Hari yang Lamanya Lima Puluh Ribu Tahun

oleh : Ihsan Tandjung 

Luqmanul Hakim pernah menasihati anaknya,
"Anakku, hiduplah untuk duniamu sesuai porsi yang Allah berikan. Dan 
hiduplah untuk akhiratmu sesuai porsi yang Allah berikan." 

Tak seorangpun tahu berapa lama jatah hidupnya di dunia fana ini. Ada yang 
mencapai 60, 70 atau 80-an tahun. Ada yang bahkan berumur pendek. Wafat 
saat masih muda belia. Yang pasti tak seorangpun bisa memastikan porsi 
umurnya didunia. Pendek kata  Allahu a'lam, Allah saja yang Maha Tahu. 

Adapun jatah hidup kita kelak di akhirat adalah tidak terhingga. Kita 
insya Allah bakal hidup kekal selamanya di sana. 

Alangkah senangnya bila hidup kekal tersebut dipenuhi dengan kenikmatan 
surga. Namun, sebaliknya, alangkah celakanya bila kehidupan abadi tersebut 
diisi dengan siksa neraka yang menyala-nyala. 
"Ya Allah, kami mohon kepadaMu surgaMu dan apa-apa yang mendekatkan kami 
kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Ya Allah, kami berlindung 
kepadaMu dari siksa nerakaMu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, 
baik ucapan maupun perbuatan." 

Artinya, jika kita bandingkan lama hidup di dunia dengan di akhirat, maka 
jatah hidup di dunia sangatlah sedikit. Sedangkan hidup manusia di akhirat 
sangat luar biasa lamanya. Praktis, hidup manusia di dunia seolah zero 
time (nol masa waktu) dibandingkan hidup di akhirat kelak. Wajar bila Nabi 
Muhammad shollallahu 'alaih wa sallam sampai mengibaratkan dunia bagai 
sebelah sayap seekor nyamuk. Artinya sangat tidak signifikan. Dunia sangat 
tidak signifikan untuk dijadikan barang rebutan. 

Orang beriman kalaupun turut berkompetisi atau berjuang di dunia hanyalah 
sebatas mengikuti secara disiplin aturan main yang telah Allah subhaanahu 
wa ta'aala gariskan. Mereka tidak mengharuskan apalagi memaksakan hasil. 
Sehingga bukanlah menang atau kalah yang menjadi isu sentral, melainkan 
konsistensi (baca: istiqomah) di atas jalan Allah. Berbeda dengan 
orang-orang kafir dan para hamba dunia lainnya. Mereka tidak pernah peduli 
dengan aturan main Allah subhaanahu wa ta'aala. Yang penting harus menang. 
Prinsip hidup mereka adalah It's now or never (Kalau tidak sekarang, kapan 
lagi...?!). Sedangkan prinsip hidup orang beriman adalah If it's not now 
then it will be in the Hereafter (Kalaupun tidak sekarang, maka masih ada 
nanti di akhirat). Sehingga orang beriman akan selalu tampil elegan, tidak 
norak ketika terlibat dalam permainan kehidupan dunia. Sebab kalaupun ia 
kalah di dunia, ia sadar dan berharap segala usahanya yang bersih tersebut 
tidak menyebabkan kekalahan di akhirat. Sementara kalau ia menang di dunia 
ia sadar dan berharap segala amal ikhlasnya bakal menyebabkan kemenangan 
di akhirat yang jauh lebih menyenangkan. 

Di antara perkara yang selalu membuat orang beriman berlaku wajar di dunia 
adalah ingatannya akan hari ketika manusia dibangkitkan. Saat mana setiap 
kita bakal dihidupkan kembali dari kubur masing-masing lalu dikumpulkan di 
Padang Mahsyar. Tanpa pakaian apapun di badan dengan matahari yang 
jaraknya sangat dekat dengan kepala manusia. Seluruh manusia bakal hadir 
semua sejak manusia pertama, Adam alaihis-salaam, hingga manusia terakhir. 
Semua menunggu giliran diperiksa dan diadili orang per orang. Sebuah 
proses panjang serta rangkaian episode harus dilalui sebelum akhirnya tahu 
apakah ia bakal senang selamanya di akhirat dalam surga Allah ataukah 
sengsara berkepanjangan di dalam siksa api neraka. Proses panjang tersebut 
akan berlangsung lima puluh ribu tahun sebelum jelas bertempat tinggal 
abadi di surgakah atau neraka. Laa haula wa laa quwwata illa billah...! 
Begitulah gambaran yang diberikan oleh Nabi Muhammad shollallahu 'alaih wa 
sallam. 

Abu Hurairah r.a.berkata bahwa, 
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak seorang pun pemilik simpanan yang tidak 
menunaikan haknya (mengeluarkan hak harta tersebut untuk dizakatkan) 
kecuali Allah akan menjadikannya lempengan-lempengan timah yang dipanaskan 
di neraka jahanam, kemudian kening dan dahi serta punggungnya disetrika 
dengannya hingga Allah SWT berkenan menetapkan keputusan di antara 
hamba-hambaNya pada hari yang lamanya mencapai lima puluh ribu tahun yang 
kalian perhitungkan (berdasarkan tahun dunia). (Baru) setelah itu ia akan 
melihat jalannya, mungkin ke surga dan mungkin juga ke neraka." (HR Ahmad 
15/288) 

Sungguh, suatu hari yang sulit dibayangkan! Apalagi -karena matahari 
begitu dekat dari kepala manusia- selama hari itu berlangsung manusia 
bakal basah dengan keringat masing-masing sebanding dosa yang telah 
dikerjakannya sewaktu di dunia. Ada yang keringatnya hanya sampai mata 
kakinya. Ada yang mencapai pinggangnya. Ada yang mencapai lehernya. Bahkan 
ada yang sampai tenggelam dalam keringatnya. Hari itu sedemikian 
menggoncangkan sehingga para sahabatpun sempat resah. Mereka meminta 
kejelasan kepada Nabi Muhammad shollallahu 'alaih wa sallam. Mereka tidak 
bisa membayangkan bagaimana akan sanggup melewati hari yang begitu 
lamanya, yakni hingga lima puluh ribu tahun. Maka Nabi Muhammad 
shollallahu 'alaih wa sallam menenteramkan hati mereka dengan menjanjikan 
adanya dispensasi khusus dari Allah subhaanahu wata'aala bagi orang 
beriman pada hari itu. 

Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: "Sehari seperti lima puluh ribu 
tahun. Betapa lamanya hari itu!" Maka Rasulullah saw bersabda: "Demi 
jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya hari itu 
dipendekkan bagi mu'min sehingga lebih pendek daripada sholat wajibnya 
sewaktu di dunia." (HR Ahmad 23/337) 

Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin. 

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang beriman sehingga kami 
sanggup menjalani hari yang tidak ada naungan selain naunganMu. 
 
Amin 


---------------------------------------------------------------------------
This message (including any attachments) is confidential and may be privileged. 
If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail 
and delete this message from your system. Any unauthorised use or dissemination 
of this message in whole or in part is strictly prohibited. Please note that 
e-mails are susceptible to change. ABN AMRO Bank N.V, which has its seat at 
Amsterdam, the Netherlands, and is registered in the Commercial Register under 
number 33002587, including its group companies, shall not be liable for the 
improper or incomplete transmission of the information contained in this 
communication nor for any delay in its receipt or damage to your system. ABN 
AMRO Bank N.V. (or its group companies) does not guarantee that the integrity 
of this communication has been maintained nor that this communication is free 
of viruses, interceptions or interference.
---------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke