Kalau menurut saya, sebaiknya seorang muslim tidak mudah terjebak oleh hal-hal 
yang mengakibatkan perpecahan umat, bagaimanapun sesama muslim adalah saudara 
atau lebih spesifik lagi bahwa sesama muslim adalah satu bagian tubuh. So... 
sebaiknya kita ambil saja apa-apa yang baik dan kita tinggalkan apa-apa yang 
buruk, dan sekali lagi semoga kita semua tidak terjebak oleh Fitnah ataupun 
Ghibah. Dengan menyebut nama seseorang yang melakukan kejelekan menurut versi 
sendiri, maka kita sudah terjerumus dalam dua hal tersebut. Maka sebaiknya kita 
lebih berusaha untuk berlomba-lomba menuju kebaikan dan menjadi nomor satu 
diantara sekian banyak perlombaan menuju kebaikan.
"Kalian dulu adalah setitik sel yang telah mengalahkan berjuta-juta sel untuk 
mencapai kesempurnaan di indung telur, jadi mengapa kalian tidak bisa menjadi 
yang nomor saatu di dunia ini?"
Best Regards
http://dwipa99.blogspot.com



----- Pesan Asli ----
Dari: lasykar5 <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 7 Agustus, 2008 16:19:46
Topik: [rezaervani] [ARTIKEL] Sikap Tidak Peduli


Sikap Tidak Peduli
Monday, 28 July 2008

Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold 
Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa:  "The Imitation – individually and 
socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest 
danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization."

Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun sosial 
– terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari 
eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit 
pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil 
ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut 
oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in 
its very essence).

Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita 
melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada 
generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik 
menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan 
unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih 
dihargai karena unsur-unsur fisiknya.  Kontes nyanyi dan loma kecantikan 
menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, 
tanpa peduli urusan moral.
Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, 
ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A 
memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking 
tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada 
 majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata 
mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya 
dengan pornografi, tetapi ekspresi seni.

Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam 
kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa 
tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar 
dalam pakaian  bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di 
Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi 
untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk 
mendapatkan penghargaan sebagai "Ratu Kecantikan".

Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita 
Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa? 
Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara 
Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?

Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang 
menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang 
sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa 
ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini 
memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan 
besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu 
kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu 
dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut 
dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang 
melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes 
tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.

Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur 
homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetaoi, protes itu pun dianggap angin lalu. 
Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak, 
hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang 
penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar 
tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai 
angin lalu. Yang penting untung, yang penting dapat duit banyak. Yang penting, 
acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral 
atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. 
Tidak peduli!

Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan 
akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau 
peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh. 
Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus diterbitkan. 
Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!

Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr 
Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. 
Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja 
paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun sudah kita 
tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan 
kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali 
kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan 
mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak 
peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan 
perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai "wacana". Tidak 
peduli!

Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, 
baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? 
Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia 
disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya, 
apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan 
perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan 
ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut 
cendekiawan atau ulama?

Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan 
kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal 
yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka 
tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi 
dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau 
kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! 
Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka 
peduli.

Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, 
dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah 
keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan 
rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan 
Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan 
Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, 
bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar 
ma'ruf nahi munkar.

Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar 
kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum 
Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih 
adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan 
pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak. 
Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang 
pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam 
pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.

Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang 
marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais 
dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi 
pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak 
sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi 
fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok 
atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak 
mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan 
kelompoknya tidak jatuh martabat.

Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali 
tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa 
diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu 
tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru 
bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin 
sendiri.

Pada tahun 2008 ini,  misalnya, terbit sebuah buku berjudul "99 Keistimewaan 
Gus Dur."  Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, 
bahwa "Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi 
masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang 
demokratis."  Masih menurut Muhaimin, "Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan 
yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki 
perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat."

Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh 
Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan 
oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini. 
Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu 
ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya 
seorang "gembel". Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu 
adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan 
oleh orang tersebut. Aqiel menulis: "Rupanya, Gus Durlah yang berhasil 
menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui 
oleh diri sendiri dan Allah."

Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang 
waliyullah? Wallahu a'lam. Hanya Allah yang tahu.

Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku 
ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas 
yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok 
Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.

Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal 
tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad 
Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai 
makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas 
oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral?   Mereka tertidas, dan mereka 
tidak berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh 
kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana 
posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat Palestina, di posisi 
Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan 
Shimon Peres?

Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan 
yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan. 
Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan 
Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior di NU pun seperti 
merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul "9 Alasan Mengapa Kiai-kiai 
tidak (lagi) bersama Gus Dur."

Kita tunggu saja akhir dari semua "permainan" semacam ini. Kita yakin, Allah 
Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa 
yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan 
mempartanggungjawab kan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun 
demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau 
menanggung dosa-dosa kita.

Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma'ruf nahi 
munkar. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu 
dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw, 
barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat, maka dia 
bukan bagian dari umat Islam. Wallahu a'lam. [Depok, 21 Rajab 1429 H/24 Juli 
2008/www.hidayatullah. com]

- Adian Husaini -

--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28




--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28




      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke