TUMBAL
                                                         
 Fiyan Arjun
                                       
 htp://sebuahrisalah.multiply.com
                                                     
 ID YM:paman_sam2
 
 
 

Dengan mata minusnya yang agak menutupi rambutnya Gus memedarkan matanya ke 
sebuah gedung. Gedung dimana tempat ia mencukupi kebutuhan perutnya sehari-hari 
sebagai seorang pekerja. Dan sesekali Gus membetulkan anak rambutnya yang di 
terpa oleh angin. "Ternyata perhelatan besar itu telah usai begitu saja. Dan 
kini hanya menjadi saksi bisu semata," kata Gus membathin.
 
 

Gus masih menatap gedung itu dengan nanar.
 
 

Gus berharap ia bisa dapat mengingat-ingat kembali peristiwa malam itu. 
Peristiwa yang membuat dirinya merasa bersalah terhadap Tuhannya yang ia sembah 
tiap hari. Dari pagi hingga malam. Lalu beralih lagi dari malam hingga siang 
dan begitu seterusnya. Begitulah Gus ketika ia mengingat kembali perisitiwa 
yang telah dialaminya. Apa yang sudah dilakukan oleh kawan-kawannya terhadap 
dirinya malam itu. Gus menerawang. Gus lelah. 
 
 

"Sedang apa kamu Gus disini?" tanya Kas rekan kerja satu divisinya saat melihat 
Gus tidak seperti biasanya. Melamun. Terus memandangi gedung yang ada 
dihadapannya itu.
 
 

"Ah, tidak ada apa-apa kok, Kas. Oya, aku mau tanya sama kamu Kas? Apa kamu 
ingat perhelatan semalam, Kas," ujar Gus menanyakan perhelatan yang semalam 
yang dilaksanakan oleh perusahaannya, tempat dimana Gus bekerja.
 
 

Kas hanya diam. Tak langsung menjawab.
 
 

"Lho kok kamu tanya sama aku, Gus. Bukankah semalam kamu pergi bersama Yos dan 
kawan-kawannya pergi bersama."
 
 
Gus yang mendengar jawaban seperti itu semakin tak percaya. Bahwa Kas rekan 
kerjanya itu sama sekali tak tahu menahu tentang perhelatan itu. Gus makin 
penasaran dengan Kas. 
 
 

"Oya, kamu Gus dipanggil sama Pak Sud. Kamu disuruh menghadap beliau sekarang 
ini," lanjut Kas memberitahukan Gus untuk menghadap atasan mereka itu. Kini Kas 
merasa sedikit aman dengan pemberitahuan itu. Kas tahu Gus pasti akan mencecar 
dirinya mengenai perhelatan itu. Kas tahu benar siapa sesungguhnya Gus. Rekan 
kerja satu divisinya itu. Kas merasa Gus adalah saingan yang tak begitu mudah 
bisa dapat ditaklukan. 
 
 

Hari itu udara sangat panas. Mentari sedang memayungi Gus saat ia meninggalkan 
Kas sendirian di tempat itu. Tempat yang sejak tadi menjadi obyek mata Gus 
sedari tadi. Kini Gus dengan gontai melangkah ke ruangan Pak Sud, atasan Gus 
dan Kas dimana mereka bekerja. Gus tak merasakan firasat apa-apa. Bahwa awan 
gelap sedang mengitari dirinya saat itu. Ada sesuatu yang tak baik yang akan 
dihadapi Gus.
 
 
 

                                                 ***
 
 

"Kamu saya pecat! Kamu telah memalukan perusahaan ini dengan perbuatan kamu 
yanh tak dapat saya toleransi lagi. Apa yang kamu lakukan semalam sudah cukup 
membuat perusahaan ini jelek oleh ulah kamu. Mulai saat ini kamu saya pecat!"
 
 

Gus semakin tak mengerti ketika ia baru memasuki ruangan Pak Sud. Tiba-tiba 
saja Pak Sud seakan-akan ingin menerkam Gus. Begitu Gus sampai atasnya itu 
seperti orang kalap. Pak Sud mencaci maki Gus tanpa ada pembelaan apalagi 
pembenaran diri. Gus hanya pasrah dan tak bisa berkutik ketika surat pemecatan 
itu sudah dihadapannya. 
 
 

"Sekarang kamu keluar dari tempat ini!" Lanjut Pak Sud memerintahkan Gus 
meninggalkan ruangan itu." Jangan lupa ambil pesangon kamu di depan!"
 
 

Akhirnya Gus meninggalkan ruangan Pak Sud. Di tempat itu ia seakan-akan seperti 
orang dungu yang dicaci maki tanpa pembelaan sedikit pun. Dan yang lebih 
menyakitkan saat ia meninggalkan ruang itu banyak mata-mata yang mengarahkan 
kepadanya. Dan orang-orang itu tak lain rekan-rekan kerja dirinya. Gus seakan 
bumi yang ia pijak tak terasa. Ia merasa dirinya saat itu orang yang sangat 
memalukan sekaligus orang tak patut mendapatkan kasihan dari siapa pun.
 
 

Saat itu juga Gus menyusuri ruang dimana ia bekerja. Gus memasuki ruang tempat 
ia bekerja. Ia merapikan dan membereskan segala benda miliknya di ruangan itu. 
Dan tanpa sadar sekilas ekor telinganya mendengar seseorang yang sangat ia 
kenal sedang tertawa lepas atas nasib yang ia terima saat itu. Ternyata orang 
itu tak lain adalah rekan kerjanya, Kas. 
 
 

"Bangsat! Bajingan! Begini cara kamu memainkan dan menyingkirkan aku. Aku tak 
peduli aku dikeluarkan dari tempat yang busuk ini. Tempat penuh kemunafikan!" 
Tiba-tiba pukulan hebat dari Gus melayang ke muka Kas. Gus saat itu seperti 
kemasukan setan. Ia tak peduli dengan sekitarnya melihat dirinya. Namun 
pertingkaian itu terhenti ketika mereka dapat dipisahkan oleh rekan-rekan kerja 
mereka sendiri. Tapi bagi Gus ia sudah puas menghantam orang yang telah 
mengkhianati dirinya dengan sebuah pukulan yang Gus layangkan ke arah Kas. Itu 
lebih dari cukup untuk melampiaskan kelicikan Kas. Gus semakin puasa dengan 
itu! "Ingat aku akan membuktikan bahwa aku tak bersalah. Dan aku bukan tipe 
seperti kamu. Penjilat!" ancam Gus kepada Kas.
 
 

Usai Gus memuaskan amarahnya ke Kas malam pun tiba. Gus pun lalu keluar dari 
tempat yang telah membuat dirinya seperti anjing kudis yang dibuang oleh 
tuannya. Gus menyusuri jalan itu dengan hati yang membara. "Aku harus membela 
diriku. Dan aku harus menghapus nama baikku. Terlebih saat perhelatan itu aku 
tak sadar bahwa aku sudah di jadikan bahan permainan mereka. Aku dijadikan 
tumbal bagi mereka dalam perhelatan malam itu. Aku di jadikan kelinci percobaan 
atas kelicikan mereka. Dan itu aku sama sekali tak menyadari bahwa rekan 
kerjaku yang aku percaya itu tak lebih hanya dari seekor anjing yang mengelus 
kaki Tuannya telah berbuat tega terhadap diriku. Ia mencari muka terhadap 
atasanku." Mata Gus makin memerah saat ia mengetahui bahwa dalam perhelatan 
malam itu adalah semua hasil perbuatan Kas. Kas telah memperlakukan Gus 
dihadapan orang-orang yang menaruh hormat kepadanya. Gus makin meradang saat 
wajah Kas terus membayangi pikirannya.
 
 

"Hai orang bodoh kenapa kau menceracau tak karuan." Tiba-tiba Gus mendengar 
suara yang sangat berat. "Kamu itu adalah korban permainan mereka. Halnya sama 
dengan diriku sewaktu aku mendapatkan kemakmuran di tempat aku bekerja." Suara 
itu makin jelas didengar oleh Gus. Gus tak tahu suara siapa itu yang terus 
menyudutkan dirinya.
 
 

"Hai siapa kamu sesungguhnya. Tunjukan kalau kamu benar-benar jantan. Hadapi 
aku!" seru Gus. Suara Gus memecahkan keheningan malam.
 
 

Tanpa angin dan tanpa halilintar tiba-tiba orang yang Gus teriak-teriakan itu 
sudah ada dihadapannya.
 
 

Gus terkejut. Gus takut. Dengan tiba-tiba ada makhluk yang amat besar ada 
dihadapannya. 
 
 

"Ka-kamu si-siapa, hah!" ucap Gus dengan gigi gemeretak. Gus tak sangka bahwa 
ada mahkluk yang sangat mengerikan ada di hadapannya. Makhluk yang paling 
mengerikan pertama kali ia lihat.
 
 

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Tapi yang kamu harus tahu adalah siapa yang 
membuat kamu mejadi begini." Makhluk aneh itu merajuk Gus. Gus tak menyadari 
bahwa ia telah masuk dalam pengikutnya. 
 
 

"Baik siapa orangnya, hah. Kalau kamu memberitahukannya aku siap menjadi 
pengikutmu." Gus dengan berapi-api menjanjikan dirinya sebagai pengikutnya.
 
 

"Baiklah besok kamu lihat di surat kabar. Nanti kamu akan tahu siapa dibalik 
semua ini." Kata makhluk aneh terus membujuk Gus. Dan akhirnya Gus 
mempercayainya. Dan saat Gus mempercayai makhluk aneh itu seketika pula makhluk 
aneh itu hilang tak berbekas.
 
 

Keesokanya hari Gus ingin membuktikan perkataan mahluk aneh yang ia temui malam 
itu. Dan Gus membeli surat kabar di emperan toko. Kas tewas dengan leher 
tercekik serta lidah terjulur. Gus terkejut ketika ia ketahui bahwa Kas telah 
tewas dengan cara mengerikan. Setelah ia mermbaca surat kabar pagi itu. Namun 
yang membuat Gus terkejut ketika ia membaca barisan berita di surat kabar itu 
bahwa Kas tewas akibat ulahnya. Gus yang membaca kumpulan kata-kata yang 
menjadi berita itu semakin tak mengerti. Gus sama sekali tak mempercayai itu. 
Ketika dalam berita itu ia telah menjadi sasaran daftar pencarian orang (DPO) 
oleh pihak berwajib atas perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Gus linglung. 
Gus tak sadar diri. Gila. 
 
 

Ciputat, 05 Juni 2008
Ketika angkara dan keserakan meraja didada. Hingga menghalalkan segala cara.


      

Kirim email ke