Krakatau itu gunung api yang berdiri di titik potong dua patahan (sesar), yakni 
salah satu cabang patahan Lampung (yang menjadi tempat berdirinya gunung 
Rajabasa, pulau vulkanik Sebuku, Sebesi, kompleks Krakatau dan berujung di 
pulau Panaitan) dan patahan melengkung yang menyusun garis pantai Ujung Kulon. 
Karenanya Krakatau jadi galak. Beberapa gunung api yang pernah ada di sekitar 
Selat Sunda memang dikenal galak. Selain Krakatau, Pulau Panaitan juga sisa 
gunung api yang telah membentuk kaldera di bagian selatannya yang kini menjadi 
teluk. Demikian juga gunung Danau di Banten, yang juga membentuk kaldera dan 
kini sebagian telah ditutupi tubuh gunung Karang dan Pulasari yang muncul 
kemudian. Pun begitu gunung Ranau di Lampung, yang juga telah membentuk kaldera 
dan kini digenangi air sebagai Danau Ranau. Namun hanya Krakatau saja yang 
masih aktif. 

Krakatau tercatat 3 kali mengalami letusan besar2an (paroksismal, dengan tipe 
great ultraplinian), yakni pada 535 CE (ada juga yang menyebut 416 CE), 1200 CE 
dan 1883 CE. Letusan terakhir adalah letusan paroksismal terkecil. Kemudian 
gunung ini beristirahat selama 43 tahun sebelum meletus lagi (sebagai letusan 
bawah air dengan tipe strombolian) pada 29 Desember 1927 hingga memunculkan 
pulau kecil pada 20 Januari 1929, yang kita kenal sebagai Anak Krakatau. Sejak 
kemunculannya Anak Krakatau meletus hampir tiap tahun sekali. Setiap tahun 
gunung ini memuntahkan rata2 51,25 juta meter kubik material vulkanik. Jika 
pengeluaran ini berjalan linier maka pada 2141 CE kelak volume Anak Krakatau 
akan menyamai Gunung Rakata, Danan dan Perbuwatan (11,01 km kubik), tiga 
kerucut kunci dalam letusan paroksismal 1883. 

Bagaimana dengan kemungkinan letusan paroksismal mendatang? Sebuah gunung api 
dapat meletus dahsyat jika ia memiliki magma yang sangat kaya akan silikat 
(atau magma sangat asam). Logikanya, semakin kaya silikat, magma akan semakin 
kental sehingga semakin mampu menjebak gas vulkanik. Letusan2 dahsyat yang 
pernah terjadi di daratan Indonesia, seperti Toba 73.000 tahun silam, Maninjau 
60.000 tahun silam, Galunggung 4.000 tahun silam, Papandayan 1772, Tambora 1815 
dan Krakatau 1883 selalu memproduksi batuan sangat asam ini. 

Pada letusan 1883, kandungan silikat magma Krakatau mencapai 68 %. Sementara 
pada lava letusan Anak Krakatau Juni 1993 kadar silikatnya 53,97 % dan pada 
letusan Juli 1996 kadarnya telah meningkat sedikit menjadi 54,77 %. Ini 
menunjukkan kadar silikat Krakatau sudah mulai meningkat. Jika diinterpolasikan 
secara linier, rata2 dalam 10 tahun kadar silika meningkat 1 %, sehingga pada 
2140 CE kelak kandungan silikat Anak Krakatau sudah mencapai tingkat yang sama 
dengan kondisi sebelum meletus dahsyat 1883. 

Baik dari interpolasi pertumbuhan volume gunung maupun kadar silikatnya, 
semuanya menunjuk di sekitar 2140 CE kelak Anak Krakatau akan menyamai kondisi 
pra letusan dahsyat 1883. Apakah pada 2140 CE kelak Anak Krakatau akan meletus 
paroksismal ? 

Hanya Allah SWT yang tahu. Tetapi bila merujuk pada data sejarah, periode ulang 
letusan paroksismal Krakatau adalah 600 - 700 tahun, sehingga letusan dahsyat 
berikutnya mungkin masih jauh. Lagipula sebelum letusan dahsyat terjadi, sebuah 
gunung musti beristirahat dulu untuk kurun waktu yang cukup lama sehingga bisa 
menghimpun energi yang sangat besar. Gunung Pinatubo misalnya, ia telah 
beristirahat (tanpa aktivitas apapun kecuali fumarol kecil) selama 500 tahun 
sebelum kemudian meletus paroksismal pada Juni 1991. Krakatau sendiri 
beristirahat 200 tahun (meletus terakhir 1680) sebelum bencana paroksismal 
1883. Jika demikian halnya, letusan paroksismal Anak Krakatau mendatang mungkin 
baru terjadi pada 2400-an. 

So, secara teori Anak Krakatau tak perlu dikhawatirkan kedahsyatannya untuk 
waktu sekarang ini. Ya moga2 saja letusan2 saat ini gak berlanjut sampe 26 
Januari 2009 kelak. Saat itu ada Gerhana Matahari Cincin yang kebetulan hanya 
bisa diobservasi di sekitar Selat Sunda, dengan point of interest di sekitar 
Gunung Anak Krakatau ini. 

salam


Ma'rufin

Ref : 

Sutawidjaja, 2006, Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan 
Katastrofis 1883, JGI vol. 1 no. 3 (2006).



----- Original Message ----
From: esti_2209 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, April 29, 2008 8:48:16 AM
Subject: Re: [FISIKA] Tambora, April 1815 (OTT)


OTT from Tambora, tapi masih tentang kegunung apian.
Sekarang ini gunung anak krakatau 'kan mulai mengalami peningkatan 
aktivitas, kalau menurut analisis kawan-kawan fisikawan (khususnya 
yang berkecimpung didunia geologi, vulkanologi dan saudara-
saudaranya) gunung anak krakatau itu nanti akan jadi seperti apa?
apa iya akan terjadi episode ledakan sejenis gunung tampora itu?
apalagi (sepengetahuanku) tipe ledakan gunung krakatau itu 'kan 
ledakan yang menghancurkan diri sendiri.
kabar yang terakhir aku dengar, aktivitas kegempaannya gunung anak 
krakatau itu sudah sampai 200 kali sehari, dengan lontaran debu 
vulkanik hingga ketinggian 4m.
Kalau sudah sampai tahap seperti itu, kemungkinan apa yang akan 
terjadi berikutnya?

    


      

Kirim email ke