MEMAAFKAN

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia seringkali melakukan kesalahan, 
baik kesalahan yang disengaja maupun tidak, baik kesalahan yang berhubungan 
dengan Allah SWT, Sang Pencipta, maupun kesalahan yang berhubungan dengan 
sesama manusia. 

Setelah melakukan kesalahan, manusia dituntut untuk meminta maaf. Karena setiap 
kesalahan yang dilakukan oleh manusia itu seperti debu di kaca. Apabila debu 
itu tidak rajin dibersihkan, maka debu di kaca akan menebal. Ia akan menjadikan 
kaca kotor. Maka begitu pula hati manusia. Ketika kesalahan itu tidak 
dimintakan maaf, maka kesalahan itu akan menumpuk. Pada akhirnya 
kesalahan-kesalahan itu akan menutup hati manusia hingga membutakannya.

Untuk kesalahan kepada Allah SWT berupa pembangkangan atas aturan yang telah 
ditetapkannya, manusia cukup bertaubat kepada Allah SWT dan bertekad untuk 
tidak mengulangi kesalahan. Lain halnya bila kesalahan itu dilakukan kepada 
sesama manusia. Manusia dituntut untuk meminta maaf kepada orang yang 
disakitinya. 

Bagi orang yang disakiti, memaafkan kesalahan bukanlah suatu kewajiban. Ia 
berhak untuk tidak memaafkan. Apalagi bila kesalahan tersebut sangat besar. 
Namun, dalam hal ini, hendaklah manusia meneladani sifat Allah SWT yang Maha 
Pengampun.

Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada kita, maka ia telah memberikan 
kotoran kepada kita. Kita tentu wajar bila marah karena kita dilecehkan dan 
disakiti. Kita tentu akan mengingat kesalahan tersebut dan sulit untuk 
melupakan sesuatu yang menyakitkan yang terjadi pada kita, apalagi bila 
perbuatan tersebut dilakukan secara sengaja. Nafsu kita akan selalu membisikkan 
kepada kita untuk membalas perbuatan tersebut. Inilah yang disebut dengan balas 
dendam.

Namun banyak orang sering lupa, bahwa kesalahan atau perbuatan yang menyakitkan 
itu ibarat kotoran dan sampah. Kotoran dan sampah bila kelamaan disimpan akan 
menjadi sarang penyakit serta sumber bau busuk. Maka begitu pula dengan dendam. 
Mendendam berarti menyimpan kesalahan dan kotoran orang lain dalam jiwa kita. 
Dan memaafkan adalah membuang kesalahan dan kotoran orang lain dari dalam jiwa 
kita. Artinya pula, kita telah membarsihkan jiwa kita dari segala kotoran.

Tentunya memaafkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita akan 
merasakan suatu kesulitan yang sangat dalam memaafkan ini karena ada hawa nafsu 
yang menghalangi kita. Namun Allah SWT telah berfirman, bahwa “Perkataan yang 
baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan 
perbuatan yang buruk.” Di ayat yang lain Allah SWT juga berfirman bahwa  
“Pemberian maafmu adalah yang lebih dekat kepada ketkwaaan.” Sedangkan derajat 
yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah derajat ketakwaan. Akhirnya, kepada 
Allah lah kita menarik teladan.


Kirim email ke