ini bang fiyan bukan??? tumben,,, kok ganti nama, bang???
----- Original Message ---- From: MR AASHIQUE aashique <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, June 20, 2008 9:29:34 AM Subject: [rezaervani] [CATHAR] Meretas Jalan Ir. Juanda Meretas Jalan Ir. Juanda Zubair Ibnu Awwam http://sebuahrisala h.multiply. com ID YM:paman_sam2 Menapaki jalan Ir. Juanda bagi saya adalah hal yang sangat mudah saya lampaui bahkan saya lintasi. Tak perlu khawatir. Kesasar. Apalagi perlu bertanya-tanya kepada Pak Polisi. Saya pasti tahu dan sangat mengenal jalan itu. Namun lain hal dengan menapaki sebuah amanat yang saya emban di pundak saya saat ini. Itu lebih sulit saya jalani ketimbang menapaki jalan itu. Duri dan onak pasti akan menghalangi saat saya mengemban amanat itu. Tak mulus melintasinya. Penuh dengan tantangan dan jiwa ksatria. Sabar dan semangat. Tanpa menyerah. Itulah yang harus saya tanamkan dalam sanubari saya jika saya masih mampu mengemban amanat itu. Ternyata tak mudah menapaki sebuah amanat dibanding menapaki jalan Ir. Juanda saat itu. Ya, walau pun jalan Ir. Juanda dan sebuah amanat kalau saya ibaratkan itu sama saja. Sama-sama penuh rintangan ketika melalui kesana. Kedua-duanya sama! Jika menampaki jalan Ir. Juanda saya harus menahan bete ketika pandangan yang bagi saya tak asing lagi. Macet, menghalangi saya saat menuju ke tempat pekerjaan saya. Saya pun harus tetap cool untuk melampuinya. Halnya sama dengan sebuah amanat yang saya harus jalani dengan tetap bersabar dan ikhlas menjalaninya. Walau pun tak semulus jalan tol, bebas hambatan. Saya harus tetap semangat. Kebetulan hari itu saat saya menuju jalan Ir. Juanda mentari baru saja menampaki dirinya ketika saya hendak berangkat kerja. Ya, hari itu tepatnya hari Senin. Hari permulaan segala hari untuk dimulai aktivitas. Bekerja. Apalagi saya sebagai pekerja pada sebuah lembaga pusat data riset dan perpustakaan. Pustakawan. Saya harus menuju ke tempat pekerjaan saya yang beralokasi di jalan Ir. Juanda, Ciputat, Tangerang dengan segera mungkin sampai pada waktunya. Tepat waktu! Terlebih hari itu jalan menuju ke arah itu macet ada di mana-mana. Dan saya harus tetap bersabar menuju ke sana. Tempat saya bekerja. Kenapa hal itu saya lakukan? Di karenakan saya memiliki suatu emban yang ada di pundak saya. Saya di amanatkan oleh orang yang mempercayai untuk menjadi pengurus lembaga pusat data dan riset serta perpustakaan. Tentunya saya tak boleh sembarang dan mengecewakan orang yang telah mempercayai saya itu. Di karenakan itu juga bagian dari kewajiban saya. Ya, walau pun hari itu mata saya masih menyala 5 watt. Masih redup. Belum menyala dengan total. Masih mengatuk. Namun itu saya lakukan karena untuk sebuah amanat dan pekerjaan yang emban pagi itu. Tanpa disadari dalam perjalanan saya menuju jalan itu (baca: jalan Ir. Juanda) saya bersua dengan sesorang yang sama-sama satu profesi sebagai pekerja. Di sebuah angkot. Kebetulan setiap kali saya hendak berangkat bekerja saya selalu menggunakan angkot itu untuk mengemban tugas saya sebagai pekerja. Dan orang yang satu profesi dengan saya itu menegur saya. ”Mas kerja dimana? Tiap hari ya Mas berangkat kerja menggunakan angkot?” tanyanya. Saya hanya tersenyum. Tak bisa langsung menjawab. ”Ya, Mas saya tiap hari menggunakan angkot,” jawab saya singkat. Seadanya. ”Pulangnya juga, Mas? Apa nggak lelah,” lanjutnya. ”Ya, Mas namanya juga kerja mau berkata apa lagi. Masih syukur saya dapat bekerja. Bukankah kerja ibadah juga.” saya pun langsung membalasnya lagi dengan ramah. Dan ia hanya diam. Tak bergeming. Dan hingga saat saya melihat ke ekor matanya itu seakan-akan menyorotkan suatu tanda kebenaran yang saya utarakan kepadanya saat itu.. Usai pertemuan sesingkatnya di atas angkot tak terasa angkot yang menuju jalan Ir. Juanda telah sampai di tujuan. Tempat saya bekerja. Dan ternyata pertemuan saya itu tak hanya sampai disitu. Saya masih harus bertemu lagi dengan yang lain! Tak lain adalah tugas yang saya emban lagi. Belum berakhir sampai disitu. Masih ada lagi yang perlu saya kerjakan di tempat saya bekerja. Amanat saya sebagai pustakawan. Hingga akhirnya pertemuan singkat saya dengan orang yang baru saya kenal itu masih saya terngiang apa yang dikatakannya di ekor telinga saya. Begitu juga dengan amanat yang ada dipundak saya yang masih bergelayut dan belum berakhir. Perjuangan dan semangat saya masih tetap berjalan sebelum tugas saya sebagai pustakawan belum saya kerjakan. Halnya sama dengan saya menampaki dan meretas jalan Ir. Juanda. Saya masih tetap sama dengan pekerjaan saya dan jalan itu. Masih bernama jalan Ir. Juanda apabila jalan itu belum berubah nama. Begitu juga dengan pekerjaan saya jika Allah masih mengizinkan saya bekerja di tempat saya ini untuk lebih lama lagi. Semoga.... ”Barangsiapa yang berisitirat pada sore hari sesudah bersusah payah bekerja maka ia berada pada sore itu dalam keadaan mendapatkanampuana Allah.” (al-Hadist) Ulujami, 05 Juni 2008 ________________________________ Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
