Salam juga 

Kao untuk keperluan praktis (artinya tanpa harus mengutamakan presisi teramat 
tinggi), itu bisa saja mas Noviar. Kita bisa saja koq mengasumsikan bahwa 
bangunan tinggi tadi tegak lurus terhadap permukaan tanah setempat (alias punya 
sumbu tepat mengarah ke pusat bumi).

Namun jika ingin presisi yang paling bagus, jangan gunakan bangunan tinggi. 
Cari saja benang/kawat, pasangi dengan pemberat di ujungnya, dan kemudian 
gantung pada statif tertentu, niscaya ia akan mengarah tegak lurus ke permukaan 
datar setempat.

Atau, kalo misalnya pake teodolit, caranya lebih sederhana. Tinggal paskan saja 
dengan water pas untuk permukaan datar. Selanjutnya tinggal bidik Matahari 
(awas, harus pake filter, atau cukup liat proyeksi bayangannya saja di layar) 
dan kunci, trus proyeksikan ke permukaan tanah. Itulah arah kiblat setempat.

Btw, istiwa' azzam terjadi berdasarkan saat Matahari transit di atas Makkah, 
jadi kalo kita sama2 ada di zona waktu WIB, tidak jadi masalah ada beda waktu 
antara Yogya dan Depok misalnya, atau malah antara Banda Aceh dan Yogya 
misalnya. Tidak berpengaruh.

Metode Istiwa' Azzam ini hanya efektif untuk zona waktu WIB saja. Untuk WITA 
tidak begitu efektif, karena saat itu tinggi Matahari sudah terlau rendah (10 - 
15 derajat) sehingga sinarnya tidak kuat agi dan mungkin saja sudah terhalang 
pepohonan/bangunan/bukit. Sementara untuk WIT, istiwa' azzam 27 Mei ini tidak 
bisa diterapkan. Untuk WIT digunakan metode istiwa' azzam pada November dan 
Januari, ketika Matahari transit di titik anti-kiblat (antipode-nya Makkah).

Btw, No. HP-nya ganti lagi ya? 

Salam,


Ma'rufin


----- Original Message ----
From: noviar firdaus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, May 8, 2008 7:47:53 PM
Subject: Re: [ RHI ] Hari Meluruskan Arah Kiblat - 27 Mei 2008


Salam,

Ustad, kalau sy menggunakan bangunan tinggi sebagai patokan bisa ndak ya? 
umpamanya, monas di Jakarta, lalu untuk menentukan arah kiblat, kita berdiri 
menghadap monas tepat pada bayangannya.
Kalau metoda ini bisa, tentunya arah kiblat dapat dipastikan dan titik serta 
arah kita menghadap bangunan tersebut dapat dijadikan titik dan arah referensi 
di lokasi sekitarnya. Jadi bila nanti kita akan menentukan arah kiblat pada 
lokasi disekitar bangunan tersebut, kalau contoh di atas, monas, maka kita pun 
dapat menentukan arah kiblat dengan tepat untuk bangunan Istana Negara, kantor 
Balai kota DKI, dan berbagai gedung disekitar monas. Wah, nanti tugas kandepag 
setempat bisa lebih ringan ya...

Oh ya, untuk waktu yang tertulis pada makalah ustad itu waktu jogja? kalau di 
lokasi lainnya, kita dapat menggunakan referensi jadwal waktu sholat?

Satu lagi untuk tempat-tempat lain seperti untuk saudara kita di Indonesia 
tengah dan timur, metoda Istiwa A'zam ini masih bisa dikembangkan?

salam
nv


    


      

Kirim email ke