Perempuan itu cantik, bergaya, dari gaya dan tampangnnya dia anak 
kuliahan, tapi ada yang sangat disayangkan tangannya yang manis dan 
halus bahkan terlalu lembut untuk melakukan sebuah kebiasaan yang 
dilakukan kaum pria, kebiasaan kaum pria yang selalu mengeluarkan 
asap dari mulutnya, Perempuan yang kulihat saat ini begitu santai dan 
tanpa beban dia mengeluarkan asap itu dari bibirnya yang manis, 
tragis tapi ini yang terjadi. 

Ketika aku melihat adegan itu aku bertanya didalam hati, "mengapa kau 
lakukan itu apakah engkau mempunyai masalah, atau jangan-jangan itu 
yang membuatmu merasa senang dan tenang? Mengapa kau mengorbankan 
keanggunanmu hanya dengan sebatang rokok? Aku tahu disini aku tidak 
boleh membahas masalah keanggunan seorang perempuan karena ini 
terlalu dalam bahkan terlalu bertele-tele,bahkan aku sendiri kurang 
begitu mengerti arti keanggunan itu sendiri walaupun aku juga seorang 
perempuan tapi aku ingin membahas soal keinginanmu untuk menikmati 
kepulan-kepulan asap yang keluar dari mulut atau hidungmu? "

Ketika tiba-tiba kau melihat kearahku, Kau tahu yang ada dibenakku 
saat itu? Jika aku ditakdirkan untuk menjadi sahabatmu aku akan 
mengatakan kepadamu dengan sayangnya seorang sahabat, "limpahkan 
masalahmu kepadaku, agar ku bisa mengurangi rasa sesak bahkah sgala 
permasalah yang ada di dada dan hatimu". Dan Jika aku adalah 
sahabatmu aku akan menyarankanmu untuk minum kopi pahit hangat 
mungkin, atau coklat hangat dan dingin, atau mungkin kau pergi 
kesuatu tempat yang bisa membuatmu teriak, atau mungkin saja tiba-
tiba aku mencoba untuk menyarankanmu mendekatkan diri kepada-Nya, dan 
aku yakin kau akan mengatakan bahwa aku terlalu mendektekan, bahkan 
sok tahu, lebih parah lagi mungkin kau menuduhku terlalu membawa nama 
Tuhan dengan semua masalahmu dan mungkin kau tak ingin masalahmu 
didengar Tuhan, karena saat ini yang kau butuhkan hanya kepulan 
kenikmatan untuk menghilangkan beban itu, bukan ke tempat yang 
teramat indah untuk menghilangkan beban itu, beban yang seharusnya 
diangkat dan dilepaskan dari isi tubuhmu dan tidak menyisakannya 
disana.

Andai aku adalah sahabatmu saat ini pasti akan ada beberapa 
pertanyaan yang mungkin menurutmu tidak begitu penting, bahkan untuk 
dibahas sekalipun. Dan mungkin saja pertanyaanku membuatmu kesal, 
bahkan bisa saja kau memecatku jadi sahabatmu. Tapi kenyataan saat 
ini hanya aku hanya bisa bertanya tanpa bisa memintamu untuk 
menjawabnya. Jawaban yang akhirnya membuatku berpikir akan diriku 
sendiri. Dan membuatku tersentak sesaat, dan tentunya menjawab semua 
pertanyaanku kepadamu.

Kau bukanlah diriku, bukan diriku yang sudah mengerti akan itu, tapi 
saat ini kau beradi diposisi yang dulunya aku rasakan juga, posisi 
dimana aku tak tahu akan agama bahkan belum tahu tentang Tuhan secara 
utuh.

 Aku tak bisa memvonismu bahkan untuk hal demikian, karena aku 
bukanlah sesosok yang sempurna, bukan sosok seorang sufi, bukan sosok 
yang membuatku bisa memvonismu bahkan menyalahkanmu secara utuh, tapi 
aku adalah manusia yang teramat bodoh untuk itu, dan aku tahu ketika 
kau melakukan hal itu pasti ada permulaanya, dan aku yakin kau 
melakukan itu karena terpaksa bukan permintaanmu dari hatimu tapi 
permintaan penggoda ulung yang memaksamu bahkan merayumu secara 
dahsyat untuk melakukannya, sehingga kau pun tak berdaya untuk 
berakrab ria dengan dirinya bahkan sangat akrab.

Ketika aku memandangmu kembali,  kulihat ada raut wajah yang begitu 
menyimpan beban yang teramat berat disana dan makna akan sebuah 
masalah, masalah yang teramat dalam untuk kau ceritakan bahkan 
terlalu rumit sehingga kau tak mau bahkan terlalu berat untuk 
diceritakan, bahkan mungkin dengan sahabatmu sekalipun, dan kau 
meyakini mungkin saat ini kau merasa bahwa dia sang pencipta hembusan 
kenikmatan memberikan ketenangan teramat dalam bahkan dari sekedar 
makna kenikmatan itu sendiri walaupun aku berani bertaruh dia hanya 
bisa memberikan rasa ketenangan yang sangat singkat bahkan terlalu 
singkat ketika kau merasakan kenikmatan dari dirinya.
 Andaikan saat itu kau datang kepadaku, maka akan kuhulurkan tangan 
ini untuk melepaskan bebanmu dan aku akan mengatakan dengan lembut 
IZINKAN AKU JADI SAHABATMU.

Bandung, habis hujan dingin, 10 Juni 2008 
11 : 38 PM, Teruntuk seorang Perempuan di Ngopi Doeloe




Kirim email ke