Aku sudah datang terlambat siang itu. Aku sudah hampir ragu untuk hadir di
sana. Mungkin juga aku hampir tertinggal kalau saja tak meng-sms salah satu
temanku. Aku pun sampai ketika semua teman
sudah ada di mobil.  

Teteh mengatakan kalau kami akan menengok ayah dari seorang teman yang
masuk rumah sakit. Aku pun ingat sms dari temanku tentang dana, tapi saat aku
periksa dompet dan isi tasku, tak kutemukan juga uang tunai. Yah, aku lupa, aku
tak membawa sepeser uang pun. Kuperhatikan alas kaki pun hanya sendal jepit.
Aku memang tak siap untuk bepergian jauh. Aku sama sekali tak tahu menahu kalau 
hari ini juga kami akan menengok ke
rumah sakit. Alhamdulillah, dana yang akan digunakan menyumbang adalah uang kas
yang sudah terkumpul sebelumnya. 

   

Sepanjang perjalanan sayup-sayup kudengar kecemasan teteh yang berbicara
pada suaminya yang tengah menyetir mobil. Aku bukannya tak peduli apa yang
tengah terjadi dengan ayah dari temanku itu, tapi aku hanya coba mendengar dan
menunggu penjelasan dari mereka. Entah kenapa, padahal itu bukan kebiasaanku.  

   

Akhirnya, kami sampai di sebuah Rumah sakit sederhana dan ruang yang kami
tuju adalah ruang ICU. Kami bertemu dengan seorang akhwat berjilbab biru tua,
wajahnya terlihat lelah. Kemudian kami pun bertemu dengan ibu dari temanku, dan
saudara-sadauranya yang ikut menunggu. 

Baru saat itu aku mulai bertanya, kenapa harus mendatangi ICU, separah
apakah....? 

   

Kecelakaan motor, koma, kena bagian kepala!  

Aaah..... tidak, andai aku tak di sini.  

Rasanya, aku seperti merasakan dejavu.  

Rasanya aku seperti dibawa pada kejadian empat tahun lampau.  

   

======= 

Aku mungkin yang datang terakhir malam itu ke rumah sakit. Ketika aku
lewati pintu depan, aku sudah bertemu dengan teman-teman kakak, saudara sepupu,
tetangga dan banyak lagi. Kalau saja ibu tak menyuruhku segera datang saat itu,
aku pun enggan untuk datang. Selama aku di rumah,
aku tak mendengar dengan jelas keadaan bapak saat itu. Aku hanya tahu bapak
kecelakaan dan dibawa ke RSCM. Aku hanya tahu, kakak akan membeli darah setelah
ibu dan kakak menyusul ke rumah sakit terlebih dulu. Aku hanya tahu bapak ada
di IGD. Kecemasanku benar-benar tak tertandingi, tapi entah kenapa aku tak mau
ada di sana.  

   

Aku bersama keponakanku yang berumur 2 tahun ada di rumah. Aku benar-benar
tak tenang. Aku berusaha menahan tangis ini. Entahlah apa yang bisa aku rasakan
saat itu. Aku sama sekali tak menginginkan hal yang terburuk terjadi pada
bapakku. Hingga, akhirnya aku lihat sendiri keadaanya. Ketika berada di depan
pintu ruang resustasi IGD, aku langsung dihampiri seorang ibu yang langsung
memelukku.  

   

Di sana terbaring sosok laki-laki yang sangat berpengaruh bagiku. Sosok
yang memiliki arti besar bagi kami. Beliau terbaring kaku, darah terus ke luar
dari pelipis matanya. Bapak seperti orang tidur, tenang. Namun, kulihat, air 
mengalir
dari mata bapak. Di sebelah kiri bapak, ibu berdiri mengusap darah di wajah
bapak. Tak jauh dari sana, ada saudara, tetangga, dan sayup-sayup kudengar
penjelasan dokter. 

   

Aku ajak ibu menuju masjid untuk shalat isya. Alhamdulillah, ibu masih kuat
berjalan, mengingat tetangga-tetangga kami mencemaskan keadaan ibu saat itu.
Aku ingat, tak ada lagi yang bisa kami minta selain yang terbaik untuk bapak.
Yang terbaik, ya Allah... hanya itu yang bisa kami pinta. 

   

Dokter yang memeriksa keadaan bapak, sudah meminta ibu untuk sabar. Entah
firasat apa, kami tak bisa membayangkan apa yang terjadi malam itu. Memindahkan
bapak ke ruang ICU, tidak bisa dilakukan karena penuh, memindahkannya ke rumah
sakit lain pun tak memungkinkan. Sudah hampir 12 jam ada di sana. Kami hanya
memohon yang terbaik dan bergantian melafalkan doa dan bacaan Al-Quran. 

   

Hingga akhirnya... bapak pergi untuk selama-lamanya.  

   

=== 

Aku tersadar. Ya Allah, aku benar-benar tak
kuat ada di sini. Kulihat wajah-wajah sedih,
bingung dan perasaan tak menentu. Kulihat seorang ibu yang tengah menangis. 
Kulihat
sosok anak laki-laki yang terus menundukkan kepala. Di sini aku teringat akan
bapak. Kematiannya yang diawali kecelakaan yang begitu mirip dengan apa yang
dialami ayah temanku.  

   

Ya Allah, berikanlah yang terbaik buat ayah temanku itu 

Ya Allah, berikanlah yang terbaik buat keluarga mereka... 

Ya Allah, berikanlah yang terbaik.  

   

Keadaannya sang ayah tidak bisa kami ketahui siang itu. Tapi, sayup-sayup
kudengar, mereka sangat kesulitan dana, hingga kemungkinan akan menjual rumah. 
Sementara
kemungkinan kesadaran sang ayah tak meyakinkan. Mereka hanya bisa pasrah... 

  


 June, 16, 08 3.31 AM
 

   

   

   

   

   

   


novi_khansa'kreatif 
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
 http://akunovi.multiply.com
http://novikhansa.rezaervani.com/






      


      

Kirim email ke