Saya rubah subject-nya ya,

Tentang Maulid Nabi, ada tulisan menarik dari pak Dr. Thomas Djamaluddin 
(Djamaluddin. 2001. Calendar Conversion Program Used To Analyze Early History 
of Islam). Saya membandingkannya dengan Moon Calculator v6.0 berbasis kriteria 
Yallop, yakni kriteria visibilitas hilaal yang diintroduksikan Bernard Yallop 
(1997) sebagai perbaikan dari kriteria-kriteria sebelumnya seperti Babilonia 
dan Ibn Tariq. Kriteria Yallop mempunyai lebar rentang ketidakpastian bujur 
terkecil (54° bujur menurut Schaefer), hampir sama besarnya dengan kriteria 
Odeh yang diintroduksikan pada 2004 dan masih lebih baik dibandingkan kriteria 
Babilonia dan Ibn Tariq (ketidakpastian > 180° bujur).

Sebagai sumber utamanya tetap hadits Nabi SAW seperti diriwayatkan Muslim 
(dimana Nabi SAW lahir, diangkat menjadi Nabi dan menerima wahyu pertama pada 
hari Senin, sehingga pada hari Senin disunnahkan untuk berpuasa). Juga dari 
Jabir dan Ibnu Abbas dimana diriwayatkan Nabi SAW dilahirkan pada Senin 12 
Rabiul Awwal, serta diangkat menjadi Nabi dan Rasul, mengalami Isra' M'iraj, 
hijrah dan wafat juga pada hari Senin. Sebagai pembanding kita juga bisa 
melihat konsistensinya dengan misalnya Perang Khandaq (yang terjadi pada musim 
dingin tahun 5 H), Perang Tabuk (pada musim panas yang kering di tahun 9 H) dan 
gerhana Matahari di Madinah (tahun 10 H), mengingat peristiwa itu selain 
menyebut tanggal juga memuat juga deskripsi situasi saat itu (musim 
dingin/panas). 

Secara singkat bisa direkonstruksi informasi berikut : mayoritas sumber 
menyebut Nabi SAW lahir pada Senin 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, yang menurut 
ulama falak Mesir, Mahmud Pasya' al-Falaki, terjadi pada Senin 20 April 571 CE 
(CE = Common Era). Namun jika ditelusuri lebih lanjut, peristiwa Maulid 
nampaknya sudah terjadi sebelum 571 CE, dengan mengingat bahwa ketika Nabi SAW 
melaksanakan hijrah pada 621 CE, beliau sudah berusia 53 tahun lunar, atau 
setara dengan 52 tahun solar. Sehingga Maulid Nabi SAW terjadi pada 570 CE. Ini 
sejalan dengan penemuan terbaru di Yaman yang menyebutkan pendudukan 
Kemaharajaan Abisinea (Ethiopia) berakhir di sekitar 570 CE seiring dengan 
penyerbuan Persia, sementara diketahui bahwa Peristiwa Tentara Bergajah (yang 
menjadi penanda tahun Maulid Nabi SAW) terjadi di penghujung akhir kekuasaan 
Abisinea di Yaman.

Moon Calculator v6.0 menunjukkan 12 Rabiul Awwal di tahun 570 CE itu terjadi 
pada hari Sabtu, 3 Mei 570. Sekilas ini kontradiktif dengan Hadits Muslim dan 
Jabir dan Ibnu Abbas. Demikian juga waktu-waktu penting dalam kehidupan Nabi 
SAW pun berselisih dua hari. Ini tidak bisa dijelaskan dengan istikmal. Pak 
Jamal menyebut selisih dua hari itu kemungkinan terjadi karena penduduk Madinah 
mengalami kesedihan yang teramat mendalam dengan wafatnya Nabi, sehingga 
terlambat dalam mengamati hilaal. Mungkin dari sinilah asal usul apa yang 
pernah dikemukakan pak Nidlol, bahwa bulan (lunasi) Hijriyyah memang pernah 
dihitung berjumlah 31 hari. 

Saya menduga salah satu keterlambatan itu mungkin terjadi dalam menentukan 1 
Rabiuts Tsani pasca wafatnya Nabi SAW, mengingat saat itu Madinah berada dalam 
situasi mencekam seiring kegoncangan di Jazirah Arabia akibat merebaknya 
gerakan riddah (belot agama) yang dikobarkan Musailamah, Aswad al-Insa, 
Thulailah al-Asadi dan Malik ibn Nuwaira. Bahkan Thulailah dan pasukannya saat 
itu telah bersiaga di dekat Madinah. Sementara sebagian besar penduduk 
laki-laki Madinah masih bergabung dengan pasukan Usamah ibn Zaid yang bergerak 
ke utara (ke perbatasan Kerajaan Ghassan) seperti digariskan Nabi SAW sebelum 
wafat, sehingga Madinah nyaris kosong selama 40 hari pasca wafatnya Nabi SAW. 
Demikian mencekamnya situasi Madinah sehingga Khalif Abubakar mengambil 
kebijaksanaan mengamankan perempuan, anak-anak dan lansia di Masjid Nabawi 
dengan dibentengi regu-regu pengawalan dibawah komando Ali ibn Abi Thalib, 
Zubair ibn Awwam dan Abdullah ibn Mas'ud. Belakangan Khalif
 Abubakar mengambil inisiatif menggempur pasukan Thulailah secara kilat 
menjelang dinihari ketika perundingan gagal.

Rekonstruksi dengan Moon Calculator v6.0 menunjukkan, hilaal 1 Rabiuts Tsani 
sebenarnya sudah bisa diamati dengan mata telanjang pada Rabu 24 Juni 632 CE 
dari Madinah (elevasi 604 m dpl), namun ketinggiannya saat itu hanya 4,5° pada 
saat best time (yakni saat hilaal mulai terlihat) yang terjadi 30 menit pasca 
sunset geometrik. Ini cukup rendah dan secara normal pun agak sulit untuk 
dilihat sekilas, kecuali jika pengamat memfokuskan diri. Dan dalam situasi 
mencekam, apalagi perundingan dengan Thulailah dan serangan kilatnya 
berlangsung pada minggu-minggu tersebut, maka terjadinya kanalisasi perhatian 
(seperti yang dialami operator PLTN Three Mile Islands 2 dalam 79 jam nan 
mencekam pada 28 Maret 1979 akibat kecelakaan nuklir TMI 2) adalah sangat 
mungkin hingga hilaal yang rendah itu luput dari perhatian. 

Dengan mempertimbangkan hal itu maka 12 Rabiul Awwal terjadi pada Senin 5 Mei 
570. Perang Khandaq terjadi selama tiga minggu di bulan Syawwal 5 H atau 
bertepatan dengan Februari 627 CE, dimana musim dingin berkecamuk di Jazirah 
Arabia sehingga cocok dengan deskripsi badai suhu dingin saat peperangan itu. 
Sebaliknya Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab 9 H atau pada Oktober 630 CE, 
dimana musim panas sedang meraja dan ini sesuai dengan situasi saat itu, dimana 
terjadi kesulitan-kesulitan dalam menyiapkan pasukan. Sementara Gerhana 
Matahari di Madinah, yang berlangsung pada hari yang sama dengan wafatnya 
Ibrahim bin Muhammad, terjadi pada Senin 27 Januari 632 CE. Gerhana disebut 
terjadi pada pagi hari. Simulasi dengan Starry Night v4.05 menunjukkan gerhana 
itu adalah Gerhana Matahari Cincin (Anular) yang terjadi pada pukul 07:30 - 
10:10 waktu Madinah.

Walahua'lam...

salam


Ma'rufin



      

Kirim email ke