Umat yang Rabun Dekat
Dr. Muhammad Syafii Antoni, M. Ec
Diambil dari Majalah SABILI Edisi No. 19 Tahun XV 26 Rabiul Awal 1429 H

Teladan kepemimpinan itu sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah saw
karena ia adalah kepemimpinan yang holistic (sempurna), accepted (bisa
diterima) dan proven (suri teladan). Sempuna karena beliau pemimpin yang
mampu mengembangkan kepemimpinan dalam berbagai bidang termasuk
diantaranya: membangun pribadi, bisnis, kemandirian, kehidupan Rumah
tangga yang harminis, tatanan masyarakat yang akur, system politik yang
bermartabat, system pendidikan yang bermoral dan mencerahkan, dan system
hokum yang berkeadilan, dan strategi pertahanan yang jitu, serta
memastikan keamanan dan perlindungan warga Negara.

Kepempinan accepted, karena diakui lebih 1,3 milyar manusia. Sedangkan
kepemimpinan yang proven karena sudah terbukti sejak lebih dari 15 abad
yang lalu hingga hari ini masih relevan diterapkan. Hanya saja terkadang
kita enggan untuk mengambil mutiara hikmah dari suri teladannya karena
keangkuhan atau kebodohan diri.

Faktor lain  yang mereduksi nilai keteladanan kepemimpinan dan manajemen
Rasulullah saw adakah rabun dejat kaum muslim. Yang dimaksud dengan
rabun dekat adalah ketidakmampuan melihat perjalanan hidup Rasulullah
saw secar alengkap dan holistic baik dimensi sosial, politik, militer,
edukasi dan legal, kemudian memformulasikan nilai-nilai keteladanan
tersebut kedalam suatu model yang diteladani dengan mudah.

Saat ini cara pandang kebanyakan kita terhadap Rasulullah saw adalah
satu sisi. Artinya, hanya menjadikan Muhammad saw sebagai pemimpin
keagamaan saha. Daerah teritorialnya hanya dimasjid dan mushalla. Kita
menjadikan Muhammad saw sebagai panutan saat kita shalat saja, ttapi
bila sudah keluar dari masjid lalu masuk ke bank atau lembaga keuangan
lainnya, maka suri teadannya ditinggalkan.

Setiap musim maulid tiba, banyak diantara kita yang membaca
shalawat-shalawat panjang. Diba dan Barzanji. Tetapi semua itu sebatas
dikumandangkan di masjid, madrasah dan rumah-rumah saja. Saat kita
kembali ke kantor ternyata kantor kita kosong dari nilai-nilai akhlak dn
keluhuran budi perkerja sepertai yang diajakarkan Barzanji.
"Walhasil, shalawat terus kita baca, barzanji selalu kita
kumandangkan, tetapi perusahaan kita semakin jauh dari teladan
Rasulullah saw. Bahkan tidak jarang semakin hari semakin dekat ke budaya
Yahudi dan Kapitalistik. Si kuat memakan silemah. Keuntungan materi 
lebih diutamakan dari akhlak dan syariah.

Disisi lain, terkadang kita juga terjebak kedalam "kultus" yang
tidak dibenarkan syariah dan Rasulullah saw sendiri. Tak dipungkiri
bahwa memuliakan Rsulullah saw adalah wajib, membaca shalawat kepadanya
adalah sunnah, membela kehormatannya adalah fadhu kifayah bahakan bisa
menjadi fardhu ain dalam situasi tertentu. Dalam hal ini, tentu tidak
harus membawa kita ke jurang "pendewaan" Rasulullah saw uang
tidak proporsional seperti diajarkan al-Quran dan Sunnah Shahihah.

Rasulullah saw sendiri dalambeberapa kesempatan pernah mengatakan
"janganlah kalian terlalu mengagungkan-agungkan aku seperti halnya
kaum Kristen mendewakan Isa bin maryam, sesungguhnya aku ini manusia
biasa, putra seorang wanita Makkah yang memakan daging yang dikeringkan
(lauk sederhana). Panggillah aku Rasulullah dan hamba Allah" (HR.
Bukhari dan Tirmidzi).

Banyak diantara kita yang memposisikan Rasulllah saw terlalu melangit,
tinggi dan jauh diatas sehingga mendekati posisi dewa atau anak dewa.
Akibatnya beliau menjadi "asing" bagi kita dan tidak bisa ditiru
dan dijadikan suri tauladan lagi.

Muhammada saw adalah manusia yang luar biasa, namun bukan tidak mungkin
untuk diteladani dan diikuti jejak-jejak kesuksesannya yang multi
dimensi. Salah seorang guru leadership menyatakan bahwa pemimpin yang
baik memberikan inspirasi. Muhammad saw sebagai teladan bisa kita copy
paste.

Muhammad saw telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang ideal
dengan memperkenalkan nilai-niai kesetaraan universal, semangat
kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law, dan sebagainya. Kelhuran
akhlak Rasulullah menjadi salah satu faktor kesuksesan beliau, baik
sebagai pribadi, pemimpin keluarga, bisnis dan masyarakat. Kesuksesan
tersebut  bukanlah kesuksesan yang berumur pendek, tetapi merupaan
kesuksesan yang berumur panjang, melebihi usia beliau sendiri, karena
selalu dikenang dan diteladani sepanjang masa (Adhes Satria)


Kirim email ke