HANYA JANJI YANG TERSISA
Fiyan Arjun
http://sebuahrisala h.multiply. com
ID YM:pamn_sam2
Kamu sudah kerja Nyak juga sudah bersyukur kok. Kamu nggak beliin apa-apa buat
Nyak juga nggak marah. Yang penting kamu dapat kerjaan Nyak sudah senang.
Menjadi orangtua adalah anugerah dan sudah menjadi kodratNya. Menjadi seorang
anak adalah keberkahan. Terlebih jika seorang anak itu adalah orang yang sangat
dibanggakan dan dijadikan panutan bagi keluarga. Tapi sayang bagiku hal
kedua-keduanya itu belum (bisa) aku raih sampai saat ini. Apalagi saat aku
melihat wajah yang amat aku sangat sayangi dan aku kasihi itu telah tirus
dimakan usia. Menua. Mengeriput. Hanya itu yang menghias di wajahnya saat ekor
mataku melihat ke arahnya.
Miris. Nelangsa. Tak ada keceriaan yang tampak di wajah tirusnya. Itulah yang
aku lihat sampai saat ini. Aku sebagai anak laki-laki kebanggaannya merasa malu
di hadapannya. Ya, aku malu sebagai anak laki-lakinya hingga sampai saat ini
belum bisa membahagiakan dirinya. Melainkan hanya keluhan dan curhatan
termehek-mehek tentang kegelisahan sebagai seorang laki-laki yang sampai ini
ingin menggenapkan separuh dien-Nya belum terwujud hanya itu yang aku berikan
kepadanya. Bukan kebahagian. Ya, aku ingin seperti mereka lakukan bagi seorang
anak yang—sudah sukses bisa membahagiakan ibunya dengan segala limpahan materi.
Entah itu perhiasan yang mengkilap, rumah untuk masa depan—hari tuanya kelak
serta menantu yang dapat membantunya dihari-hari sisa hidupnya. Ini aku malah
tidak! Aku tak dapat seperti itu.
Kamu sudah kerja Nyak juga sudah bersyukur kok. Kamu nggak beliin apa-apa buat
Nyak juga nggak marah. Yang penting kamu dapat kerjaan Nyak sudah senang.
Entah sampai kapan aku bisa mendengar kalimat itu aku tak bisa
memperkirakannya. Mungkin hanya sampai ajal menjemput dirinya? Hanya yang Maha
Menghidupkan dan Mematikan ciptaanNya yang lebih berhak. Tapi sebagai anak aku
tak ingin orang yang sangat aku jadikan sebagai perisai hidup itu lebih dahulu
meninggalkanku. Meninggalkanku saat ia belum bisa merasakan kebahagian dari
tangan anak laki-lakinya ini.
Apakah aku harus menunggu mukjizat dari yang Maha Kuasa untuk menghampiriku?
Ternyata itu sama saja membuat aku sebagai laki-laki dimatanya seperti
laki-laki cengeng. Tak bisa setegar hidupnya yang pernah ia alami. Untuk bisa
membahagiakannya! Hanya untuk membahagiakan dirinya saat-saat di masa-masa hari
tuanya itu aku tak bisa setegar dirinya, ibuku. Hanya angan yang dapat
menghimpit dibenakku saja. Membawaku sebagai orang yang tak bisa percaya akan
kekuasaanNya. Berhati kerdil!
Ya, kadang aku sebagai anak laki-laki darinya merasa malu. Seakan sedikit
kebahagian sampai saat ini aku tak bisa memberikannya. Padahal dari sorot
matanya yang cekung itu ia ingin mengatakan bahwa ia ingin sekali merasakan
kebahagian dari anaknya ini. Aku sudah tahu walau ia tak berkata demikian.
Ingin merasakan kebahagian dari tangan anak laki-lakinya ini. Anak laki-laki
yang dibanggakan dan dijadikan panutan untuk keluarga. Tapi ini tidak sama
sekali. Walau pun aku tahu bahwa ia tak butuh kebahagian yang serba gemerlap
duniawi. Toh aku sudah bekerja itu baginya suatu kebahagian untuknya. Tapi…aku
tak ingin seperti itu? Aku ingin sekali membahagiakan dirinya ya walaupun hanya
kalung emas se-gram. Aku ingin berikan untuknya agar aku bisa membuat bibirnya
yang pucat tanpa polesan itu bisa melikung bak pelangi terbalik. Aku ingin
membuatnya senang dan bahagia. Namun sampai saat ini aku belum juga memberikan
itu.
Kamu sudah kerja Nyak juga sudah bersyukur kok. Kamu nggak beliin apa-apa buat
Nyak juga nggak marah. Yang penting kamu dapat kerjaan Nyak sudah senang.
Nyak. Ya, itu panggilan ibuku. Nyak seorang single parent. Yang kegiatannya
hanya merawat pohon pandan, kembang-kembang liar dan mengikuti pengajian
ibu-ibu yang usianya sudah manula. Halnya ibuku yang saat ini usianya 65 tahun
lebih. Ya, memang usianya sudah tua. Tapi semangat untuk melihat anak-anaknya
bahagia tampak usianya yang sudah tua itu tak tampak. Namun sebagai kodrat
manusia tak dapat dibohongi. Rambut yang memulai pudar warnanya. Putih.
Mengisyaratkan bahwa itulah kodrat manusia semakin usianya telah menua
tanda-tanda kepikunan serta “ketidaksempurnaan” telah menyelubungi dirinya.
Nyak, Fiyan janji akan membahagiakn Nyak. Berkali-kali kalimat itu bergumam
dibilik paru-paruku. Kalimat itu aku utarakan saat aku mencium tangannya yang
sudah terlihat urat-urat perjuangan hidupnya bersama suaminya yang kini telah
lebih dahulu meninggalkannya lebih awal. Ya, kalimat itu aku dendangkan dalam
hati saja saat aku ingin pamit untuk mengemban sebuah amanah. Bekerja. Itulah
kalimat yang tiap kali aku pendam di dalam palung kalbuku paling dalamwalau
seorang Nyak tak mengetahuinya. Bahwa anaknya ingin membahagiakan orangtuanya.
Entah sampai kapan kalimat itu aku pendam? Aku tak tahu. Apalagi saat segala
kebutuhan primer dan sekuder melonjak tinggi aku semakin jauh dari ingin
membahagiakannya. Ya, tidak lama lagi aku ingin keluar dari tempat aku
bekerja—sekarang ini aku tempati. Dikarenakan aku tak sanggup lagi untuk
menanggung segala kebutuhanku dan juga untuk membahagiakan orang yang sangat
aku sayangi dan aku cintai itu. Gajiku tak sesuai dengan apa yang aku kerjakan.
Yang ada aku hanya bisa buat makan dan juga hanya untuk transport sehari-hariku
bekerja. Itu pun aku kadang mengutang dulu kepada kakakku untuk memenuhi biaya
transport kerjaku. Ironis sekali.
Memang itulah yang saat ini aku alami. Aku tak tahu apakah aku harus bertahan
di tempatku yang sekarang ini atau tidak? Satu hal kalau aku meneruskan di
tempat pekerjaanku ini sampai kapan aku bisa membahagiakan ibuku? Toh gaji yang
aku terima saja tak mencukupi apalagi untuk membahagiakan dirinya. Memang aku
akui bila melihat hal ini aku seperti orang tak bersyukur. Tapi kapan aku bisa
menyukuri kebahagiaan itu jika sampai saat ini bukan kebahagian ibuku yang aku
terima ini hanya keluhan-keluhan tentang gajiku yang standar. Aku hanya digaji
Rp. 480.000/ bulan sebagai seorang administrasi sekaligus menjadi kataloger.
Apakah itu cukup?
Kamu sudah kerja Nyak juga sudah bersyukur kok. Kamu nggak beliin apa-apa
buat Nyak juga nggak marah. Yang penting kamu dapat kerjaan Nyak sudah senang.
Kalau aku keluar dari pekerjaanku yang—sekarang ini tapi kalimat-kalimat itu
masih saja terngiang di ekor telingaku. Aku tak sanggup untuk melakukan itu.
Tapi aku ingin sekali membahagiakan ibuku dari tanganku sendiri. Kalau hanya
keluhan-keluhan yang ia terima dariku sampai saat ini kapan aku bisa
membahagiakannya. Hingga anganku bermain bersama janji yang sampai saat ini aku
ingin katakan yang belum aku utarakan kepada orang yang telah mendidik dan
membesarkanku.
Nyak sebenarnya anakmu ingin sekali membahagiakan Nyak. InsyaAllah jika nanti
ada rezeki anakmu ini akan membelikan kalung untuk Nyak.
Janji. Ya, janji seorang anak laki-laki kepada orang yang ia cintai dan ia
sayangi yang belum terucap dari bibir anaknya ini. Hanya janji tinggalah janji
yang masih tersimpan dan masih terbenam direlung sanubariku. Aku sebagai anak
laki-lakinya yang menjadi kebahagian dan menjadi panutan dari keluarganya. Anak
yang selalu ia semangati dengan kecerian kepada anaknya ini untuk menghadapi
kehidupan ini. Aku semakin tak kuasa untuk lebih lanjut mendengarkan kalimat
itu. Kehidupan yang entah sampai kapan aku hadapi dan aku lalui nanti. Tapi
janjiku sebagai laki-lakinya masih ada bersama cintaku kepada orang yang
sangat aku cintai dan aku sayangi. Hanya janji yang masih tersisa sampai saat
ini…***(fy)
Ulujami, 04 Juli 2008
Tulisan ini aku persembahkan untuk anak-anak yang berhati mulia yang telah
membahagiakan orangtuanya. Namun kebahagian orangtua tak ada
batasnya….Sayangilah orangtuamu itu. Kelak kau akan menyesal saat mereka tak
ada disisimu. Chaiyooo….
------------------------------------
Ikuti BINCANG GURU & PENDIDIKAN bersama RUMAH ILMU INDONESIA
Setiap Ahad di Radio MQ 102,7 FM Bandung pukul 19.30 WIB
Disiarkan ulang pula di Radio Suara Kencana FM Bogor dan Radio Sipatahunan
BogorYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/rezaervani/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/rezaervani/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/