good artikel,...
  komentar saya..
  kita juga akan merasakan kekosongna jiwa kita ketika kita ingin merubah diri 
kita melalui tazkiyantun nafs : dengan puasa (sunah dan wajib) 
  kita akan merasakan bahwa jiwa kita dapat mengendalikan ego, emosi dari 
hal-hal yang negatif dan kita akan mensugesti diri kita tetang pahala yang 
diberikan Allah swt dan manfaat kesehatan... bahkan kalau kita melihat 
terjadinya pertengkaran bahkan kekerasan terjadi lantaran kita tidak bisa puasa 
lisan kita dari perkataan yang menyakitkan orang lain dan menjaga pendengaran 
kita dari prasangka negatif, penglihatan kita yang membandingkan sesuatu dengan 
yan lain.
   
  wallahu 'alam bishowab
   
   
  salam,
   
   
  Bilal 

tedi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                Assalamu'alaikum wr wb
  

  “Katakanlah:"Sesungguhnya Tuhan-ku melapangkan rezki bagi siapa yang 
dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (siapa yang 
dikehendaki-Nya)".Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan 
menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS.34:39)
  
  
  Pernah ke pantai ? Ketika kita berjalan di tepi pantai, pasti kita akan 
meninggalkan jejak langkah kaki kita, yang tak lama kemudian jejak itupun 
kembali terhapus,di isi pasir, dan di sapu air. Pernah memperhatikan tanah 
kosong ? tak lama kemudian, pasti ada tetumbuhan yang mengisinya. Begitulah.., 
alam ini, tak suka dengan kekosongan, seperti ada energi yang menyeimbangkan 
supaya kekosongan itu selalu terisi.
  
  Begitupun dengan kita, sebagai bagian dari alam, makhluk ciptaanNya. Hukum 
ini pun berlaku. Ketika kita memberikan buku untuk sahabat kita, tak lama 
kemudian ada buku baru yang kita miliki. Ketika kita bersedekah, ternyata ada 
pemasukan baru buat kita. Pengosongan ternyata melahirkan pengisian. Ibaratkan 
tangan yang mengepal atau menggenggam sesuatu, tak mungkin bisa menerima 
sesuatu kan ? Ya.., begitulah, tidak akan ada pemberian yang baru, sampai kita 
melepas apa yang kita pegang. Dengan kata lain, kalau kita ingin di isi, maka 
kita harus mengosongkan terlebih dahulu. Manage-lah keosongan itu, usahakan 
selalu ada ruang kosong, supaya ada tempat untuk di isi.
  
  Pengosongan ini, bisa di lakukan secara suka rela, bisa juga di ‘paksa’ 
keadaan. Misal, kita sengaja bersedekah dengan penuh keikhlasan, maka 
Insyaallah itu merupakan bentuk pengosongan yang akan segera terisi kembali. 
Tapi bisa juga kita kecopetan, sakit sehingga perlu obat dan perawatan, atau 
musibah lainnya, yang membuat –setidaknya- materi kita melayang. Sama – sama 
pengosongan uang, tapi yang satu penuh ridho dan kebahagiaan, yang satu lagi 
penuh benci dan kekecewaan. Kita milih yang mana ?
  
  Tak selamanya pengosongan yang tak menyenangkan kita, itu tak baik bagi kita. 
Sebagaimana sebaliknya, tak selamanya juga pengosongan yang kita anggap baik, 
itu baik bagi kita. 
  
  “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh 
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah 
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”(QS.2:216)
  
  Contoh, seorang calon mahasiswa yang keukeuh ingin masuk fakultas dan 
universitas idamannya, yang akhirnya kandas juga. Pada awalnya ia sedih, tapi 
ternyata ia menjadi lebih produktif dan mendapatkan ganti yang lebih baik. Ada 
juga yang gembira mendapat pekerjaan baru, tapi ternyata membuat dia lalai dan 
terjerembab dalam kubangan dosa. Jadi tetaplah positif dan ikhlas. 
  
  Pengisian tak mesti selalu sama dengan pengosongan. Apa yang kita keluarkan 
tak harus kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama. Karena yang mengetahui apa 
yang pas buat kita adalah Allah swt. Bisa jadi betul, kalau kita ingin sepatu 
baru, coba cek sepatu kita, barangkali ada sepatu yang nganggur, kemudian kita 
sedekahkan, dan selanjutnya kita memiliki sepatu baru lagi, entah hadiah, atau 
kita beli sendiri dari rizki lebih kita.yang jelas sepatunya kembali lagi, sama 
– sama sepatu. Atau ketika kita ingin cinta, maka kita beri cinta pada orang 
lain, dan kemudian orang lainpun mencintai kita. Balasannya equal alias sama. 
Tapi ada juga pengembalian yang jumlahnya lebih dari apa yang kita berikan. 
Sedekah Rp. 5.000, ternyata dapat hadiah senilai Rp.100.000. Memang demikian 
salah satu janji Allah swt
  
  “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan 
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan 
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi 
Maha Mengetahui” (QS. 2:261)
  
  Yang agak unik, ada juga pengembalian itu dalam bentuk berbeda atau malah di 
tangguhkan dalam waktu yang di tentukan kemudian. Misal karena mengharap 
realisasi janji Allah swt pada ayat di atas, kita sedekah Rp.100.000, supaya 
dapat Rp.700.000. di tunggu – tunggu, ternyata tidak ada juga, ‘pengembalian’ 
yang 7 x lipat  itu. Padahal ia telah di selamatkan dari sakit, yang 
pengobatannya lebih dari Rp.700.000, atau ia di kemudian hari menikah dengan 
perempuan shalihah, yang dengannya justru tak hanya menghemat Rp.700.000 tiap 
bulannya, tapi juga pendamping hidup yang setia. Ada juga yang gemar berinfak 
dan rajin berdo’a tapi permintaannya tak juga terkabul, ruang kosongnya masih 
juga belum terisi, bisa jadi ia akan mendapatkannya kelak di akhirat, dengan 
balasan yang lebih baik. Jadi, bukan urusan kita, apakah mau di balas dengan 
yang sama bentuk dan kuantitasnya, atau mau di balas dengan yang lebih banyak, 
atau mau di balas dengan bentuk yang berbeda, atau mungkin
 di tangguhkan pembalasannya. Tugas kita, adalah terus berusaha memberi, dan 
setia berdoa. Biarlah Allah swt yang maha tahu dan maha adil yang mengurus 
pembalasannya.
  
  
  Hal – hal yang positif, hanya akan mengisi pada ruangan yang steril dari hal 
– hal negatif. Selama masih ada hal negatif, maka hal positif tak mau datang 
mengisi. 
  Mari kita perjelas. Misal ketika kita bekerja, malas dan tidak mood, coba 
perhatikan meja kerja kita, mungkin tidak rapih, sehingga kita tidak nyaman 
dalam bekerja, maka coba bersihkan, rapihkan file – file sesuai arsipnya,buat 
daftar kerja, dan lakukan sesuai prioritasnya. Hal ini berarti kita telah 
mengosongkan dan mengeluarkan hal – hal negatif. Kemudian kita menjadi lebih 
nyaman, relax dan fokus. Walaupun daftar kerja kita cukup banyak, tapi karena 
kita sudah positif dan damai, maka kita bisa menyelasaikannya.
  Jadi teringat sebuah hadist nabi, bahwa orang yang beriman itu tak mungkin 
berdusta,jika ia berdusta berarti sedang tidak ada keimanan dalam hatinya.
  Contoh lain, kalau kita merasa kalah dan kekurangan dalam hidup, merasa dunia 
ini tidak adil, yang kaya tambah kaya, sementara yang miskin tambah banyak, 
kita merasa tidak selalu mendapatkan kesempatan sebagaimana mereka yang 
beruntung, kita punya penyakit sehingga kita tidak bisa sesukses mereka, 
lingkungan kita yang tidak sekondusif yang di harapkan, dan berbagai kondisi 
negatif lainnya, merupakan manifestasi yang membuat kita demikian adanya. 
Menjadi korban kehidupan. Maka jika kita ingin merubahnya, kosongkanlah diri 
kita dari persepsi – persepsi negatif itu. Buatlah ruang baru, persepsi baru, 
sikap baru yang akan mengundang kemungkinan baru dan melahirkan dunia baru bagi 
kita. Kita percaya bahwa Allah maha adil, maha kaya, kita yakin bahwa apa yang 
kita keluarkan akan di ganti, sehingga kita tak takut kekurangan, kita yakin 
bahwa rizki kita sudah di atur, kita yakin bahwa alam ini penuh dengan sumber 
daya, jika sumber daya yang satu habis maka akan lahir sumber
 daya yang baru, kita yakin bahwa dalam diri kita sudah tersedia potensi yang 
mumpuni untuk keberlangsungan dan keberhasilan kita, dst. Ketika muatan negatif 
telah di sterilkan, maka insyaallah, kita telah menyediakan ruang untuk di isi 
muatan positif, dan akan terwujud. Kita telah membuat skenario menjadi pemenang 
dalam hidup, bukan menjadi korban. Keberlimpahan sesungguhnya telah ada di 
sekililing kita, dan kekurangan hanya ada pada diri kita. Bukalah hati dan 
pikiran kita untuk menerima keberlimpahan itu, buatlah kekosongan sebagai 
tempatnya dan tariklah dengan keberlimpahan itu dengan usaha dan do’a. 
  
  Wallohu ‘alam  

  yang benar dari Allah swt, yang salah dari saya. mohon maaf dan semoga 
bermanfaat.
  

  Wassalamu'alaikum wr wb
  tedi darussalam
  http://gratitude.rezaervani.com/

  




  

                           

       
---------------------------------
 Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download sekarang juga.

Kirim email ke