Dibangunnya sebuah taman baca di Jl. Pramuka Gang Kencana 5A Samarinda
yang sejak dioperasikan 12 Januari lalu, taman baca ini sudah ramai
dikunjungi pelajar SD yang ada di lingkungan sekitar. Sementara koleksi
buku sudah mencapai 1,200 buku yang didominasi buku-buku komik dan buku
pelajaran SD (Kaltimpos, Januari 2008). Endah, pengelola taman baca
menyatakan bahwa taman baca tidak hanya untuk kalangan SD tapi juga
untuk kalangan mahasiswa. Minat baca lebih banyak dipengaruhi oleh
pengalaman atau lesson learn yang telah diperoleh dari lingkungannya,
baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah masyarakat. Dari
ketiga lngkungan pendidikan tersebut, lingkungan yang dipandang lebih
potensial untuk menumbuhkankembangkan minat baca anak dalah lingkungan
pendidikan, terutama yang dikelola melalui jalur sekolah.

Namun persoalannya adalah bagaimana lingkungan pendidikan sekolah dapat
menumbuhkembangkan minat baca anak? Tentunya sekolah yang di dalamnya
tercipta situasi pembelajaran yang menyenangkan, menumbuhkembangkan rasa
ingin tahu, mengaktifkan siswa, memberi kesempatan kepada mereka untuk
berpikir kritis dan logis serta untuk mengembangkan kreativitasnya, dan
yang memungkinkan mereka belajar secara efektif yang pada gilirannya
menumbuhkan minat membaca.
Perlunya peningkatan minat baca ini dilatari oleh kemampuan membaca
(Reading Literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah bila dibandingkan
dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan ASEAN
sekali pun. International Association for Evaluation of Educational
(IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid
Sekolah Dasar Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa
Indonesia menempati urutan ke 29 setingkat di atas Venezuela yang
menempati peringkat terakhir pada urutan ke 30. rendahnya kemampuan
membaca ini dilatari oleh suatu kondisi pasif tentang kurangnya gairah
dan kemampuan para peserta didik untuk mencari, menggali, menemukan,
mengolah, memanfaatkan dan mengembangkan informasi. Salah satu sebab
etimologisnya yaitu lemahnya minat baca mereka. Inilah yang perlu
dicermati perkembangannnya serta diupayakan alternatif solusinya.

Data di atas relevan dengan Laporan World Bank dalam Education in
Indonesian from crisis recovery (1998) memaparkan bahwa minat dan
kemampuan baca anak-anak Indonesia amat rendah. Minat baca untuk siswa
kelas enam SD dinilai 51,7. nilai ini merupakan nilai paling rendah di
antara minat baca bila dibandingkan dengan bangsa lain setelah Filipina
(52,6), Thailand (65,1), dan Hongkong (75,5). Hal ini menurut Ki
Supriyoko (2004), minat baca anak-anak Indonesia dinilai paling buruk
bila dibanding dengan negara-negara lain.

Buruknya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana data di atas
berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu
pengetahuan dan matematika. Athaillah Baderi (2005) dalam pidato
pengukuhan pustakawan utama . Hasil tes yang dilakukan oleh Trends in
International Mathematies and Science Study mengungkap (TIMSS)  dalam
tahun 2003 pada 50 negara di dunia terhadap para siswa kelas II SLTP,
menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia hanya mampu meraih peringkat
ke 34 dalam kemampuan bidang matematika dengan  nilai 411 di bawah nilai
rata-rata internasional yang 467. Sedangkan hasil tes bidang ilmu
pengetahuan mereka hanya mampu menduduki peringkat ke 36 dengan nilai
420 di bawah nilai rata-rata internasioal 474. Dibandingkan dengan
anak-anak Malaysia mereka telah berhasil menduduki peringkat ke 10 dalam
kemampuan bidang matematika  yang memperoleh nilai 508 di atas nilai
rata-rata internasional. Dan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka
menduduki peringkat ke 20 dengan nilai 510 di atas nilai rata-rata
internasional. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita
sangat jauh ketinggalan di bawah negara-negara berkembang lainnya.

Padahal pasca ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia No. 1 tanggal 19 Januari 2005 tentang Ujian Nasional
Tahun Pelajaran 2004/2005 yang di dalamnya menetapkan standar kelulusan
untuk tiga bidang studi (bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan
matematika) adalah tidak boleh kurang dari 4,25. Ketentuan kelulusan ini
lebih tinggi dari standar kelulusan Ujian Akhir Nasional sebelumnya,
yaitu 4,01. Ketentuan standar kelulusan ini mempunyai kecenderungan
meningkat untuk tahun-tahun yang akan datang secara bertahap (Sutrisno,
2005). Apa jadinya nanti bangsa Indonesia, jika budaya baca masyarakat
tidak membudaya.

Melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan United Nations
Development Programme (UNDP), maka hipotesis yang mengemuka adalah
kekurangmampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan bidang ilmu
pengetahuan, serta  tingginya angka buta huruf dewasa (adult illiteracy
rate) di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup
dan belum menjadi budaya bangsa. Oleh sebab itu membaca harus dijadikan
kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita. Mengingat membaca merupakan
suatu bentuk kegiatan budaya menurut H.A.R Tilaar (1999) maka untuk
mengubah perilaku masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan
budaya atau perubahan tingkah laku dari anggota masyarakat kita.
Mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu
panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung dari "politicaal
will pemerintah dan masyarakat" Ada pun ukuran waktu sebuah generasi
adalah berkisar sekitar 15–25 tahun.

Masih banyak lagi hasil survei lembaga-lembaga riset yang semakin
menambah panjang  bukti keterpurukan  pendidikan di negara kita. The
Poor Political and Ekonomic Risk (PERC) yang berkedudukan di Hongkong
menyimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia berada di urutan ke 12
dari 12 negara yang diteliti. Survei PERC ini didasarkan pada 17
variabel yang terdiri dari; impresi keseluruhan tentang sistem
pendidikan di suatu negara; porsi penduduk yang berpendidikan dasar;
porsi penduduk yang berpendidikan menengah; porsi penduduk yang
berpendidikan tinggi dan pasca sarjana; jumlah biaya untuk mendidik
tenaga kerja produktif; ketersediaan tenaga kerja produktif yang
berkualitas tinggi; jumlah biaya untuk mendidik tenaga kerja;
ketersediaan tenaga kerja; jumlah biaya untuk mendidik staf manajemen;
ketersediaan staf manajemen; tingkat ketrampilan tenaga kerja; semangat
kerja dari para tenaga kerja; kemampuan berbahasa Inggris; kemampuan
bahasa asing selain bahasa Inggris; kemampuan menggunakan teknologi
tinggi; tingkat keaktifan tenaga kerja; dan frekuensi perpindahan atau
pergantian tenaga kerja yang pensiun.

Saat ini dunia pendidikan kita masih dihadapkan dengan suatu kondisi
pasif tentang kurangnya gairah dan kemampuan para subjek didik untuk
mencari, menggali, menemukan, mengolah, memanfaatkan dan mengembangkan
informasi. Salah satu sebab etimologisnya yaitu lemahnya minat baca
mereka. Inilah yang perlu dicermati perkembangannnya serta diupayakan
alternatif solusinya.

Disposisi (kecenderungan) individu yang berdasar pada kesenangan dan
hasrat yang selalu timbul untuk memiliki atau melakukan sesuatu. Minat
seseorang menimbukan motivasi untuk mendapatkan atau melakukan apa yang
diminatinya. Besar atau kecilnya minat yang ada dalam dirinya terhadap
sesuatu berpengaruh pada kuat atau lemahnya motivasi yang dimilikinya.
Dengan demikian, minat baca seorang peserta didik akan mempengaruhi
motivasinya untuk membaca.
Kegemaran membaca perlu dibudayakan dengan memperluas peluang atau akses
terhadap buku-buku bermutu yang memberdayakan. Akses diberikan dengan
berbagai cara pada buku pembelajaran,  buku bacaan, dan lingkungan teks
bukan bahan cetak seperti tulisan tangan berisi denah, peta karya
ilmiah, cerita, motto, pesan, atau pepatah yang ditullis oleh siswa,
guru atau orang tua yang dapat dipajang di kelas atau sekitar sekolah.

Secara teknis buku yang memberdayakan adalah buku yang memuat kemahiran
belajar. Kemahiran belajar merupakan ketrampilan hidup yang
dikembangkan supaya siswa menguasai cara-cara belajar yang berkesan.
Salah satu upaya pengembangan minat dan kegemaran membaca adalah dengan
adanya distribusi buku. buku merupakan salah satu syarat mutlak yang
diperlukan untuk pengembangan program ini, khususnya bagi anak-anak
kecil yang tentunya belum begitu banyak mengenal teknologi informasi.
Artinya, bahwa fungsi buku memberikan tempat tersendiri bagi
perkembangan anak. Hal inilah yang kemudian berimplikasi pada semakin
maraknya industri perbukuan di Indonesia secara khusus dan dunia
perbukuan secara umum.

Industri perbukuan yang dikemukakakan oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Bapak Wardiman Djojonegoro, bahwa ada empat pilar utama yang
ada dalam industri perbukuan. Pertama, pengarang merupakan pilar utama
yang harus ada dalam penggalakkan industri perbukuan. Penggalakkan upaya
pengembangan dan perkembangan perbukuan nasional diharapkan adanya
adanya pengarang/penulis berbakat dan hasil karya yang berupa buku-buku
yang berkualitas, jurnal, dan semisalnya. Sehingga memberi peluang
kepada penulis-penulis ataupun pengarang-pengarang untuk mengembangkan
potensinya.
Kedua, selain adanya pengarang juga dibutuhkan adanya penerbit yang
bersinergi dengan pengarang. Pengarang menghasilkan karya, sedangkan
penerbit berfungs menerbitkan hasil  karya pengarang. Namun tidak dapat
dinafikan, sulitnya pengarag menembus ketatnya persaingan dalam
menerbitkan karya, mengindikasikan bahwa hanya karya-karya bermutu dan
berkualitas sajalah yang layak terbit. Sehingga, dibutuhkan suatu wahana
untuk memuluskan hasil karya anak bangsa ini misalnya ditelorkannya
kebijakan pemerintah menerbitkan karya tersebut walaupun hanya sekedar
sebagai prototif buku-buku "drop-dropan" dari pemerintah dengan
catatan karya tersebut sesuai dengan budaya, corak, dan kebutuhan
sekolah penerima.
Ketiga, distributor ini merupakan kepanjangan tangan dari penerbit dan
pengarang untuk mendistribusikan hasil terbitan penerbit yang
bersangkutan. Dan keempat, adalah konsumen yang menjadi objek dalam
pengembangan dan perkembangan industri perbukuan. Konsumen membeli
buku-buku yang mereka perlukan. Jika anak sudah dibiasakan membaca di
usia dini, maka sudah barang tentu ide besar Wardiman Djojonegoro akan
menjadi sebuah kenyataan.

Salam,
http://mkpd.wordpress.com
http://sismanto.com


Kirim email ke