Nah, ini baru pemikiran  yang layak untuk diforward ke penguasa pendidikan 

Salam


----- Pesan Asli ----
Dari: Rumah Ilmu Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 28 Juni, 2008 22:56:07
Topik: [rezaervani] [OPINI] Beberapa Kelemahan Teknis Mendasar Program BSE


Beberapa Kelemahan Teknis Mendasar BSE
Oleh : Reza Ervani

Untuk lebih dapat dimengerti mengapa ada buruk sangka tentang ketidakseriusan 
pemerintah menggarap program Buku Sekolah Elektronik, berikut beberapa point 
teknis yang diamati sekilas dari program yang sudah dipublikasikan cukup gencar 
selama beberapa minggu terakhir.

1. Ukuran file yang sangat besar dalam format pdf.
Tampaknya ada miskonsepsi tentang e-book oleh penyelenggara program. (Coba 
lihat http://rezaervani. wordpress. com untuk penjelasan lebih lanjut tentang 
e-book). File yang terlalu besar ini tidak hanya menyusahkan klien ketika 
mengunduh, tapi juga berdampak semakin tingginya beban server yang memuat 
e-book BSE. Dan ini tampaknya terbukti dari beberapa laporan yang menyebutkan 
website tersebut tidak dapat diakses di warnet. Penulis sendiri berulang kali 
mencoba di kampung dengan GPRS yang aksesnya jauh lebih lambat dan tentu dapat 
dipastikan kegagalannya. 

2. Tidak tersedianya server mirror
Dengan publikasi gencar-gencaran tentang BSE, termasuk di televisi, seharusnya 
ada antisipasi mebludaknya beban server. Untuk mempermudah proses pengunduhan, 
seharusnya disediakan server mirror di titik-titik krusial, misalnya di 
Surabaya atau Makasar untuk Indonesia timur. Tapi tampaknya hal ini tidak masuk 
dalam perencanaan (atau tidak direncanakan sama sekali)

3. Tidak Lengkap
Dari keterangan 250 buku gratis yang dibeli oleh pemerintah, ternyata tidak 
semuanya tersedia di BSE. 

4. Redefinisi Konsep e-learning
Berulang kali dalam berbagai kesempatan mengisi pelatihan ICT untuk para guru 
penulis menekankan bahwa e-learning tidak identik dengan internet. Kalimat 
"computer network" tidak harus diterjemahkan secara fisik, apalagi mengandalkan 
backbone jardiknas yang saat ini bandwidth-nya terus-menerus dikurangi, tapi 
dapat pula diartikan sebagai jaringan sosial. Karenanya distribusi pengetahuan 
elektronik dalam bentuk CD atau USB dapat jauh lebih efektif, tokh GRATIS kan ? 
Anehnya pemerintah justru membuka peluang perbanyakan buku dalam bentuk cetak, 
dengan harga maksimal 14rb. Terlepas dari ada atau tidak yang mau menerbitkan, 
ini justru jadi peluang penerbit nakal mengkomersilkan buku yang dimaksud 
dengan merubah labelnya saja. Untuk di daerah-daerah hal ini sangat rawan, 
karena fungsi kontrolnya sangat sulit. Hal ini bisa diminimalisir sesungguhnya 
dengan mengirimkan CD master 250 buku itu ke dinas pendidikan setempat untuk 
kemudian bisa diperbanyak secara
 gratis.

5. Bukan Guru atau Siswa yang harus punya laptop, tapi perpustakaan sekolah.
Dengan sedikit bantuan, komputer di perpustakaan sekolah malah bisa difungsikan 
sebagai server mirror untuk sekolah yang bersangkutan. Jadi optimasi fungsi 
e-reading di perpustakaan sekolah jauh lebih bermanfaat daripada menunggu semua 
guru dan siswa punya laptop.

Tulisan ini sangat terbuka untuk diskusi. Atau diskusi dan konsultasi teknis 
pengembangan di perpustakaan sekolah bisa japri ke penulis di email 
reza[at]rezaervani. com

Salam,
Tukang Ngurusin Buku
Reza Ervani
Mohon maaf jika format tulisan kurang rapi, karena ditulis dan diposting 
menggunakan communicator 9500.

    


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke