Pak Pranoto, 

Mungkin ada baiknya anda menjelajah ke situs komunitas ICOP (Islamic Crescent 
Observation Project), http://icoproject.org, karena banyak paper di sana yang 
mendokumentasikan hasil observasi (yang valid dan reliabel) serta mengusulkan 
kriteria visibilitas. Salah satunya dari Mohd. Odeh (Odeh. 2004. New Criterion 
for Lunar Crescent Visibility. Experimental Astronomy 18 (2004), p.39 - 64) 
yang menyusun kriterianya berdasarkan 737 data pengamatan yang dilaksanakan 
secara terus menerus, tidak hanya pada Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah saja. 
Proses pengumpulan data secara global ini masih terus berlangsung sampai 
sekarang. 

Atau anda juga bisa membaca Schaefer (Schaefer & Dogget. 1994. Lunar Crescent 
Visibility. Icarus 103 (1994), p. 388 - 403) yang mengerahkan 2.000 pengamat di 
AS dalam lima kampanye Moonwatch Observations di dekade 1990-an sehingga 
diperoleh 1.534 data pengamatan yang berguna untuk membangun kriteria 
visibilitasnya, dan juga mempertajam konsepsi tentang kalender Hijriyyah 
(termasuk sifat visibilitas hilaal sebagai peristiwa statistik). 

Jika diseminasi informasi terhadap karya2 tersebut belum intens, ya ini memang 
proses yang masih berjalan lewa beragam media. Harus diakui bahwa media dan 
forum-forum pertemuan di kalangan pakar hisab dan rukyat itu sangat sedikit, 
sehingga dengan segala keterbatasan ini diseminasi itu tetap dicoba untuk 
dilakukan...

Dalam pandangan kami, baik di ICOP maupun di RHI (Rukyatul Hilal Indonesia), 
tidak ada beda antara rukyat dan observasi. Data yang diperoleh dari rukyat 
juga didokumentasikan, difoto, untuk kemudian dikumpulkan dan ditabulasikan 
secara sistematis. Rukyat itu berlangsung setiap awal lunasi, tidak hanya 
dibatasi pada Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah semata. Dan di Indonesia, yang 
melaksanakan rukyat sepanjang tahun ini tidak hanya RHI, namun juga jaringan 
Lajnah Falakiyah NU (ini atas kerja keras sosialisasi pak Mutoha dkk), jaringan 
Jama'ah Muslimin Hizbullah dan Tim Cakung. Sebagian lainnya memang masih 
melakukan hanya pada Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah, karena keterbatasan 
sumberdaya manusia.

Mungkin pak Pranoto ingin bergabung melaksanakan observasi ? Bagi sebagian 
komunitas tadi, praktik rukyat dilakukan sepanjang tahun karena dipandang 
bernilai ibadah. Dan bagi kami di RHI, baik ibadah maupun bukan, data 
pengamatan itu didokumentasikan. 

Soal hilaal muda dicari di akhir lunasi alias akhir bulan (yang menurut anda 
pasti salah), lihat sajalah thread sebelumnya.

salam,


Ma'rufin


----- Original Message ----
From: pranoto rusmin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, May 14, 2008 11:24:46 PM
Subject: [astronomi_indonesia] Ya tidak sama saja dong!


Sebuah model pergerakan benda langit dapat diperoleh dengan melakukan observasi 
pergerakan benda2 langit tersebut. Kata observasi tepat karena 
merepresentasikan sebuah proses pengamatan, pencatatan, koreksi data. Ketika 
data hasil observasi telah diperoleh para ilmuwan astronomi mencoba mengusulkan 
formula pergerakan benda langit tersebut. Perlu diketahui dan disadari bahwa 
untuk membuat formula ini diperlukan ribuan data observasi (bukan hanya data 
tiap awal ramadhan atau syawal saja). Ketika formula telah diperoleh akan 
diujikan. Kalau ternyata salah, dicari formula lagi, lalu diuji lagi. Hal ini 
dilakukan terus menerus sampai menemukan formula dengan akurasi yang dapat 
diterima.
 
Ketika formula/model dianggap valid, dapat digunakan untuk memprediksi data2 di 
masa depan. Yang kita sebut sebagai hisab.
Bukan berarti observasi berhenti. Observasi terus dilakukan untuk menjaga 
keakuratan model.
 
Dalam hal ini, rukyat tidak akan pernah terpisah dari hisab. 
Tapi,...coba kita perhatikan pengertian rukyat saat ini. Bandingkan rukyat yang 
dilakukan saat ini, yang hanya sekali dalam setahun, dengan observasi yang 
dilakukan untuk menentukan formula tersebut.
 
Kelebihan dari melakukan observasi, seseorang jadi mengetahui saat2 pergantian 
bulan. Bagaimana bulan dari bulan sabit tua akhir, menjadi tidak terlihat 
(konjungsi=newmoon) , kemudian muncul kembali dalam bentuk hilal (bulan sabit 
muda). Pengetahuan dan pengalaman akan pergerakan dan bentuk2 bulan inilah yang 
digunakan untuk menentukan perubahan hari, khususnya pada bulan baru.
 
Coba bandingkan kedua terjemah berikut ini.
"Berpusalah ketika melihat hilal, dan berbukalah ketika melihat hilal. Kalau 
hilal tidak terlihat, bulatkanlah"
 
Bandingkan dengan
"Berpuasalah dengan meng-observasi hilal dan berbukalah dengan meng-observasi 
hilal. Kalau hilal tidak terlihat, perkirakanlah" .
 
Kata observasi memiliki makna lebih dalam karena mengandung pengertian melihat, 
mencatat, menganalisis, dan menyimpulkan. Mengandung anjuran untuk memiliki 
ilmu dulu sebelum memutuskan. Sehingga, ketika hilal tidak terlihat dapat 
melakukan perkiraan yang tepat.
 
Kalau terjemah pertama yang digunakan, jelas mengandung kemustahilan, yang 
pernah saya sampaikan. Hilal muda tidak akan pernah ada di akhir bulan. Kita 
tidak mungkin mendefinisikan hilal muda termasuk bagian bulan yang lalu. Kalau 
hilal muda ada, pasti sudah masuk bulan baru, yaitu tanggal 1. 
 
 
Salam
 
Pranoto
 
 
 

________________________________
 Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
Donate Now.     


      

Kirim email ke