waduh, saya ga tahu, kenapa tulisan ini dikategorikan cerpen, padahal
ini kisah nyata...

maaf, karena sudah 2 kali tulisan kisah nyata saya ini dikategorikan
cerpen, makanya saya mengirim ini.

kalaupun saya mengirim cerpen, saya akan tulis, ini cerpen, tapi
tulisan ini lebih ke diary, karena memang nyata terjadi.....

trims


--- In [email protected], novi khansa' <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tak Akan
> Pernah Mati  
> 
> Oleh:
> Novi Khansa 
> 
>    
> 
>    
> 
>    
> 
> Akhir masa kuliah, 2003 
> 
> Tergopoh-gopoh saya berjalan
> menuju rumah kami. Sederhana,
> tapi penuh arti. Sebuah rumah yang dengan jerih payah seorang bapak
bisa kami
> huni. Membuka pagar rumah, biasanya saya dapati sepeda motor bapak
di sana.
> Pintu rumah akan terbuka dan terpampang jelas ruang tamu. Tidak ada yang
> menarik dalam rumah kami. Bahkan tak ada pajangan foto keluarga.
Tapi, di sana
> ada sebuah meja tulis. Di balik meja itu, duduk seorang yang usianya
sudah
> lebih dari setengah abad.  
> 
>             Di
> tangannya sebuah pulpen atau pensil. Di hadapannya, ada buku-buku,
kertas,
> kalkulator, benda apa saja yang bisa mendukung tulisannya. Posisi
meja tulis
> dan bapak yang berada di baliknya terlihat jelas ketika saya
longokkan kepala
> ini.  
> 
> "Assalamu'alaykum" hari masih
> sore ketika saya pulang dari Depok. Sebenarnya saya ngekos di daerah
Pindok
> Cina, tapi untuk beberapa semester, saya memilih pulang. Bapak
meminta saya
> untuk membantu mengetikkan naskahnya. Bapak terlampau tua untuk bisa
hapal
> tombol-tombol kibord komputer. Bapak justru lebih terbiasa
menggunakan mesin
> tik.  
> 
>             Saya
> dapati senyuman sumringah di sana. Walau alisnya yang begitu tebal 
menyiratkan kegalakannya. Kumisnya yang biasa
> saja, entah kenapa mengurangi image "galak" di wajah bapak. Hmm, untuk
> sementara, laki-laki berkumis yang saya sukai cuma bapak, hehehe :D.  
> 
> "Oleh-oleh" ujar bapak melihat
> saya menenteng seplastik gorengan yang saya beli tak jauh dari rumah
kami. Cuma
> ini, tapi bapak senang... Memang sudah beberapa kali, ketika pulang
ke rumah
> dan masih sore, saya sempatkan untuk membeli gorengan. Entah, apa
yang bapak
> pikirkan, dia selalu senang dengan kehadiran oleh-oleh itu, walau
tak semua
> beliau makan.  
> 
> Padahal, untuk urusan
> oleh-oleh, bapak juaranya. Ketika pulang kerja, ada saja yang bapak
bawa. Dari
> mulai beberapa pasang sendal perempuan, pakaian, makanan. Tak
jarang, bapak
> memanggil kami ketika membawa makanan enak.  
> 
>    
> 
> *** 
> 
>    
> 
>             Saya
> tengah mengikuti pelajaran siang itu di sebuah SMU, ketika seseorang
mengetuk
> pintu kelas kami. Bapak meminta izin, menjemput saya di sekolah.
Bukan untuk
> sebuah kebutuhan mendesak, bukan untuk bepergian atau jalan-jalan
atau bukan
> karena ada kabar buruk. Tapi, untuk sebuah keperluan yang bisa
dibilang penting,
> yaitu membuat KTP. Bapak
> mengantar saya mengurus KTP di kelurahan dekat rumah kami, yang juga
tak jauh
> dari sekolah saya. Lucu atau memalukan, entahlah. Pada usia yang
terbilang
> dewasa, 17 tahun, untuk bikin KTP, masih dibantu bapak. :D 
> 
>             Hmm,
> apa karena saya anak manja? Atau karena saya tidak juga mandiri.
Sebagai anak
> bungsu, bisa dibilang curahan kasih sayang mengalir kepada saya.
Hingga kakak
> perempuan saya yang pertama adalah pembela sejati di tengah rengekan
saya
> dijahili orang (maklumlah, sewaktu kecil, saya adalah objek paling
lemah untuk
> dibikin nangis orang :D). Dia
> akan berada di garda depan untuk berantem dengan siapapun yang
mengganggu saya.
>  
> 
>             Ingatan saya pun sampai ketika masih SMP,
> saya tak diperbolehkan untuk mengunjungi saudara saya di Tanjung 
Priok dengan "menakut-nakuti" saya akan
> tindakan kekerasan yang terjadi di mana-mana. Tapi begitu besar,
perlahan tapi
> pasti, bapak mulai menyerahi beberapa tanggung jawab ke saya. dari mulai
> membayar kredit rumah, menabung, ngantri membayar telepon. Mengantar
buku ke sekolah-sekolah saat
> kami mempunyai toko buku.  
> 
> Semua itu pun tak terjadi
> begitu saja. Bapak akan mengawalinya
> terlebih dahulu, memberi contoh kepada saya. Di sini tempat
menabung, ini
> formulirnya, di sini bank tempat membayar telepon. Kamu naik
kendaraan ini untuk ke sana, kemudian
> yang ini, dll. Hingga, masalah kesehatan. Sewaktu SMU saya pernah harus
> bolak-balik Rumah sakit untuk check up. Tentu saja diawali dengan
> terlebih dahulu, bapak mengantar saya, menemani saya ketika diambil
darah dan
> mengambil obat di apotik khusus pengguna Askes. Selanjutnya saya pun
dilepas. Tidak
> hanya itu. Untuk urusan saya mengikuti lomba mengarang antar
sekolah, bapak
> yang membimbing dan mengajari saya hingga kemudian saya mewakili tingkat
> kelurahan. Ketika saya mengikuti lomba baca puisi saat 17an, bapak
juga yang
> membuatkan teksnya.  
> 
>             Aah,
> begitu teraturnya, hingga sering luput dari ingatan saya. Secara tidak
> langsung, bapak menyuruh kami untuk mandiri, tapi selalu memberi
contoh dan
> membimbing. Tapi, entah
> kenapa di masa-masa saya beranjak dewasa, saya justru melihat bapak
sebagai
> sosok yang otoriter, keras, galak, dan tidak menyenangkan. Kami
semua harus
> ikut aturan beliau. Dari A sampai Z. Dari mulai sekolah mana kami
harus mendaftar
> hingga memilih jurusan.  
> 
>             Saya
> pun pernah pada taraf kecewa, sebal dan membangkang. Merasa bapak
kolot dan
> kurang pengertian hingga masa-masa itu hadir. Masa di mana saya
memilih sendiri
> tempat kuliah, masa akhirnya saya bisa bebas tinggal ngekos di
Depok. Masa saya
> tak perlu ikut terlalu banyak aturan beliau. Saya merasa bebas untuk
sementara
> waktu. Bebas dalam arti saya boleh sesuka hati tak datang kuliah,
atau mungkin
> hadir 15 menit sebelum dosen ke luar. Saya juga bisa saja tidak
pulang ke kos
> tanpa orang rumah mengetahuinya.  
> 
>             Tapi,
> siapa sangka, kebebasan itu tak sepenuhnya saya nikmati. Tanpa
terpaksa, saya
> tetap melaporkan keadaan saya yang nyaris masuk aliran tak jelas,
keikutsertaan
> saya di seminar muslimah, dan cerita-cerita lain yang akan membuat saya
> terdiam. Ternyata, saya masih sangat membutuhkan beliau. Saya tetap
masuk dalam
> wewenang beliau, dan tak bisa sembarangan. Beban nilai memuaskan dan
IP yang
> baik, kembali membawa saya untuk ada di dekatnya. Hingga, salah satu
hal  pertama yang saya lakukan setelah ke luar
> sidang tugas akhir adalah menelepon bapak. Saya 
> lulus... dapat nilai B. 
> 
>    
> 
> *** 
> 
>    
> 
> Januari 2004 
> 
>             Saya
> memandangi wajah bapak. Tubuhnya
> kini telah terbungkus kain kafan. Menangis? Jangan tanyakan itu...
berember-ember mungkin sudah saya
> keluarkan air mata ini. Belum lagi saya mendapat tugas menghubungi
saudara dan
> kerabat bapak untuk berita duka ini karena mungkin saya dianggap
lebih kuat.
> Yah, saya mampu berjalan ke pasar untuk beli peniti ketika teras
depan akan dijadikan
> tempat memandikan jenazah bapak. Saya masih mampu mencari-cari
kamper dan saya
> masih dalam keadaan sehat, tanpa pingsan di sini. Hanya saja saya
tak sanggup
> tidur dan makan.  
> 
>             Satu
> setengah bulan silam. Saya
> masih melihat senyum itu. Bapak dan ibu berjalan beriringan, tersenyum
> sumringah menghadiri wisuda saya. Mereka berpakaian dengan motif
batik yang sama. Rupanya itu jadi momen
> terakhir kebersamaan kami hingga bapak mengalami kecelakaan motor yang
> merenggut nyawanya. Menghempaskan banyak harapan dalam diri saya.  
> 
> Penyesalan pernah
> mengecewakan, membantah hingga diam-diam saya ke luar dari pekerjaan
membuat
> saya terpuruk. Seolah hari-hari selanjutnya begitu suram. Saya
sempat sakit,
> menangis-nangis di malam-malam rindu pada bapak. Bapak seperti
hilang, padahal
> baru pagi itu bapak menyerahkan naskah ke saya. Baru tadi pagi bapak
senyum. Rasanya,
> baru kemarin bapak menggendong saya dari lantai atas rumah kami.
Atau, ketika
> kami mengobrol dari A hingga Z. Atau ketika kami shalat berjamaah.
Baru kemarin rasanya bapak mengajak saya
> jalan-jalan, naik kuda. Membawakan
> kue, oleh-oleh dan memberikan bunga ketika saya wisuda. Baru kemarin....
> rasanya. tapi kini dia seperti menghilang... Kini yang bisa saya
pandangi hanya
> nisan bertuliskan namanya.  
> 
> Selama berbulan-bulan saya
> masih terus mengingatnya. Kadang tiba-tiba teringat dan menangis.
Bahkan,
> ketika saya diberi kesempatan terindah dari-Nya untuk menunaikan
ibadah di
> tanah suci pada bulan Ramadhan, di tahun yang sama meninggalnya
bapak. Saya
> selalu merasa ditemani. Saya merasa bapak ada di dekat saya. Hingga
pada keputusan,
> saya harus banyak belajar sekembali ke tanah air dan Allah
mewujudkannya dengan
> saya diterima di sebuah pesantren terbuka di Jakarta Pusat. 
> 
> Lagi-lagi, saya dihadapkan
> untuk terus mengingatnya. 
> 
>    
> 
> *** 
> 
>    
> 
>             Dari ujung jalan itu, saya akan sambangi
> rumah kami. Suasana sore yang saya sukai sejak dulu. Rumah ini ada
di jalan
> buntu, tak banyak kendaraan hilir mudik. Beberapa anak kecil tengah
bermain.
> Mbak-mbak khadimat mengejar-ngejar sambil menyuapi nasi. Saya lewati
mereka
> dengan perasaan bahagia. Mau ke mana pun saya pergi, pasti kembali
ke sini. Ke
> rumah yang begitu banyak menyimpan mimpi, cita dan harapan saya.
Sudah 25 tahun
> lebih saya ada di sini. Sempat berpindah rumah dalam satu gang dan
kemudian
> menetap.  
> 
> Ketika langkah ini memasuki
> rumah, kenangan itu kembali. Bapak menanti saya di sini.   
> 
> Ruangan itu kini memang berbeda.
> Setelah bapak meninggalkan
> kami, seting rumah kami dirombak. Memang tak ada pernyataan apapun
dari ibu. Meja
> tulis bapak dibawa kakak ke tokonya. Ruang makan dirombak, disatukan
dengan
> ruang tamu. Tak ada lagi
> pemandangan bapak sedang menulis di balik meja tulisnya. Segalanya
diubah. Tapi, tetap ada sesuatu yang
> tertinggal. Kenangan indah bersamanya. 
> 
>    
> 
> *** 
> 
>    
> 
> Hingga bertahun-tahun kemudian
> saya memilih untuk bekerja di rumah. Tak jauh dari tempat bapak
menulis, saya
> tengah mendesain buku, me-retouch gambar, menulis esai, puisi ataupun
> cerpen. Di sini, di tempat yang tak jauh, saya rasakan semangat
bapak menulis
> puluhan naskah buku sekolah di saat yang sama. Di malam-malam syahdu
saat saya
> belajar membaca dan menulis, saat kami bertukar pikiran tentang
politik, saat
> saya mulai menunjukkan tulisan saya, puisi-puisi yang tak pernah
sekalipun saya
> publikasikan saat beliau masih ada.  
> 
> Terkadang, ketika saya harus
> bergulat dengan mata kuliah yang berat, bahasa arab yang susah,
hafalan yang
> tak maju-maju. Ketika, saya menemukan begitu banyak buku yang saya
butuhkan
> untuk kuliah di lemarinya. Tiba-tiba satu demi satu buku itu hadir,
dan saya cuma
> bisa terbengong-bengong. Ataupun ketika saya mendapat order buku
yang menarik
> atau ketika saya usai membuat tulisan, dan banyak lagi. Rasanya saya
ingin
> bercerita pada bapak.  
> 
> "Pak.. pak..,  
> 
> Tapi akhirnya saya hanya akan
> diam. Berandai-andai, bapak
> ada di dekat saya hingga akan mengalir 1001 satu kisah akan
cita-cita dan hobi
> yang sama. Pertimbangan-pertimbangan dan penilaian yang akan saya
butuhkan.
> Hhh... hingga tangis saya mengalir. Kangen... 
> 
> Hingga, saya mulai menyadari...
> kalau bapak memang telah pergi, tapi saya yakin beliau tetap di
sini. Di hati ini. Cinta, perhatian dan semangat
> yang tak akan pernah mati.  
> 
>   
>  
> 
>    
> 
> 23 Juni 1949-21
> Januari 2004 
> 
>    
> 
> Saya persembahkan
> untuk Almarhum Bapak... 
> 
> Cintanya takkan
> pernah pudar 
> 
> Semangatnya kan
> selalu membara 
> 
> 
> 
> 
> novi_khansa'kreatif 
> ~Graphic Design 4 Publishing~
> YM : novi_ningsih
>  http://akunovi.multiply.com
> http://novikhansa.rezaervani.com/
>


Kirim email ke