Saya hanya coba
membayangkan bagaimana orang seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bila hidup
dengan kondisi modern seperti ini ya? Syaikhul Islam adalah seorang ulama,
mujtahid dan mujahid yang hidup dalam kesederhanaan dan menjauhi kemewahan.
Bahkan ketika dijebloskan ke ruangan sempit penjara, itu dianggap bukan
malapetaka bagi Ibnu Taimiyah, ia justru berterimakasih kepada orang yang
menjebloskannya penjara atas kenikmatan iman yang ia rasakan. Sosok Imam Ibnu
Qoyyim Al-Jauziah, Imam Syafii, Imam Ahmad Bin Hambal (Hambali) adalah
figur-figur ulama penerus nabi yang juga meneladani kesederhaan hidup
Rasulullah Shalalahualaihi wassalam.
 
Sekelumit kisah
kehidupan para ulama setelah mereka, juga diwarnai sikap hidup yang tidak 
berlebih-lebihan.
Allahuyarham Syaikh Said Hawwa yang menjadi dosen di universitas besar di
Suriah, seperti diulas dalam pengantar buku Tazkiatun Nafs oleh orang
yang mengenalnya, adalah figur orang yang zuhud terhadap dunia. Jika ia mau,
dengan posisinya sebagai dosen di negeri Arab, sangat mudah menuruti apa yang
diinginkan dari berbagai kenikmatan hidup dunia; rumah mewah, kendaraan  mewah, 
kebun-kebun luas, dsb. Namun
kenyataannya, Said Hawwa hingga akhir hayatnya hanya mempunyai beberapa lembar
baju, dan sejumlah perabotan rumah, bahkan barang seperti televisi pun tidak
dimilikinya. Asy-Syahid Syaikh Ahmad Yassin pun menjalani kehidupan yang
sederhana. Jika Asy-Syahid mau, sebagai pendiri gerakan Hamas, bisa saja ia
diberi fasilitas yang lebih atas jasa-jasanya. Namun kenyataannya, saat Hamas
menawarkan bantuan untuk biaya kuliah anak-anaknya ditampik Syaikh Yassin. 
 
Semua itu mereka
lakukan, bukan untuk mengejar penghargaan dan pujian orang lain, namun tidak
lain mengikuti Rasulullah Muhammad Shalallahualaihiwassalam. Rasul tidak pernah
berlebih-lebihan dalam menjalani kehidupan. Muhammad SAW, yang menikah dengan
janda kaya raya bernama Khadijah Radiyallahuanha, pernah menahan perutnya
dengan batu untuk menahan lapar dan tidur di atas alas yang kasar hingga
membekas di tubuhnya. Rasulullah tidak mempunyai harta peninggalan yang
bernilai sampai akhir hayatnya, kecuali kalam Rabbnya. 
 
Kesederhaan itu
setali tiga uang dengan jihad. Kemewahaan adalah musuh jihad. Tidaklah mungkin
orang yang biasa hidup bermewah-mewahan, berlebih-lebihan dalam makan dan minum
punya kepedulian terhadap permasalahan umat. Jangankan tinggal sehari di medan
jihad, itikaf di masjid atau mengikuti mukhayam pun seolah menjadi siksaan
baginya. Orang yang hidup bermewah-mewah juga tidak akan sanggup menoleh
keselilingnya, melihat kondisi orang-orang yang hidupnya masih memprihatinkan.
Pastilah ia hanya sibuk mengejar ambisinya sendiri. Dakwah dan Jihad tidak
terlepas dari kesulitan hidup, bahkan mungkin serba memprihatinkan. Karena ini 
semua
adalah syarat menggapai kemuliaan hidup yang berujung dengan keindahan
akhirnya. 
 
Tulisan ini tidak
bermaksud menyalahkan pilihan hidup orang, atau mendengki atas orang-orang yang
hidup berkecukupan. Bukankah kita harus menjadi orang yang kaya, yang dengan
kekayaannya mampu berinfak lebih besar untuk kejayaan Islam? Bahkan salah satu
iri yang diperbolehkan adalah iri terhadap orang-orang yang dilebihkan
hartanya, namun dengan hartanya itu ia menebarkan manfaat untuk orang-orang
yang membutuhkan. Tulisan ini hanya mencoba mengingatkan kembali bahwa
kederhanaan adalah bagian dari kehidupan orang-orang yang senantiasa lebih
cenderung mengutamakan kehidupan akhirat, terlepas sebanyak apapun harta yang
diperolehnya dari jalan yang halal. Allahua’lam
 
“ Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup
di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). 
 Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa
yang lebih baik dari yang demikian itu?."Untuk orang-orang yang bertakwa 
(kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada
surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan
(mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah.
Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”  (QS, 3:14-15)


      

Kirim email ke