Kehidupan Dunia...

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah 
permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di 
antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, 
seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para 
petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning 
lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan 
ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain 
hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Bacalah berulang-ulang kalam dari Rabb yang mulia di atas berikut 
maknanya… Setelahnya, apa yang kamu pahami dari kehidupan dunia? Masihkah 
dunia membuaimu? Masihkah angan-anganmu melambung tuk meraih gemerlapnya? 
Masihkah engkau tertipu dengan kesenangannya?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam Tafsir-nya, 
“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang 
ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan akhir kesudahannya dan 
kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. 
Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan 
terjadi pada anak-anak dunia1. Engkau dapati mereka menghabiskan 
waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan 
melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun janji 
(pahala dan surga, -pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, -pent.) yang ada 
di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai 
permainan dan gurauan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan 
orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan 
dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan 
waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri 
mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya 
sedikit.”

Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala 
memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi. 
Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan. 
Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para 
penanamnya, yang cita-cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun 
terkagum-kagum karenanya. Datanglah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala 
yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur. Bumi kembali 
kepada keadaannya semula, seakan-akan belum pernah ada tetumbuhan yang 
hijau di atasnya. Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan 
dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh. 
Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka. 
Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari 
tangannya. Hilangnya kekuasaannya…  Jadilah ia meninggalkan dunia dengan 
tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan….” 
(Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 841)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar 
beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau 
terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut 
seraya berkata : “Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing 
ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak 
ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat 
dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian 
berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik 
kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, 
tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah 
menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, 
“Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada 
hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai 
sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang 
kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh 
Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)

Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa Allah 
Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk 
tenggelam dalam kesenangannya. Apalah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi 
mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan 
memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil 
dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala 
sebanyak-banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka 
tinggalkan yang melalaikan.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil 
memegang pundak iparnya ini:
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang 
yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu memegang teguh wasiat Nabinya baik 
dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah 
menyampaikan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “Bila 
engkau berada di sore hari maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. 
Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. 
Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. 
Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”
Adapun dalam perbuatan, beliau radhiyallahu ‘anhuma merupakan shahabat 
yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana’ahnya (merasa cukup walau 
dengan yang sedikit) terhadap dunia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah 
berkata, “Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia 
adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala`, 
hal. 3/211)
Ibnu Baththal rahimahullahu menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar 
radhiyallahu ‘anhu di atas, “Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk 
mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan 
secukupnya. Sebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa 
yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin 
di dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke 
tempat akhirnya.” (Fathul Bari, 11/282)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata memberikan penjelasan terhadap 
hadits ini, “Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan 
dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik 
di jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada 
dunia kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, 
di mana ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali 
kepada keluarganya.” (Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah fil Ahadits 
Ash-Shahihah An-Nabawiyyah, hal. 105)
Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari 
tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah 
para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya 
boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali 
seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu 
beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, 
dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas 
selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, 
hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku 
menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, -pent.) dan 
Kaisar (raja Romawi -pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau 
adalah utusan Allah.2” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka 
mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 
4913 dan Muslim no. 3676)
Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu 
berkata kepada Nabinya:
“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan 
kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi 
kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada 
Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian 
berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka 
itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan 
hidup/rezeki yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia3?” (HR. 
Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)

Demikianlah nilai dunia, wahai saudaraku. Dan tergambar bagimu bagaimana 
orang-orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. 
Mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat 
penyeberangan… Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya 
tiada terbandingi dengan dunia.
Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal 
salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka 
hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” 
(HR. Muslim no. 7126)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, “Makna hadits di atas adalah 
pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan 
kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain 
kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air 
yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)
Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan 
akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, 
karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun 
Nazhirin, 1/531)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:
1 Mereka yang tertipu dengan dunia.
2 Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675) 
disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
“Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa 
yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai 
Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini 
membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali 
sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan 
kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal 
engkau (jauh lebih mulia daripada mereka, -pent.) adalah utusan Allah dan 
manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.”
3 Adapun di akhirat kelak, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Allah 
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada 
mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang 
baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah 
bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab 
yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa 
haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (Al-Ahqaf: 20)

(Sumber: Majalah Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428H/2007, kategori: Mutiara 
Kata, hal. 92-95. )


---------------------------------------------------------------------------
This message (including any attachments) is confidential and may be privileged. 
If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail 
and delete this message from your system. Any unauthorised use or dissemination 
of this message in whole or in part is strictly prohibited. Please note that 
e-mails are susceptible to change. ABN AMRO Bank N.V, which has its seat at 
Amsterdam, the Netherlands, and is registered in the Commercial Register under 
number 33002587, including its group companies, shall not be liable for the 
improper or incomplete transmission of the information contained in this 
communication nor for any delay in its receipt or damage to your system. ABN 
AMRO Bank N.V. (or its group companies) does not guarantee that the integrity 
of this communication has been maintained nor that this communication is free 
of viruses, interceptions or interference.
---------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke