Kepada Yth. rekan-rekan sejawat.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkomunikasi dengan teman seangkatan 
(Mohamad "Mr. Golok" Mudofir) di Manggala. Pada waktu itu dia menyampaikan 
beberapa kegelisahan teman-teman kehutanan yang sudah sepatutnya disampaikan 
kepada rekan-rekan sejawat kehutanan lainnya, khususnya dari Yogyakarta. 
Kegelisahan itu lebih mengarah kepada perebutan kepentingan sektoral kehutanan 
dalam kancah pembangunan nasional. Bahkan sempat ada slentingan kabar jika 
departemen kehutanan tidak mampu lagi memberikan kontribusi nyata dalam 
pembangunan, akan di-"merjer" menjadi Direktorat Kehutanan dalam sebuah 
departemen lainnya. 
Tidak hanya berhenti di situ, bahkan di kalimantan ada ancaman penutupan 
fakultas kehutanan, konon karena dirasa "tidak laku" lagi. dan masih banyak 
lagi yang belum sempat tersampaikan, karena saat itu kami masing-masing memang 
sedang mengejar waktu untuk mengurus pekerjaan masing-masing. 
Namun di akhir pembicaraan, Mr. golok (mudofir) menyampaikan informasi bahwa 
teman2 kehutanan sedang menyusun kekuatan politis di level legislatif, dengan 
harapan HUTAN dapat dikelola oleh ORANG KEHUTANAN, bukanoleh orang yang tidk 
tahu kehutanan.
 
Terinspirasi dari oboran tersebut, dan kebetulan di facebook "nemu" salah 
seorang teman kita yang NYALEG, iseng-iseng saya bertanya jawab menyoal latar 
belakang dia nyaleg.
Sampai saat ini saya masih merdeka sebagai warga negara yang mempunyai hak 
pilih, begitu juga rekan-rekan semua saya yakin masih merdeka dalam memilih 
karena belum merealisasikan pilihannya dalam PEMILU.....
salam : Wuri S.
 
Berikut salah satu kiriman permenungan secara singkat yang dikirim ke saya dari 
TEMAN KITA  (Irfan Bakhtiar/94) yang mencoba peruntungan jadi Legistalif RI di 
Senayan . 
n.b. : Mohon komentari, kritik, saran, bertanya, dll. (nek perlu misuh yo ora 
popo) supaya ada pendewasaan politik kepada teman-teman kita yang akan jadi 
anggota Legislatif nantinya.
 
1.      Mengapa saya harus mengambil pilihan untuk memasuki dunia politik?
Langkah saya memasuki ranah politik dapat dikatakan sebagai pilihan politik 
sebuah kelompok penekan (pressure group) yang selama ini lebih banyak bergerak 
di luar jalur formal. Selama 10 tahun terakhir, saya banyak bergerak bersama – 
sama dengan jaringan LSM kehutanan, untuk memperjuangkan terwujudnya 
pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Banyak capaian selama sepuluh tahun 
terakhir ini, misalnya dengan lahirnya PP No 6/2007 jo PP 3/2008 di mana di 
dalamnya memuat peluang masyarakat untuk mengelola hutan melalui skema HKm, 
HTR, Hutan Desa, dan Pola Kemitraan,yang dilanjutkan dengan beberapa Permen 
untuk implementasinya. Lahirnya WG Pemberdayaan di Dephut dan diberikannya ijin 
definitive HKm kepada kelompok tani hutan di DIY, Lampung, dan Nusatenggara 
Barat menurut saya tidak lepas dari peran jaringan LSM yang bergerak di bidang 
Kehutanan Masyarakat. Namun demikian, masih ada PR besar untuk memperluas dan 
mewujudkan komitmen Pemerintah untuk
 pelaksanaan PHBM. PR tersebut terutama lebih terkait dengan pengambilan 
kebijakan politik, baik perlindungan peraturan maupun prioritisasi program 
pembangunan di bidang kehutanan untuk pemberdayaan masyarakat. Karena itu, saya 
dengan dorongan dan dukungan dari beberapa jaringan NGO kehutanan berijtihad 
untuk masuk ke ranah politik melalui pencalonan saya menjadi anggota DPR RI. 
2.      Apa misi yang akan diemban melalui perjuangan politik di Parlemen ? 
Seperti yang diamanahkan oleh rekan-rekan jaringan yang mendorong dan mendukung 
saya, adalah peningkatan kesejahteraan petani (terutama petani hutan) menuju 
terciptanya masyarakat yang sejahtera, hutan yang lestari, dan negeri yang 
mandiri. Ada beberapa agenda yang akan saya emban untuk diperjuangkan di DPR 
nanti, antara lain:
·        Perluasan dan keberlanjutan hak kelola masyarakat atas sumberdaya 
hutan; 
·        Perbaikan sistem pasar dan peningkatan harga hasil pertanian dan 
kehutanan masyarakat; 
·        Penyediaan lahan tanaman pangan alternative dan sarana produksi 
pertanian mandiri yang ramah lingkungan; 
·        Peningkatan kapasitas Sumberdaya Manusia petani; 
·        Proteksi pasar hasil pertanian dan kehutanan rakyat
 
3.      Isu di sektor kehutanan lain yang akan diperjuangkan?
Selain agenda untuk kehutanan masyarakat yang sudah disebutkan di atas, tiga 
agenda penting di sector kehutanan yang menjadi misi saya,yaitu:
·        Peningkatan posisi tawar politis sector kehutanan. Seperti kita tahu, 
sector kehutanan selalu menjadi prioritas terakhir ketikan berhadapan dengan 
sector lain, seperti pertambangan. Hal ini menurut saya karena posisi tawar 
politis sector kehutanan lemah, yang menjadikan pertimbangan politik yang 
digunakan untuk pengambilan kebijakan seringkali tidak forestry and 
environmentally friendly
·        Yang kedua, harus ada perubahan pemahaman dan cara pandang terhadap 
pembangunan di sector kehutanan. Untuk program reboisasi dan rehabilitasi, 
misalnya, selalu saja hanya dipahami sebagai penanaman pohon, yang pada 
ujungnya nanti prioritas anggaran programnya adalah pembelian bibit, pupuk, dan 
biaya penanaman. Padahal, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan merupakan 
factor kunci yang menjadi “enabling condition” yang mutlak harus dicapai dalam 
upaya pemulihan dan mempertahankan fungsi hutan itu sendiri.
·        Yang ke tiga, tentang bargaining position Indonesia di kancah 
internasional terkait bidang kehutanan. Seperti kita semua dengar saat ini, 
kerusakan hutan Indonesia ditempatkan menjadi penyebab terbesar terjadinya 
perubahan iklim, sehingga upaya mitigasi perubahan iklim dunia banyak diarahkan 
kepada upaya penghentian pemanfaatan sumberdaya hutan Indonesia melalui skema 
REDD. Lagi-lagi, sector kehutanan di Indonesia masih kurang bisa muncul secara 
percaya diri untuk memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi internasional 
tersebut. Saya masih melihat Indonesia terbawa arus yang menempatkan soal 
perubahan iklim sebagai persoalan lingkungan hidup an sich. Padahal, menurut 
saya, soal negoasiasi perubahan iklim ini lebih merupakan agenda politik 
ekonomi internasional yang menggunakan lingkungan hidup sebagai sarana atau 
bahannya. Jika kita tidak cermat dalam menata posisi, saya mengkhwatirkan 
proses negosiasi ini akan berujung pada penguasaan
 (dalam bentuk lain) korporasi dan Negara maju atas hutan alam yang tersisa.
 
4.      Tantangan apa saja yang muncul dalam rangka pencalonan dan proses 
kampanye?
Sebagai pendatang baru dalam ranah politik, apalagi dengan kondisi yang saya 
punya, tentu banyak kendala dan tantangan yang saya hadapi. Mulai dari proses 
masuknya saya ke dalam daftar calon, karena saya bukan aktivis partai sejak 
awal, jalannya juga tidak terlalu mulus. Terlebih lagi dalam masa kampanye ini. 
Publik Indonesia sudah terbiasa dengan politik uang, yang dibungkus dengan 
istilah sumbangan kepedulian, uang transport, bantuan social, dan segala macam 
istilah kamuflase yang lain. Sedangkan saya dan rekan-rekan di tim kampanye 
mencoba untuk menerapkan politik idealis. Kami mengusung apa yang kami sebut 
dengan “segmented representation”  dengan mengandalkan jaringan petani hutan 
sebagai konstituen utama. Di sana, yang menjadi kesamaan kepentingan adalah 
agenda perjuangan, bukan uang atau barang yang dibagikan. Metode ini kami coba 
bukan hanya karena kami memang tidak punya dana besar, tetapi kami juga sedang 
melakukan upaya pendidikan politik
 bagi masyarakat, terutama di tingkat akar rumput. Itupun kami masih mengalami 
kendala yang klasik, yaitu pendanaan. Untuk sekedar sarana perkenalan berupa 
atribut kampanye dan biaya operasional, seluruh biaya kampanye saya merupakan 
patungan dari rekan-rekan seperjuangan, baik itu dari lembaga swadaya 
masyarakat, individu aktivis, maupun bahkan dari organisasi petani. Ini juga 
satu hal yang saya ingin jadikan pembelajaran. Politik tanpa uang dan 
penggalangan dana masyarakat untuk proses politik. Karena dana yang kami 
gunakan merupakan dana public, tentunya penggunaannya pun harus dapat 
dipertanggungjawabkan kepada public. Bukan hal yang mudah, memang, tetapi 
sekali lagi, misi kami memang untuk melakukan pembelajaran atas proses politik 
yang sehat, untuk mewujudkan demokrasi yang lebih sehat di negeri ini. 

 
 


      

Kirim email ke