Maling Kep***T

Subuh tadi saya mendapat telpon dari istri saya di Bogor, seperti biasa 
tentunya setelah beberapa kali dia me-redial nomor saya. Kantuk selalu membuat 
saya jadi tuli. Untungnya, Endah tidak pernah putus asa untuk selalu 
membangunkan saya dengan panggilan telponnya.


Tidak seperti biasa, setiap kali saya mendengar suarnya di pagi hari, dia 
selalu terdengar ceria, dan agak sedikit manja. Begitu juga saya, saya selalu 
membalasnya dengan manja. Tapi pagi tadi, keceriaannya sama sekali tidak 
tampak, bahkan cenderung sedih.


"Assalamualaikum.., Bi" Sapanya diseberang. "Wa'alaikumusallam". Saya menjawab 
salamnya, serak. "Bi.. Ada maliiing! Hiks" Sambung Endah. "Astaghfirullah.., 
maliing? Dimana? Kok bisa?" Tanya saya bertubi-tubi. Hilang sudah kantuk saya 
saat itu juga. "Iya, masuk ke rumah" Isaknya mulai terdengar. Saya emosi, ingin 
rasanya mengumpat saat itu juga, tapi pada siapa? Percuma. "Terus, apa aja yang 
hilang?" Tanya saya lagi, suara Endah sudah mulai kabur. Isaknya terdengar 
jelas... "Tabungan dek Lip... bla..bla..bla.." Kebun binatang sudah menguasai 
saya, tapi untung masih dalam hati. Ampuni ya Rabb.. saat ini hamba hanya ingin 
mengumpat maling sia**n!! itu.


Sore sebelumnya, Endah, Alief, Ibu dan keponakan saya memang menginap di rumah 
kakak saya, (kakak iparnya Endah). Pasalnya, di rumah saya susah sekali 
mendapatkan sinyal GPRS untuk koneksi internet. Sementara update pekerjaan 
Endah sudah mulai numpuk, dan banyak sekali email pekerjaan yang harus segera 
ditarik di outlook. Nah, dirumah Kakak saya, ternyata lumayan lancar sinyalnya 
meskipun kadang ajep-ajep. Jadi Ibu saya memutuskan menginap di sana malam itu. 


Sebetulnya ini keputusan yang kurang tepat mengingat kondisi rumah kakak saya 
tidak terlalu kondusif. Apalagi buat Alief. Saya sudah melarang sebelumnya, 
ketika tadi malam Endah menghubungi saya untuk memberitahukan bahwa mereka 
menginap.


Tak kuasa menolak, Endahpun ikut menginap. Dan taraaaaaaaa, pagi ini kabar 
buruk itu datang. Rumah yang sepi karena ditinggalkan penghuninya dibobol 
maling. Uang tunai, meski tidak banyak, CINCIN KAWIN (hiks), Token BCA (Maling 
norak, gaptek, kuper, GO***K), Celengan receh Alief (Maling tak berprikebayian) 
Dan tahukah apa yang paling menggelikan? Dasar maling lapar.. Kayu bakar 
didepan rumahpun tak luput jadi korban. 


Sakit hati saya, apalagi cincin bersejarah itu ikut raib. Endah memang melepas 
cincin itu dari jarinya, karena masih terasa sempit pasca hamil. Untung saja, 
(masih unutung?) beberapa barang berharga lain tidak ikut hilang karena dibawa, 
HP, Laptop. Saya ingin mengutuknya berkali-kali, ingin mengumpatnya, ingin 
menghajarnya. Dan itulah amarah. Endah mengakhiri telponnya dengan salam yang 
masih terisak. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya masih di Jakarta, tidak 
bisa menguatkannya dengan pelukan. 


Setelah sholat subuh, saya berusaha menenangkan hati dengan membaca surat-surat 
cinta-Nya. Dan benar, itu adalah obat hati yang paling ampuh. Seumpama gerimis 
yang membasahi sekam yang terbakar. Saya marah, tentunya pada maling. Dan 
menyesalkan keputusan menginap yang setengah memaksa dari ibu saya. Tapi 
sudahlah, mingkin ini teguran, atas lalai yang sering kali kami lakukan, 
mungkin. 


Saat ini saya belum bisa mendo'akan yang baik-baik buat si maling. Saya masih 
hanya ingin mengumpatnya. Damn..!!

Jakarta, 29 Mei 2008

Dani Ardiansyah
    HP : 085694771764
 http://edumuslim.org
http://catatankecil.multiply.com
 http://hamasahputri.multiply.com
  

       

Kirim email ke