Sahabat anggota milist dan tim moderator yang budiman,

Semoga di akhir pekan yang membahagiakan ini, sahabat berada dalam kesehatan 
yang prima dan kebahagiaan bersama keluarga tercinta yang merona.

.....

Menilai orang lain adalah keniscayaan.  Setiap saat, serta untuk berbagai 
kepentingan, kita selalu menilai orang.  Larangan atau himbauan untuk tidak 
menilai orang lain, selain tidak berguna, juga melepaskan diri dari keniscayaan 
kehidupan.  Mungkin yang seharusnya kita hindari adalah merendahkan orang lain. 
 Dan seperti dengan mudah kita amati, menilai tidak sama dengan merendahkan.  
Menyampaikan hasil penilaian buruk atas sebuah pribadi dengan santun dan penuh 
kasih sayang, bisa jadi merupakan sebaik-baiknya nasihat.

Kita memilih telur dari kulitnya; seperti kita memilih orang - dari yang bisa 
kita saksikan. Maka berhati-hatilah dengan penampilan Anda. Dunia ini tidak 
memiliki cara lain yang lebih cepat dalam membangun penilaian terhadap dan 
mengenai Anda, kecuali melalui yang dapat mereka lihat dari luar (Mario Teguh).

....

Tiga hari terakhir ini, saya pulang-pergi kerja menggunakan jasa angkutan umum. 
 Ternyata begitu banyak pelajaran selama 3 x 2 x 120 menit perjalanan menempuh 
jarak 3 x 2 x 35 km.  Salah satunya, saya kisahkan untuk kita semua, berikut 
ini.

Dalam pergaulan di jalan, saya menyaksikan dari jarak yang dekat, ada sebuah 
pribadi dengan gambaran seperti ini.  Mukanya lusuh, kuyu dan kotor; hampir 
tidak berhenti menghisap rokok di tengah kepengapan metro mini; badannya bau; 
pakaiannya kotor dan merupakan seragam tidur; jari tangan kanannya kerempeng 
(seperti pernah terkena lepra); bicaranya kasar merendahkan orang lain; 
umpatannya hina dan kotor; menerobos lampu merah; memotong jalur kendaraan lain 
seenaknya; memakai sendal jepit; mukanya (maaf) jelek; rambutnya kotor; 
kumisnya panjang tidak teratur; membuang gelas plastik bekas minumnya di jalan 
raya; meludah di ruang kemudi; menghardik polisi.  Dia adalah seorang supir 
metro mini.

Saya telah meminta beberapa kawan dekat untuk menilai pribadi ini, sisi baik 
apa yang dapat dinisbahkan kepada supir malang ini?  Dari 4 orang kawan yang 
diminta pendapatnya, tidak ada yang mampu mengungkapkan sudut pandang sisi baik 
dari sang supir!  Saya dan juga kawan-kawan merasa bahwa ongkos Rp. 3000 yang 
dibayarkan, telah membayar lunas peran dia mengantarkan kami ke tempat tujuan.  
Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan, mengapa 'apes' naik metromini yang 
dikemudikan dia?
Mengapa ada sebuah pribadi yang sangat tidak menghormati (apatah mensyukuri) 
dirinya sendiri serta orang lain?

......

Sebenarnya, kita memiliki teknik sudut pandang yang mumpuni, untuk melihat sisi 
baik sesuatu yang buruk.  Keyakinan pada wahyu bahwa tidak ada yang diciptakan 
sia-sia (sepenuhnya buruk), adalah latar belakangnya.  Teknik ini populer 
dikenal sebagai sudut pandang nyamuk!
Dalam kegelisahan atas serangan nyamuk, kita senantiasa dapat melihat sisi 
baiknya yaitu : sangat banyak pribadi yang hajat hidupnya bergantung pada 
industri pengusir dan pembunuh nyamuk (teknik bakar, teknik semprot, teknik 
fogging, lotion, teknik penguapan elektrik dll).  Belum lagi jaringan distrbusi 
dan penjualannya, penanganan sakit akibat nyamuk (poliklinik, rumah sakit dll) 
dan pemimpin atau lembaga yang menangani bidang kesehatan masyarakat.
Dengan teknik sudut pandang nyamuk ini, saya berhasil menemukan sisi baik sang 
supir.  Eureka!

......

Sebuah koin pasti terdiri dari dua sisi.  Menghilangkan salah satunya berarti 
pula menghilangkan koin tersebut.  Seperti malam dan siang, meniadakan malam 
harus dengan menambahkan sebuah matahari yang sama pada posisi yang 
berseberangan.  Dan bagi manusia, ini adalah hal yang mustahil - tidak mungkin. 
 Meniadakan matahari, jauh lebih musykil karena akan membunuh kehidupan itu 
sendiri.

Jika kita, Anda dan saya, telah memilih kebaikan sebagai pilihan sisi 
kehidupan; maka siapakah yang telah berkenan memilih sisi kehidupan 
pasangannya, yaitu keburukan? Benar sekali! Sang supir beserta rekan-rekannya!
Memang tidak logis pilihan mereka, jika yang dipakai adalah sudut pandang kita. 
 Mungkin pula, mereka memandang pilihan-pilihan kita tidak logis pula. Who 
knows!

Sekarang kita menemukan alasan yang paling hakiki, mengapa kita harus tetap 
hormat dan berkasih sayang kepada supir metromini dan rekan-rekannya itu.  
Karena tanpa mereka, kita tidak ada.  Tanpa keburukan, kebaikan tidak ada.  
Tanpa pengikut keburukan, tidak ada pengikut kebaikan.  Tanpa kualitas hina, 
tidak akan pernah ada kualitas mulia.
Jika keberadaan (eksistensi) manusia adalah rahmat terbesar dari Allah Swt, 
maka keberadaan mereka pada sisi keburukan adalah hal terbaik yang mereka 
sumbangkan bagi kita pada sisi kebaikan.

Untuk itu, saya mengundang diri saya dan Anda untuk :
Memberikan hormat terbaik kita pada mereka.
Senantiasa berkasih sayang pada mereka.
Menaruh harapan baik, bahwa siapa tahu mereka (atau keturunannya) akan merubah 
pilihannya
Memohonkan pada Allah Swt, semoga mereka mendapat petunjuk.
Senantiasa berupaya keras untuk tidak mengikuti pilihan-pilihan buruk mereka.

.....

Sahabat anggota milis yang budiman,

Terima kasih atas kesediaan Anda menerima sudut pandang yang sederhana ini. 
Semoga layak berdamping dengan sudut pandang Anda yang super lainnya.

Wassalam

Syarif Niskala
syarifniskala.wordpress.com

Kirim email ke