Jakarta - Kompas, Sepekan sebelum tahun ajaran baru dimulai, warga DKI
mulai memburu segalah perlengkapan sekolah, termasuk buku-buku
pelajaran. Bukan hanya toko buku ternama, pasar buku bekas seperti di
Kwitang dan Senen, Jakarta Pusat, pun dibanjiri pembeli.

"Kalau beli di toko buku mahal sekali, di Kwitang bisa dapat harga
setengahnya saja. Belanja buku di sini membantu mengirit beban
pengeluaran keluarga, apalagi saat semua harga kebutuhan pokok naik
seperti saat ini,"kata Wahyu Minggu (6/7)

Minggu pagi kemarin, Wahyu (40) bersama istri dan anak bungsunya sengaja
datang ke Kwitang dari rumahnya di Kota Bambu, Jakarta Barat, demi
mencari buku pelajaran bekas. Selain lebih murah, kondisinya pun lebih
bagus. Yang penting, kata Wahyu, harus sabar memilih dan menawar.

Dwiandi (16) yang baru saja naik ke kelas III di sebuah SMA di Cempaka
Putih, Jakarta Pusat, hampir setengah hari berkeliling Senen dan Kwitang
demi berburu sekitar 12 buku untuk kelas barunya nanti. Di Kwitang, buku
baru didiskon hingga 35 persen. Buku bekas dalam kondisi bagus dijual
lebih murah sekitar 40 persen dari harga buku baru.

"Sudah menjadi rutinitas, omzet kami naik 20-30 persen menjelang tahun
ajaran baru. Beberapa kios juga sengaja menambah barang dagangan serupa
buku-buku tulis," kata Sumasri (45) salah seorang pedagang yang telah
berjualan buku lebih dari 15 tahun lalu di Pasar Kwitang.

Seragam tidak laku
Akan tetapi, suasana menjelang tahun ajaran baru kali ini dirasakan
berbeda oleh penjahit seragam sekolah. Sejumlah penjahit di daerah
Rawamangun, misalnya, mengaku tahun ini lebih sepi dibandingkan tahun
sebelumnya. Order menjahit pakaian seragam diprediksi mulai ramai pekan
depan.

"Biasanya awal Juli mulai ramai orang tua yang ingin menjahitkan seragam
anaknya. Sekarang belum begitu nampak, masih didominasi pakaian harian,"
ujar Heru (21), salah seorang pegawai Edi Taylor di Lantai I Pasar Sunan
Giri, Rawamangun.

Alisha (38), pemilik Alisha Konveksi di Pasar Senen, mengatakan, pesanan
seragam tahun ini lesu. Ia berharap mendapat order 10.000 lembar atau
dua tiga kali lipat dari biasanya. Ternyata, dibanding tahun lalu,
pesanan seragam justru turun drastis sampai 40 persen. Pesanan kali ini
hanya 2.000 seragam (wer/nel)

Kirim email ke