Single Parent: Karena Mety Hanya Tersenyum: Dani Ardiansyah

Pada umumnya, sebuah keluarga mempunyai
dua sosok penanggung jawab dalam segala hal yang berkaitan dengan
keberlangsungan rumah tangga. Dua sosok yang selalu dapat menjadi representasi
sebuah keluarga ideal. Sosok ayah sebagai seorang kepala keluarga adalah kamus
baku dalam strata sosiologi. Dan, kehadiran ibu sebagai pendamping, sebagai
pelaksana dari segala delegasi yang ditinggalkan oleh kepala keluarga. Tentu
bukanlah sebuah pilihan, ketika tatanan ideal itu kemudian tidak dapat berjalan
dengan baik dalam sebuah keluarga.

 

 

Single parent menjadi contoh ketidakidealan sebuah tatanan rumah
tangga. Sebuah pilihan berat, yang mau tidak mau, suka tidak suka harus
disandang oleh sebagian keluarga. Bercerai atau pasangan hidupnya meninggal,
menjadi alasan yang paling sering kita temukan dalam keseharian kita. Hal
tersebut akan berubah lebih buruk ketika penerima status sebagai Single Parent 
tadi adalah perempuan.
Terlebih jika mereka sudah mempunyai keturunan. Maka, beban hidup yang
seharusnya ditanggung berdua dengan pasangan selayaknya sebuah keluarga ideal,
mau tidak mau harus diatasi sendirian.

 

 

Sebut saja Sutisna, seorang laki-laki
dengan kisaran usia menginjak kepala 4. Dia bekerja di sebuah instansi
pemerintahan yang bergerak dalam bidang pelayanan transportasi dan jalan raya.
Anaknya 2 orang, yang pertama laki-laki bernama Wildan, usianya sekitar 6
tahun, dan yang kedua perempuan, bernama Desty, yang masih berusia 3 tahun. Dan
istrinya bernama Mety. Usia pernikahan mereka telah memasuki kurun ke 9. Bukan
sebuah umur yang belia bagi sebuah ikatan pernikahan. Secara fisik, Wildan dan
Desty, tidak pernah merasa kehilangan salah satu dari orang tua mereka. Ayah
dan Ibunya masih selalu berada di sekitarnya.

 

 

Setiap pagi Sutisna mengurusi keperluan
anak-anak. Mulai bangun tidur, membereskan kamar, merapikan rumah, menyapu
halaman, mencuci baju, mandi, sarapan, hingga Wildan berangkat sekolah, dan dia
sendiri berangkat ke pekerjaannya. Sebelum itu, Sutisna juga tidak lupa untuk 
menyiapkan
makan siang terlebih dahulu. Ini adalah rutinitas yang selalu dijalani oleh
Sutisna. Mungkin bukan hal yang mudah untuk menjalani hal tersebut bagi seorang
laki-laki. Bertindak sebagai seorang ibu, terutama dalam kaitannya dengan
segala urusan rumah tangga. Mungkin dalam hal ini, setiap laki-laki atau suami,
sampai pada sebuah kesimpulan bahwa “No
Man Perfect in parenthood”. Ya, tangan seorang Ayah tentu tidak
selembut tangan ibu, diartikan secara harfiah ataupun maknawi.

 

 

Ketidaksempurnaan itu sangat dirasakan
oleh anak-anak mereka, dan tentunya berakibat tidak baik. Sutisna dan
keluarganya tetap bertahan menjalani hidup, meski ada ketidaklengkapan sentuhan
seorang Ibu. Lagi-lagi bukan dalam arti fisik. Sang Istri, selalu berada
ditengah-tengah mereka setiap saat. Menyaksikan bagaimana suaminya dengan susah
payah menggantikan tugas sebagai seorang Ibu bagi anak-anak. Memenuhi segala
kebutuhan rumah tangga, menyaksikan bagaimana Suaminya setiap pagi selalu
berangkat kerja, sambil menyempatkan menatapnya lekat-lekat. Berpamitan meski
tanpa kata-kata. Mendengar kedua anak-anaknya merengek manja, atau bahkan
mendengar kekesalan Wildan ketika ia sama sekali tak menerima respon, atas
semua keluh kesah padanya.

 

 

Ya, Mety selalu ada di dalam keluarga
tersebut setiap saat. Hanya saja, Mety tak punya kesadaran yang utuh untuk
dapat hadir secara sempurna sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Hal itu berawal
sejak 3 tahun yang lalu. Sejak kelahiran Desty, pikirannya terganggu, stres.
Entah karena apa. Dia menjadi seorang perempuan gila. Ia menjadi hilang
ingatan. Sama sekali ia tak menyadari kehadiran keluarga, suami, bahkan
anak-anaknya. Ia tak lagi peduli pada lingkungan sekitar. Ia bahkan sudah
pernah berkeliaran di sekitar perumahan warga tanpa sehelai benang pun menutupi
tubuhnya. Dan, sejak itu Mety benar-benar kehilangan fungsinya sebagai seorang
Ibu.

 

 

Bagi Sutisna, istrinya mungkin telah
menjadi sejenis artefak bernyawa, yang lebih selalu merepotkan daripada
berguna. Tapi Sutisna sadar, bahwa Mety adalah istri sahnya. Seorang wanita
yang pernah dinikahinya beberapa tahun yang lalu dalam keadaan
sesadar-sadarnya. Beban psikis sebagai orang tua tunggal harus ia tanggung.
Belum lagi beban moral menghadapi kenyataan, bahwa istri yang sangat
dicintainya menderita gangguan jiwa. Beban moral yang juga harus ditanggung
oleh anak-anak mereka. Kerap kali ejekan dan cemoohan harus dihadapi oleh
Wildan. Terlebih jika berkaitan dengan hal-hal yang dilakukan Ibunya, dan
disaksikan banyak orang. Wildan merasa sangat malu dan terpukul. Untung saja
Desty masih kecil untuk dapat mengerti apa yang terjadi.

 

 

Sutisna mengahadapi hal ini sebagai ujian
dalam kehidupan rumah tangganya. Dan puncak dari segala ujian itu, terjadi
belum begitu lama. Mety hilang, kabur lebih tepatnya. Padahal, ia sudah
ditempatkan di sebuah ruang khusus dalam rumah dan dikunci dengan aman. Saat
itu, Sutisna tengah bekerja, sedangkan Desty yang baru berusia tiga tahun
dititipkan di rumah Neneknya seperti biasa. Entah bagaimana, rupanya Desty 
merasakan
kerinduan pada sang Ibu, yang telah lama tak pernah memberikan kasih sayang
padanya. Desty pulang kerumah sendirian, sementara Wildan masih ada di sekolah.
Desty tahu di mana Ibunya berada, dan berhasil membuka kunci kamar tersebut.
Dari situlah, awal hilangnya Mety. Desty yang tak berdosa terkurung dalam kamar
yang sebelumnya ditempati Mety, hingga Wildan pulang dari sekolah dan mendapati
adik tersayangnya menangis di dalam kamar.

 

 

Mungkin saja Sutisna sudah pasrah, dan
menerima segala konsekuensi menjadi orang tua tunggal, tanpa benar-benar
kehilangan istrinya. Dan setiap pagi, menjelang ia berangkat bekerja, Sutisna
selalu menyempatkan diri untuk menengok ke ruangan tempat dimana Mety dulu
selalu tersenyum sepanjang hari. Hidup harus terus berjalan, begitu juga dengan
Wildan dan Desty, yang terkadang masih selalu menanyakan keberadaan Ibunya.

 

 

Dari sisi psikologis, seorang yang
ditinggalkan oleh pasangannya mungkin akan lebih tegar, meskipun pada awalnya
terasa sangat rapuh. Seiring berjalannya waktu, mereka tersadar bahwa hidup
haruslah terus berjalan. Lain halnya dengan anak-anak yang ditinggalkan. Bagi
Anak-anak yang belum siap kehilangan salah satu orang tuanya, tentu mereka akan
merasa terpukul, bahkan kemungkinan besar berubah tingkah lakunya. Ada yang
menjadi pemarah, ada yang suka melamun, mudah tersinggung, suka menyendiri, dan
sebagainya.

 

 

Kesendirian yang dialami Sutisna sejak
lama, tentunya menjadi pola hidup tersendiri bagi dia. Kebiasaan yang terbentuk
dari sebuah kondisi dimana kehadiaran seorang Istri, sama sekali tidak
memberikan kontribusi bagi keberlangsungan keluarga. Sementara itu, banyak
sekali hal-hal yang memang sudah selayaknya dilakukan, atau setidaknya dibagi
bersama seorang Istri. Dan itu adalah sebuah perjuangan tersendiri yang harus
dihadapi oleh Sutisna.

 

 

Sutisna sadar, bahwa hadir atau tidaknya
Mety dalam rumah tangganya memang tidak begitu berpengaruh setelah ia hilang
ingatan. Satu hal yang selalu membuatnya bertahan, adalah keyakinan bahwa Mety
akan pulih kembali jika diberikan perawatan khusus, kasih sayang, dan doa yang
terus menerus. Itulah alasan Sutisna, untuk selalu menyapa, mengajak Metty
berkomunikasi setiap kali ia akan berangkat kerja. Mungkin, Sutisna ingin
selalu menjaga atmosfir rumah tangga yang ideal, meski sebenarnya tidak
demikian.

 

 

Berbagai usaha untuk mencari Mety sudah
dilakukan oleh Sutisna, tapi hingga kisah ini ditulis, Mety belum juga berhasil
ditemukan.

Jakarta, Agustus 2008

 

www.catatankecil.multiply.com



Dani Ardiansyah

I-Moov Mobile Solution

Jl. Radio Dalam Raya No. 5H Lt. 4

HP: 085694771764




      

Kirim email ke