Meretas Jalan Ir. Juanda
   
  Zubair Ibnu Awwam
  http://sebuahrisalah.multiply.com
  ID YM:paman_sam2
   
   
  
  
  
  Menapaki jalan Ir. Juanda bagi saya adalah hal yang sangat mudah saya lampaui 
bahkan saya lintasi. Tak perlu khawatir. Kesasar. Apalagi perlu bertanya-tanya 
kepada Pak Polisi. Saya pasti tahu dan sangat mengenal jalan itu. 
   
   
   
  
  
  
  Namun lain hal dengan menapaki sebuah amanat yang saya emban di pundak saya 
saat ini. Itu lebih sulit saya jalani ketimbang menapaki jalan itu. Duri dan 
onak pasti akan menghalangi saat saya mengemban amanat itu. Tak mulus 
melintasinya. Penuh dengan tantangan dan jiwa ksatria. Sabar dan semangat. 
Tanpa menyerah. Itulah yang harus saya tanamkan dalam sanubari saya jika saya 
masih mampu mengemban amanat itu. Ternyata tak mudah menapaki sebuah amanat 
dibanding menapaki jalan Ir. Juanda saat itu. Ya, walau pun jalan Ir. Juanda 
dan sebuah amanat kalau saya ibaratkan itu sama saja. Sama-sama penuh rintangan 
ketika melalui kesana. Kedua-duanya sama! 
   
   
   
  
  
  
  Jika menampaki jalan Ir. Juanda saya harus menahan bete ketika pandangan yang 
bagi saya tak asing lagi. Macet, menghalangi saya saat menuju ke tempat 
pekerjaan saya. Saya pun harus tetap cool untuk melampuinya. Halnya sama dengan 
sebuah amanat yang saya harus jalani dengan tetap bersabar dan ikhlas 
menjalaninya. Walau pun tak semulus jalan tol, bebas hambatan. Saya harus tetap 
semangat. 
   
   
   
  
  
  
  Kebetulan hari itu saat saya menuju jalan Ir. Juanda mentari baru saja 
menampaki dirinya ketika saya hendak berangkat kerja. Ya, hari itu tepatnya 
hari Senin. Hari permulaan segala hari untuk dimulai aktivitas. Bekerja. 
Apalagi saya sebagai pekerja pada sebuah lembaga pusat data riset dan 
perpustakaan. Pustakawan. Saya harus menuju ke tempat pekerjaan saya yang 
beralokasi  di jalan Ir. Juanda, Ciputat, Tangerang dengan segera mungkin 
sampai pada waktunya. Tepat waktu! Terlebih hari itu jalan menuju ke arah itu 
macet ada di mana-mana. Dan saya harus tetap bersabar menuju ke sana. Tempat 
saya bekerja.
   
   
   
  
  
  
  Kenapa hal itu saya lakukan? Di karenakan saya memiliki suatu emban yang ada 
di pundak saya. Saya di amanatkan oleh orang yang mempercayai untuk menjadi 
pengurus lembaga pusat data dan riset serta perpustakaan. Tentunya saya tak 
boleh sembarang dan mengecewakan orang yang telah mempercayai saya itu. Di 
karenakan itu juga bagian dari kewajiban saya. Ya, walau pun hari itu mata saya 
masih menyala 5 watt. Masih redup. Belum menyala dengan total. Masih mengatuk. 
Namun itu saya lakukan karena untuk sebuah amanat dan pekerjaan yang emban pagi 
itu.
   
   
  
  
  
  Tanpa disadari dalam perjalanan saya menuju jalan itu (baca: jalan Ir. 
Juanda) saya bersua dengan sesorang yang sama-sama satu profesi sebagai 
pekerja. Di sebuah angkot. Kebetulan setiap kali saya hendak berangkat bekerja 
saya selalu menggunakan angkot itu untuk mengemban tugas saya sebagai pekerja. 
Dan orang yang satu profesi dengan saya itu menegur saya.
   
   
  
  
  
  ”Mas kerja dimana? Tiap hari ya Mas berangkat kerja menggunakan angkot?” 
tanyanya.
   
   
  
  
  
  Saya hanya tersenyum. Tak bisa langsung menjawab.
   
   
  
  
  
  ”Ya, Mas saya tiap hari menggunakan angkot,” jawab saya singkat. Seadanya.
   
   
  
  
  
  ”Pulangnya juga, Mas? Apa nggak lelah,” lanjutnya. 
   
   
  
  
  ”Ya, Mas namanya juga kerja mau berkata apa lagi. Masih syukur saya dapat 
bekerja. Bukankah kerja ibadah juga.” saya pun langsung  membalasnya lagi 
dengan ramah. Dan  ia hanya diam. Tak bergeming. Dan hingga saat saya melihat 
ke ekor matanya itu seakan-akan menyorotkan suatu tanda kebenaran yang saya 
utarakan kepadanya saat itu..
   
   
   
  
  
  
  Usai pertemuan sesingkatnya di atas angkot tak terasa angkot yang menuju 
jalan Ir. Juanda telah sampai di tujuan. Tempat saya bekerja. Dan ternyata 
pertemuan saya itu tak hanya sampai disitu. Saya masih harus bertemu  lagi 
dengan yang lain! Tak lain adalah tugas yang saya emban lagi. Belum berakhir 
sampai disitu. Masih ada lagi yang perlu saya kerjakan di tempat saya bekerja. 
Amanat saya sebagai pustakawan. Hingga akhirnya pertemuan singkat saya dengan 
orang yang baru saya kenal itu masih saya terngiang apa yang dikatakannya di 
ekor telinga saya. Begitu juga dengan amanat yang ada dipundak saya yang masih 
bergelayut dan belum berakhir. Perjuangan dan semangat saya masih tetap 
berjalan sebelum  tugas saya sebagai pustakawan belum saya kerjakan. Halnya 
sama dengan saya menampaki dan meretas jalan Ir. Juanda. Saya masih tetap sama 
dengan pekerjaan saya dan jalan itu. Masih bernama jalan Ir. Juanda apabila 
jalan itu belum berubah nama. Begitu juga dengan pekerjaan saya jika
 Allah masih mengizinkan saya bekerja di tempat saya ini untuk lebih lama lagi. 
Semoga.... 
   
   
   
  
  
  
  ”Barangsiapa yang berisitirat pada sore hari sesudah bersusah payah bekerja 
maka ia berada pada sore itu dalam keadaan mendapatkanampuana Allah.” 
(al-Hadist)
   
   
  
  
  
  Ulujami, 05 Juni 2008

       
---------------------------------
 Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download sekarang juga.

Kirim email ke