Konsekuensi Doa "Minta Jodoh"

Oleh : Reza Ervani

Bismilahirrahmanirrahiim


Di Al Quran Al Karim Surah Al Furqan ayat 74, ada doa orang yang beriman
:

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Doa ini seringkali dilantunkan oleh mereka yang sedang mendambakan
pasangan hidup.

Tapi ada bagian yang seringkali pula kita luput merenungkannya, yakni
bagian "wajalna lil muttaqina imama" (Jadikan kami pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwa).

Mari sejenak kita renungkan.

Doa yang dicantumkan dalam Al Quran diatas memiliki makna yang mendalam.
Sesuai dengan bahasan kita kali ini, bolehlah rasanya kita bagi doa itu
menjadi dua konsekuensi :

a.       Konsekuensi pembentukan keluarga yang sakinah, mawaddah dan
penuh rahmah

Ini yang seringkali disebut sebagai tujuan utama pembentukan keluarga,
sebagaimana yang dicantumkan pula dalam Al Quran Al Karim :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir. (Al Quran Al Karim Surah Ar Ruum ayat 21).

Konsekuensi pertama ini menuntut kita untuk belajar terus, mentarbiyah
diri dan istri, juga anak, agar dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan
fatal, yang menyebabkan keluarga hilang visi dan misinya.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan. (Al Quran Al Karim Surah At Tahrim ayat 6)

b.      Konsekuensi teladan dan kepemimpinan ummat (keluarga da'wah)

Ternyata ada satu lagi konsekuensi dari doa itu.

Setelah dianugerahi seorang pasangan, maka tidak serta merta tanggung
jawab kita selesai. Ada tanggung jawab lain ternyata, yakni KETELADANAN.

"Kamu semua adalah da'i sebelum (profesi) lainnya"

Demikian ujar sebuah jargon da'wah.

Seorang suami, ternyata harus belajar bagaimana menyeimbangkan antara
tuntutan haknya sebagai seorang suami dengan kewajibannya memberikan
kesempatan bagi sang istri untuk beraktivitas dan berkembang. Begitu
juga seorang istri, harus pandai betul, menselaraskan antara hak untuk
mengembangkan diri dan kewajibannya sebagai seorang ratu rumah tangga.

Keseimbangan itu akan membuahkan manfaat keluarga untuk sekelilingnya.
Manfaat itulah yang disebut dengan da'wah.

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang
lain", demikian sabda junjungan Rasulullah Muhammad saw.

Perkataan seorang suami,"Ah, capek … saya kan sudah banting
tulang mencari nafkah …" tidak akan muncul jika ia menyadari betul
konsekuensi ganda dari doa yang ia lantunkan ketika meminta seorang
pasangan kepada Sang Kholiq.

Juga perkataan seorang istri,"Abi … Umi kan masih capek, bikin
sendiri aja gih …", pun tidak akan muncul jika ujung dari do'a
itu dipahami dengan seksama.

Fungsi ganda keluarga muslim inilah yang menyebabkan ia berbeda dari
sistem keluarga yang biasanya. Keluarga yang hanya berorientasi dapur,
sumur, kasur tidak akan mampu memberikan efek kesholihan sosial.

Konsekuensi "lil muttaqina imama" ini juga menuntut
kebijaksanaan yang lebih ketika memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan
kepentingan keluarga, karena ada pertimbangan keummatan yang masuk ke
ranah pengambilan keputusan tersebut. Sesuatu yang menurut pertimbangan
baik untuk keluarga, tetapi tidak baik untuk ummat, bisa menyebabkan
keputusan itu gugur dilaksanakan. Sebaliknya pula, jika apa yang
dipikirkan baik untuk ummat ternyata tidak berdampak positif buat
keluarga, tak boleh pula dipaksakan untuk tetap dijalankan.

Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi
neraca itu.

(Al Quran Al Karim Surah Ar Rahman ayat 8 – 9)

Fungsi ganda ini membutuhkan pembiasaan dan pembelajaran. Pasti ada
lelah di saat-saat awal, karena inilah bagian dari tarbiyah keluarga
itu. Jika nanti fungsi ganda keluarga yang merupakan konsekuensi doa
kita ketika meminta pasangan itu tercapai, maka cita-cita menjadi
ustadziatul `alam (guru bagi semesta) itu Insya Allah akan tercapai.

Allahu `Alam

Bangka Barat – Bandung, Jumat  23 Jumadil Akhir 1429 H

Kirim email ke