Pengembangan Media Massa Pembelajaran
(Pengantar Teori Logika Media & Korelasinya terhadap Pembelajaran)
Oleh : Reza Ervani
(Ditulis untuk Team Media & Broadcast Rumah Ilmu Indonesia)
versi pdfnya dapat diunduh di
(http://www.rezaervani.com/artikel/mediapembelajaran.pdf)

Bismilahirrahmanirrahiim

Ketika penulis menyebutkan media pendidikan, mungkin sebagian besar
pendidik akan langsung teringat dengan Papan Tulis, White Board, OHP
atau In Focus Projektor.

Ketika penulis coba ajukan pertanyaan, apakah televisi dan radio bisa
menjadi media pembelajaran ? Mungkin sebagian besar pendidik menjawab
"Ya"

Jikalau pertanyaan dilanjutkan kembali menjadi, "Apakah Televisi dan
Radio saat ini pantas disebut sebagai media pembelajaran ?" Mungkin
sebagian besar pendidik akan menjawab "Tidak".

Ketika Rumah Ilmu Indonesia mencoba merancang media dengan menggunakan
berbagai fasilitas yang memungkinkan, seperti internet dan radio,
setidaknya ada beberapa hal yang harus dicapai tahapan-tahapannya :

1.    Membangun "Opini Pembelajaran" di Masyarakat
Tahapan ini sesungguhnya harus dilakukan dengan sangat massive.
Menggeser paradigma kebutuhan masyarakat akan media, dari media sebagai
penyedia "hiburan" (entertaint) menjadi media sebagai penyedia
materi pembelajaran (learning content) harus dilakukan dengan sangat
kreatif dan produktif. Tanpa itu, sulit rasanya menggeser budaya
menonton dan mendengar yang selama ini ada di masyarakat.

Selain itu peran `issu maker' juga harus bisa diambil oleh
media-media yang dirancang dan dimanfaatkan oleh Rumah Ilmu Indonesia.
Maksudnya adalah, harus adanya kemampuan Rumah Ilmu Indonesia untuk
mengendalikan aliran isu yang mengalir.

Di zaman euforia reformasi seperti yang masih berlangsung saat ini,
kejadian apapun sebenarnya memiliki dua sisi opini yang saling kontra
satu sama lain. Kasus Ahmadiyah misalnya, tampak jelas sekali kubu yang
mendukung dan kubu yang menolak. Jika kemudian media massa masuk ke
salah satu kubu, maka seolah-olah kubu itulah yang lebih besar,
sekalipun nyatanya secara kuantitas kubu itu kecil adanya.

Kasus lain misalnya, Islam Liberal. Walau secara kuantitas orang-orang
ini kecil, tetapi secara kemampuan infiltrasi media massa dan membangun
opini, kita harus mengakuinya. Sehingga terkadang masalah yang sudah
jelas "gelap terangnya" malah bisa bergeser menjadi abu-abu,
masalah yang sudah jelas "halal haramnya" malah bergeser menjadi
"syubuhat"

Contoh kasus tersebut dapat dipelajari oleh Team Media & Broadcast Rumah
Ilmu Indonesia agar tidak terjebak pada isu-isu yang malah membawa
kepada "politisasi pendidikan". Mengendalikan apa yang didapat,
ditonton dan didengar oleh masyarakat menjadi penting untuk membangun
opini pembelajaran tadi.

Untuk itu, sedapat mungkin semua yang disampaikan haruslah berada dalam
skenario yang dikaji secara matang, dan upayakan semua yang dilakukan
patuh pada skenario tersebut.

Di tahap ini, materi-materi yang diangkat belumlah spesifik. Masih
berkisar pada isu-isu dan masalah-masalah umum pendidikan.

Pemilihan tema programpun harus dipilih dengan hati-hati.

Pemilihan radio komunitas sebagai media sambung siar menjadi tepat
karena pembangunan opini memang lebih mudah dilakukan pada
komunitas-komunitas kecil daripada harus sekaligus `menyerang'
massa yang lebih besar dan sudah memiliki `own opinion' yang
dibangun oleh media massa-media massa yang lebih kuat dan besar
skalanya.

Setidaknya, dalam pengamatan penulis, ada beberapa tahapan juga yang
harus dilakukan di tahapan ini :
a.    Kampanye marketing yang massive
Ingat selalu bahwa leaflet dan iklan juga merupakan media untuk
membangun opini pembelajaran

b.    Pelebaran penggunaan media dan jaringan media
Termasuk dalam hal ini adalah pelebaran tema dan penggunaan berbagai
stasiun radio dan televisi yang sudah ada untuk menayangkan
program-program media & broadcast Rumah Ilmu Indonesia

c.    Pengembangan kegiatan offline
Program-program seperti pelatihan, Media goes to School dan semacamnya
diharapkan mampu mendorong pembentukan opini pembelajaran yang lebih
cepat dan lebih luas.

2.    Memfasilitasi "Komunitas Pembelajaran" dengan Media yang
Lebih Spesifik
Diharapkan jika tahap pertama ini bisa kita jalankan dengan baik, maka
akan terbentuk kemudian komunitas-komunitas pembelajar di masyarakat.

Sebagai catatan kembali, pembentukan komunitas itu harus pula mampu
didorong oleh media-media yang dirancang oleh Rumah Ilmu Indonesia.
Beberapa hal sudah kita lakukan, misalnya mailing list rezaervani
menghasilkan komunitas yang cukup besar. Hal lain yang dapat kita
lakukan misalnya, mendorong tumbuhnya komunitas pendengar acara BINCANG
GURU & PENDIDIKAN, atau komunitas pembaca buletin FORISTIC.

Ini harus pula dicermati dan mampu teranalisa dengan baik oleh seluruh
komponen Rumah Ilmu Indonesia, jangan sampai tidak terdeteksi apalagi
terlepas.

Komunitas-komunitas itu tidak akan banyak kuantitasnya, tapi itulah
tantangannya. Memfasilitasi komunitas itu dengan media yang lebih
spesifik diharapkan mampu mendorong terjadinya perpaduan antar berbagai
media pembelajaran.

Contohnya adalah apa yang pernah dilakukan oleh BBC Step by Step
(Pelajaran Bahasa Inggris) dan Deutsche Welle dalam pembelajaran Bahasa
Jerman.

Selain mengadakan siaran di Radio dan televisi, mereka juga mengirimkan
buku-buku panduan yang memudahkan para pendengarnya untuk mengikuti
pelajaran yang dilangsungkan.

Karena itulah sebenarnya, Rumah Ilmu Indonesia juga menyiapkan
Departemen Penerbitan.

Saat ini, Rumah Ilmu Indonesia juga sedang menjalani riset media Web 2.0
sebagai media pembelajaran. Perpaduan antara web based learning dengan
media massa akan menjadi sangat optimal jika dilakukan secara terpadu.

Mampukah Rumah Ilmu Indonesia ? Harus !!

3.    Membangun Media Massa Pembelajaran Mandiri
Jika tahapan-tahapan diatas dapat kita lakukan, maka tahapan terakhir
yang nanti kita kerjakan adalah membangun media massa pembelajaran
mandiri.

Ini dapat berarti kita harus punya radio sendiri, stasiun televisi
sendiri, production house sendiri, majalah dan surat kabar sendiri, yang
semuanya memiliki orientasi pencerdasan masyarakat.

Pra dan pasca tahap ketiga ini, harus pula dilakukan penelitian
(research) seputar pemanfaatan media bagi pembelajaran. Banyak model
yang sesungguhnya sudah dilakukan oleh negara-negara di luar Indonesia,
termasuk yang dikembangkan di Afganistan. Kita bisa ambil model-model
tersebut untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

***

Tanpa melewati tahapan-tahapan diatas, rigiditas Rumah Ilmu Indonesia di
bidang media dapat dipertanyakan. Perjalanan akan membuat kita belajar
lebih banyak dan menjadi kuat.

Akhir kata, ini adalah sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan nafas
panjang. Yang paling mahal dari semuanya adalah komitmen dan keteguhan
niat kita untuk menjadikan Rumah Ilmu Indonesia menjadi salah satu garda
terdepan dalam membangun budaya belajar masyarakat, sehingga harapan
terbentuknya sebuah masyarakat madani yang berdiri di atas pondasi moral
yang teguh dan ilmu yang luas dapat terwujud.

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah
lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(Al Quran Al Karim Surah Al Maidah ayat 54)

Faidza azzamta fa tawakal `alaLlah

Bandung, 24 Mei 2008


Kirim email ke