Pada awal abad kedua Hijriyah, muncul satu kumpulan dari kalangan Muslimin yang 
menamakan diri: “Orang-orang Sufi dan Zuhud”. Mereka mempunyai cara hidup 
tersendiri, dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama.
   
  Mereka begitu intens dalam menonjolkan gaya ini seakan ajaran agama terbatas 
pada tasawwuf dan kezuhudan saja. Mereka mengajak orang mukmin agar menghindari 
nikmat-nikmat duniawi, meninggalkan pakaian-pakaian yang elok, makanan-makanan 
yang lezat dan tak mau tinggal di tempat-tempat yang mewah. Mereka mencela 
orang-orang yang menikmati pemberian-pemberian Ilahi ini, dan mencap 
orang-orang seperti itu sebagai “ahli dunia” dan jauh dari sisi Allah. 
   
  Ajaran ini sebelumnya pernah ada di Yunani, India, atau di belahan dunia lain 
sebelumnya. Lalu menyebar pula dikalangan orang-orang Islam, yang kemudian 
mereka celup dengan warna agama.
   
  Cara dan ajaran seperti ini berkesinambungan dan memberikan pengaruh yang 
besar kepada generasi-generasi berikutnya. Bahkan bisa dikatakan, mereka telah 
berhasil membentuk suatu mazhab baru. Maka sebagai akibatnya, terbentuklah 
kelompok yang tidak menghargai pilar-pilar kehidupan, tidak terikat dengan 
pekerjaan-pekerjaan, disamping juga menimbulkan kemunduran dan keterbelakangan 
di negara-negara Islam.
   
  Pengaruh mazhab dan falsafah ini tidak terbatas pada orang-orang yang 
menamakan diri mereka sebagai sufi saja, bahkan cara berfikir yang unik yang 
bertopengkan zuhud, taqwa dan menanggalkan dunia, merayap pula ke semua 
tingkatan dan kelompok-kelompok mazhab Islam yang lain, yang mereka sendiri 
kadang-kadang menamakan dirinya sebagai anti sufi.
   
  Tapi harus kita katakan juga, bahwa tidak semua orang yang menamakan diri 
mereka sufi, mempunyai cara berfikir dan hidup seperti itu. Dan tidak diragukan 
lagi, bahwa cara ini harus kita golongkan sebagai jenis penyakit sosial, suatu 
penyakit berbahaya yang bisa melumpuhkan semangat dan mentalitas kehidupan 
masyarakat Muslim. Penyakit seperti itu harus diperangi dan dibersihkan. 
   
  Tapi, sayang sekali, usaha untuk itu tidak pernah ditujukan untuk 
membersihkan cara dan tata berfikir mereka. Penyerangannya selalu terfokus pada 
nama-nama dan pribadi saja, dan kadangkala untuk mendapatkan kedudukan duniawi 
semata-mata. Dan tidak sedikit orang yang memerangi penyakit tersebut, tanpa 
disadari, justru ikut terjangkit dan menyebarkan kuman-kumannya kepada yang 
lain. Mungkin hal ini disebabkan ketidak pahaman dan terbatasnya ilmu 
orang-orang yang tampil memerangi pikiran tersebut.
   
  Oleh karena itu, penyakit dan cara berfikir yang kacau dan ngawur ini harus 
kita perangi. Maka berikut ini adalah penjelasan Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru 
dari seluruh imam-imam mazhab dalam Islam, tentang perkara penting ini dalam 
bentuk dialog langsung dengan tokoh sufi yang sangat terkenal, Sufyan Al-Tsury, 
insyaAllah merupakan petunjuk dan jawaban yang paling lengkap dalam rangka 
menolak cara berfikir yang salah ini. Dan Alhamdulillah, jawaban tuntas Imam 
Ja’far tersebut masih tetap terjaga dan tersimpan rapi di banyak buku-buku 
Islam sampai saat ini.
   
  Alkisah, pada suatu hari, Sufyan Al-Tsury yang hidup di kota Madinah, datang 
mengunjungi Imam Ja’far Ash Shadiq r.a. Saat itu dia melihat imam sedang 
memakai pakaian yang rapi dan sangat elok, bagaikan tabir halus yang memisahkan 
antara kuning telur dengan putihnya. Sufyan mengkritik, “Anda tidak selayaknya 
menceburkan diri Anda dalam kemewahan duniawi. Dari Andalah diharapkan 
ketakwaan, kezuhudan dan sifat menghindari dunia.”
   
  Lalu imam berkata, “Dengar baik-baik hai Sufyan. Akan aku katakan sesuatu 
yang berguna untuk dunia dan akhiratmu. Apabila engkau keliru dan tidak 
mengetahui pandangan agama Islam yang sebenarnya tentang perkara ini, maka 
ucapanku akan betul-betul berguna. 
   
  Baca selengkapnya, klik disini >>>



 between 0000-00-00 and 9999-99-99        

Kirim email ke