Wa'alaikumussalam Makasih buanyak buat bung Dendy (maaf ya kl salah nama) atas tanggapan dan pertanyaannya.
Tanggapan: Klise? memang klise. dan akan tetap menjadi pernyataan yang klise jika kita tidak mau berusaha mencuci klise itu dan menjadikannya menjadi sebuah gambar yang jelas dan indah dan menarik. Satu pertanyaan dari saya; "bagaimana cara kita membedakan orang yang hanya mengaku beragama dengan orang yang benar-benar beragama?" Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk di jawab dan saya tak mampu untuk menjawabnya sebab itu masuk dalam otoritas Allah SWT Yang Maha Tahu, hanya Allah dan dirinyalah yang tahu apakah ia beragama atau hanya mengaku beragama. Begini mas Dendy yang baik: Saya mencoba melihat realitas yang ada (walau masih relatif) kita akan menemukan macam ragam manusia yang mengaku beragama. Orang beragama akan berfikir, bertindak sesuai dengan apa yang dia tahu dan pahami dari agama yang dianutnya. Dari apa yang dia fikirkan, pahami dan lakukan lalu secara intensif dan memunculkan perdebatan lalu munculah kajian tentang hal itu, maka dalam kajian Islam dewasa ini kita mengenal label pada Islam, seperti Libeal, radikal, moderat, emansipatoris, Abangan atau kiri dan kanan. dan jika kita melihat kebelakang, pelabelan terhadap Islampun kita jumpai, seperti ahlussunnah wal jamaah, syiah, atau sebelumnya ada murji'ah, khawarij, mu'tazilah dan jabariyah, qadariyah lain-lain. Antara satu golongan dengan golongan yang lain ga bisa akur, mau menang sendiri, karena mereka merasa apa yang dia yakini dan dapatkan itulah yang paling benar. Mereka saling mengkafirkan, memfitnah bahkan statement "halal darahnya" bukanlah bahasa baru yang kerap keluar dari orang yang mengaku beragama dari label yang berbeda, dari jaman baheula kata-kata itu sudah ada" Saling curiga dan memunculkan fitnah juga bukan perilaku baru dari orang yang mengaku beragama. Bukan hanya dalam komunitas Islam yang saya yakini kebenarannya insya Allah sampai mati, bukan hanya karena "innaddiina i'ndallaahil Islam", tapi karena aqal fikiran saya juga mengatakan inilah ajaran yang benar, bukan yang paling benar (sebab kalo Islam paling benar, berarti masih ada yang benar, tapi kalo Islam itu benar yang lain tidak, yang lain salah, bgt yang saya yakini. Agama bisa menjadi candu? ya, satu sisi saya setuju, mengapa karena ketika ketersinggungan yang sangat terhadap apa yang diyakini jika tanpa berfikir panjang maka terjadilah fitnah dan musibah/bencana. maka dari itu saya mencoba berfikir bagaimana caranya agar agama itu tak menjadi candu yang menyesatkan dan menutup mata hati bagi diri. (dan itu ada dalam diri setiap orang yang mengaku beragama dari agama manapun). Tuhan telah mati: bagi saya ini bukan fitnah tapi singgungan yang dalam bagi orang-orang yang mengaku beragama yang tak mau mendahulukan hati nurani tapi emosi/nafsu. Orang-Orang yang beragama (apapun agamanya) telah mematikan sifat Rahman dan Rahim-Nya. Singgungan bagi orang-orang yang beragama yang mengatas namakan Tuhan orang-orang yang mengaku beragama berperang, singgungan bagi setiap orang yang mengaku beragama yang tak mampu mencari solusi jalan damai. Saya sangat setuju kalau perang dalam Islam hanyalah untuk membela diri, tapi perang yang saya pahami bukan hanya berarti perang fisik. Adalah suatu kewajiban bagi setiap orang beragama mendahulukan Rahman dan Rahim Tuhannya. Karena Agama yang saya yakini mengajarkan hal itu, walau ini klise saya berusaha mencucinya menjadi gambar yang jelas, indah dan menarik, insya Allah. Begitu mas Dendy, juga yang lainnya. Terimaksih atas tanggapannya, senang berdiskusi dengan anda Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabaraakaatuh --- On Tue, 8/5/08, dendy dogol <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: dendy dogol <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [rezaervani] Bls: [RENUNGAN] Agama dan Orang (yang mengaku) Beragama To: [email protected] Date: Tuesday, August 5, 2008, 9:58 PM Assalamualaikum. Klise mas, Dibalik perbedaan pendapat dalam mendefinisikan agama tapi secara nilai, hampir semua agama (yang mengaku) beragama mengklaim bahwa agamanya menolak kekerasan dan perilaku anarkis. Agama mengajarkan damai dan kasih sayang, Tapi dalam kenyataanyanya seperti apa? mari kita simak Islam tidak mengajarkan kekerasan yang dilakukan secara zalim meskipun berada dalam medan perang. Ajaran damai bukan berarti tetap diam kalau fitnah itu muncul terhadap islam, bukankah Allah memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir secara 'kaffah'?. Dan 'kaffah' di sini maksudnya adalah sampai fitnah itu hilang. Dari contoh yang ditulis; Agama adalah candu, Tuhan telah mati, itu semua adalah fitnah dan wajib diperangi. Satu pertanyaan dari saya; "bagaimana cara kita membedakan orang yang hanya mengaku beragama dengan orang yang benar-benar beragama?" Wasalam, doGol d' gReat ----- Pesan Asli ---- Dari: aa gun <[EMAIL PROTECTED] com> Kepada: reza ervani <[EMAIL PROTECTED] ups.com>; yisc-aktivis@ yahoogroups. com; al-azhar yisc <yisc_al-azhar@ yahoogroups. com>; baity_islam@ yahoogroups. com Terkirim: Selasa, 5 Agustus, 2008 14:32:26 Topik: [rezaervani] [RENUNGAN] Agama dan Orang (yang mengaku) Beragama Agama dan Orang (yang mengaku) Beragama By: Gunawan Http://aagun2010. multiply. com Definisi Jadul Agama Menurut definisi yang masih dipertanyakan kebenarannya; kata agama berasal dari kata A artinya tidak, Gama artinya kacau. kira-kira begitu ilmu yang pernah ane dapetin waktu masih SD or SMP. Kalaupun Demikian yang kita ambil disini adalah pesan positifnya. Pengertian agama yang sunggguh simple lagi sederhana (entah sumber asalnya dari mana) tapi memiliki pesan yang sangat mendalam. Yang dimaksud dengan pesan yang sangat dalam di sini terletak pada tujuan yang termaktub secara jelas sekali pada definisi itu yakni ketika orang mengaku menjadi penganut/pengikut sebuah agama diharapkan dalam diri pribadi orang tersebut ada kedamaian demikian juga dalam pergaulan sosial. Dibalik perbedaan pendapat dalam mendefinisikan agama tapi secara nilai, hampir semua agama (yang mengaku) beragama mengklaim bahwa agamanya menolak kekerasan dan perilaku anarkis. Agama mengajarkan damai dan kasih sayang, Tapi dalam kenyataanyanya seperti apa? mari kita simak. Agama dalam Dunia Nyata Orang yang (mengaku) Beragama Ketika ada orang jaman dahulu mengatakan agama adalah candu, banyak orang yang mengaku beragama marah, mengapa? karena candu itu konotasinya negatif. Candu itu racun dan candu itu merusak "potensi" kehidupan. Candu dapat membuat orang sakit, tidak sadar dan bahkan mungkin gila atau a sosial. Sedang agama itu mulia, penuh dengan nilai kebajikan. Juga ketika ada orang zaman dahulu mengatakan kalau "Tuhan sudah mati" orang yang mengaku beragamapun mencak mencak, mengapa? Karena itu merupakan penghinaan besar terhadap Yang Maha Suci, Tuhan, Allah SWT karena pernyataan itu jelas merendahkan Tuhan yang Maha Suci yang senantiasa dipuja dan di puji dalam kehesariannya. Reaksi besar juga terjadi ketika ada orang yang mempunyai pandangan yang menolak agama, pesimistis terhadap ajaran agama. Mengapa mereka menolak agama atau sangat pesimistis terhadap ajaran agama? Karena orang-orang beragama dalam dunia nyata tak membawa damai malah sebaliknya ketika masing-masing orang beragama mempertahankan kebenarannya, bersaing mencari pengikut sebanyak-banyaknya dengan berbagai macam cara, terjadilah pertentangan, peperangan, pembunuhan dan lain-lain dan itu real terjadi di dunia ini. Lalu salahkah Agama? Dalam dunia nyata, bentrokan fisik yang anarki bahkan intelektual bukan hanya terjadi pada setiap agama yang berbeda, tapi dalam setiap agama yang membawa misi (da'wah), gap atau perbedaan tak bisa di hindari karena setiap orang yang (mengaku) beragama punya pemahaman tersendiri terhadap apa yang diyakininya berdasarkan sumbe-sumber agama itu sendiri (kitab suci, dan catatan-catatan orang yang dianggap suci). Gap seakan tak bisa dijembatani malah semakin atau dijadikan sasaran empuk bagi penodaan nilai-nilai agama itu sendiri. Agama? Agama hanyalah sebuah kata. Agama itu berisi nilai-nilai kehidupan yang berasal dari Tuhan. Agama itu "ruh" keidupan dari Tuhan. Berbagai bangsa sesuai dengan tradisi bahasanya punya bahasa tersendiri untuk yang satu ini, Walau dia tidak sama, tetapi masing-masing punya benang merah pada sisi nilai-nilai luhur ajarannya. Agama menurut kamus bahasa Indonesia, "agama (n) ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kpd Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya" (http://pusatbahasa. diknas.go. id). "Ruh" Agama tidak akan mampu bergerak dan berjalan atau bergerak/hidup kecuali ada yang menggerakan, menghidupkan, Siapa yang menghidupkannya? Ya manusia. Karena selain manusia tak ada yang mampu menerjemahkan, mengembangkan atau bahkan mungkin mengacaukan pesan-pesan Tuhan. Jadi Jangan mencampur adukan agama dengan orang yang (mengaku) beragama secara umum. Walau idealnya orang yang beragama merupakan agama yang hidup atau menghidupkan agama. Atau Idealnya orang yang beragama adalah representasi dari agama itu sendiri. Karena secara nilai moral dan akhlak setiap agama mengajurkan penganutnya untuk berlaku mulia, berakal budi, berbudi luhur, berakhlak mulia kepada semua, inilah benang merahnya. Tapi dalam dunia nyata tidak semua orang yang (mengaku) beragama mau melakukannya, mengapa? Banyak faktor yang bisa menjadi pemicunya, maka dari itu bedakan antara agama dan penganutnya. Setuju atau tidak? kalau tidak setuju mari jadikan diri ini representasi dari nilai-nilai agama yang luhur yang memanusiakan manusia dan menjaga alam semesta sebagai "wujud" kehadiran-Nya, bukan sebaliknya. Wallaahu a'lam. Dapatkan nama yang Anda sukai! Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.
