejarah dan budaya Tionghoa. Dan jika mengingkari nasabnya, sampai anti dgn marganya, anti dgn segala yg berbau Tionghoa, maka dipertanyakan KeTionghoaannya, dan mungkin KeIslamannya...sebab dlm Islam ada larangan mengaku-ngaku orang lain sebagai orang tua, dlm perspektif luas termasuk larangan mengingkari nasab; juga ada tuntunan bahwa mempelajari Nasab sebagian dari hikmah Agama. Orang Tionghoa akan tetap KeTionghoannya bukan karena Imlek semata, tetapi lebih karena menghargai Nasab (Marga), dan berupaya mempelajari kebudayaannya, terutama sastra dan bahasanya serta ajaran filsafat/hikmah kebijaksanaannya..juga perkembangan IpTeknya terutama ilmu pengobatannya. Inilah tradisi yg harus dipelihara dan jelas bermanfaat, ketimbang tradisi berpesta/perayaan yg ada celah pemborosan yg diharamkan Islam. Dan ane suka pepatah Arab yg menyatakan kira-kira seperti ini,"Orang Arab adalah yg lisannya berbahasa Arab". Kita sebagai orang Tionghoa mestinya bisa meniru pepatah ini (dan ini `tamparan` serta kritik kpd ane pribadi yg hanya punya marga tetapi tidak bisa berbahasa Mandarin...doakan ane semoga bisa berbahasa Mandarin kelak). Dalam sudut pandang lain, ane mau tegaskan bahwa seorang Tionghoa yg menganut Islam, tetap sebagai orang Tionghoa, tidak akan kehilangan statusnya sebagai orang Tionghoa. Jangan tabrakkan/adukan/konfrontasikan/pertentangkan tuntunan Islam dgn nilai dan kebudayaan Tionghoa yg baik...apalagi yang jelas-jelas tidak bertentangan dgn tuntunan Islam. Islam adalah agama yg selalu (dan satu-satunya) mengakui dan menghargai keberagaman etnis dan budaya. Ini dpt kita temukan dlm Al-Quran dan Hadits. Keberagaman ini Sunnatullaah, dan perlu dikenal serta diketahui. Tidak ada perbedaan secara hakiki, semua etnis ini sama-sama manusia. Tidak ada yg mulia atau hina, semua sama. Yang membedakan di hadapan Allah hanyalah ketakwaan. Seorang Tionghoa tdk mulia karena budayanya, justru bisa hina dgn budayanya terutama yg terkait dgn pengagungan dan penyembahan leluhur. Seorang Tionghoa mulia karena melakukan prinsip kebaikan, dan beragama Islam serta ia bertakwa kepada Allah. Itu saja! Dan hukum ini berlaku utk semua etnis tanpa terkecuali. Demikian dari ane, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Yg benar dari Allah semata, dan yg salah dari ane semata...Allah dan Rasul-nya terlepas dari kesalahan dan kekhilafan serta kebodohan ane. Subhaanakalloohumma Wa bihamdika, Asyhadu an Laa Ilaaha Illaa Anta, Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaika. Wassalam, Nugon --- In [email protected], Reza Ervani <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bismilahirrahmanirrahiim > Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, > Alhamdulillahirobbil 'alamin > Mau tanya nih, beberapa hari ini saya terus memperhatikan acara di METRO TV seputar Tahun Baru Imlek. Saya pribadi masih berpendapat bahwa Tahun Baru Cina sebenarnya adalah bagian dari Budaya Cina yang terlepas dari kepercayaan/aqidah tertentu. Tapi yang kemudian saya tangkap dari perayaan-perayaan yang berlangsung, ada identifikasi antara Imlek dengan aqidah lain seperti Budha dan Kong Hu Cu. > > Ada yang bisa memberikan paparan cukup lengkap tentang hal ini ? > > Mohon bantuannya, agar kami dapat menyikapi ini dengan tepat dan bijaksana. > > Terima kasih sebelum dan sesudahnya, > > Salam, > Reza Ervani > www.rezaervani.com > komunitas http://groups.yahoo.com/group/rezaervani >
