Adalah anda, bapak doktor Pranoto yang terhormat, yang mulai dengan menantang 
untuk menjawab argumen anda ketika kami berdiskusi soal seminar. Untuk 
menyegarkan ingatan anda (yang mungkin saja ruwet, wallahua'lam), coba dilihat 
link ini : 
http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/711
Adalah anda juga, bapak Pranoto, yang mengajak kami untuk menafsiri Qur'an 
dengan metode anda. Namun apa yang saya lihat baru dalam tahap anda 
mengartikan/menerjemahkannya ke dalam bahasa lain, itupun dengan othak-athik 
gathuk sehingga arti-arti ayat yang anda sebutkan dibelokkan ke arah yang anda 
kehendaki. Coba dilihat link ini untuk menyegarkan ingatan anda : 
http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/message/3759
Sementara metode tafsir Qur'an terbaik, adalah ketika ayat Qur'an ditafsiri 
dengan ayat Qur'an dan hadits juga ditafsirkan dengan hadits.Apakah anda sudah 
belajar metode tafsir yang telah ada sebelumnya (mulai dari era klasik Jalalain 
sampai masa al-Azhar-nya HAMKA) sehingga bisa memutuskan membentuk metode 
sendiri? 
Adalah anda juga, bapak doktor Pranoto, yang diam seribu bahasa ketika kami 
bertanya bagaimana implikasi tafsiran anda (wabil khusus : bagaimana implikasi 
konsep kalender versi anda) dengan hukum-hukum yang mengatur ibadah puasa 
Ramadhan dan Haji.
Adalah anda juga, pak Pranoto, yang menjanjikan untuk memaparkan hasil hitungan 
anda soal kalender Hijriyyah global versi anda yang menurut anda paling akurat 
dan bisa diterapkan di 24 zona waktu. Namun hitungan anda tidak pernah 
dipostingkan sampe hari ini. Takut ? Tidak bisa ngitung ? Dan kompensasinya 
milih berkelit ke topik lain?
Adalah anda, pak Pranoto, yang menuliskan level anda jauh di atas level 
kami-kami (esp rekan Tri Laksmana), coba baca ulang link ini biar pikiran anda 
yang mungkin ruwet jadi lebih seger : 
http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/message/3864
Kesan saya hanya satu : sombong bener.
Dari awal anda ndhobos (bernarasi alias membual) soal kalender, sementara anda 
sendiri gak pernah mau bicara dengan angka, fakta dan realita. Konsep sebagus 
apapun yang anda kemukakan (yang menurut anda dalam tataran filsafat) tak 
berarti apa-apa ketika tidak bisa diderivasikan dalam model matematis untuk 
kemudian dioperasionalkan.
Dan hari ini, saya tagih lagi janji anda : tolong postingkan hasil hitungan 
anda soal kalender Hijriyyah global versi anda yang menurut anda paling akurat 
dan bisa diterapkan di 24 zona waktu. Please : fokus !! 
Dan tausiyah saya hanya satu : tundukkan hati. Banyak contoh kesombongan yang 
berakhir dengan kehancuran dan sudah terlambat untuk menyadarinya, seperti saat 
Qarun dibenamkan ke dalam Bumi.
salam,
Ma'rufin

----- Original Message ----
From: pranoto rusmin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, June 4, 2008 4:34:34 PM
Subject: [astronomi_indonesia] sam2 Pak Mutoha, saya juga mohon maaf


Iya Pak Mutoha, harusnya memang kita selalu santun dalam bertutur kata dan 
bersikap. itu akan menunjukkan kualitas kita. Namanya manusia, saya juga pasti 
tidak terlepas dari emosi. Saya juga mohon maaf kalau menyinggung Bapak.
 
Kebetulan bulan juni ini saya harus mempertahankan disertasi saya dalam bidang 
kendali kongesti di internet (saya sedang menyelesaikan s3 di ITB). Kebetulan 
s1, s2 saya juga di ITB. Semuanya konsisten di bidang sistem kendali.
 
Yang sebenarnya mengherankan saya, kelihatannya kunci kalender hijriah ini ada 
pada mekanisme kendali. Di mana setiap orang memilikinya, hampir di setiap diri 
manusia. Saat berjalan, saat melihat, mendengar, dsb.
 
Kalau kita kaji lebih dalam, shaum ramadhan juga mengajarkan kepada kita untuk 
mengendalikan diri. Kita tidak boleh melewati batas yang telah Allah SWT 
tentukan. Jangan sombong terhadap kebenaran yang ada. Bukankah seluruh umat 
terdahulu yang disebutkan dalam Quran dimusnahkan Allah karena melampaui batas 
dan sombong?
 
Demikian juga, kendali ada dalam peredaran matahari dan bulan, yang  dapat 
memiliki 'keteraturan' , sehingga terdapat rata2 sehari 24 jam dan siklus 
sinodik bulan.
Ini hal yang tidak main2. Allah menciptakan ini untuk manusia. Karenanya, pasti 
ada kelebihannya. ternyata memang benar.
 
Di dalam ilmu kendali, terdapat teori kestabilan. Suatu sistem dikatakan stabil 
apabila dengan masukan terbatas, punya keluaran terbatas juga. Sistem yang kita 
gunakan harus stabil. Kalau tidak stabil kita pakai, pasti ada masalah.
 
Kalender bulan memenuhi kriteria kestabilan ini. Namun, kalender solar/masehi/ 
gregorian tidak memenuhinya. Terdapat akumulasi error di dalam kalender masehi, 
yang kalau dalam jangka ribuan tahun, error ini akan semakin besar. Untuk 
itulah perlu suatu saat dibuang beberapa hari dari kalender. Mungkin rekan2 
ingat kejadian ini dilakukan olah Paus Gregorius.
 
Saya juga mengingatkan kepada diri sendiri dan rekan2. Berapa banyak ayat di 
Quran, yang memerintahkan kita agar membuka pendengaran, mata, pikiran, dan 
hati. Karena dengan itulah kita dapat mengetahui kebenaran. Kebenaran mutlak 
hanya milik Allah. Yang ada pada tiap diri kita, hanyalah interpretasi kita. 
untuk itulah kita perlu diskusi, membuka wawasan. Jangan2 saya salah? Jangan2 
saya salah? itulah mengapa saya perlu berdiskusi. Saya sama sekali belum yakin 
dengan pendapat saya. namun, sejauh ini menurut saya cukup kuat. Hanya memang, 
mohon maaf, saya memang tidak akan memunculkan dalam forum ini. Mungkin yang 
terbiasa dengan budaya akademik, cara elegan memaparkan hal seperti ini adalah 
di forum ilmiah internasional. Baru setelah itu disebar, karena setiap orang 
berhak atas pengetahuan tersebut.
 
Demikian rekan2 semua.
 
Salam
Pranoto
 
 
 


--- On Tue, 27/5/08, encep alhamidi <encep_alhamidi@ yahoo.com> wrote:

From: encep alhamidi <encep_alhamidi@ yahoo.com>
Subject: Re: [ RHI ] Re: [astronomi_indonesi a] Pranoto Rusmin, kita hentikan 
saja diskusinya
To: rukyatulhilal@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, 27 May, 2008, 6:34 PM


Amat lugas prolog yang dikemukakan yth. Pa Ma'rufin Sudibyo atas sebuah teori 
baru yang ditentang oleh para ahli pemilik teori lama. Saya teringat (kalo gak 
salah ingat) pada pelajaran ilmu bumi kelas 5 SD yang menyatakan bahwa matahari 
berputar pada sumbu (poros)-nya dan bumi yang mengelilingi matahari, bukan 
sebaliknya berdasar teori lama bahwa matahari yang mengelilingi bumi seperti 
nampak sehari-hari seolah bumi yang diam, matahari yang bergerak (terbit dan 
terbenam). Kalau gak salah juga, penemunya Niclaus Copernicus (NC) yang 
kemudian disempurnakan oleh Galilei Galileo (GG) - maaf kalo penyebutan namanya 
salah - awalnya banyak ditentang, dihujat dan diasingkan dari pergaulan para 
"ahli" saat itu (mungkin juga diusir dan dicekal dari forum milis kalo sudah 
ada internet saat itu) sampai akhirnya diakui kebenarannya beberapa waktu 
kemudian.... ., dan ............ . ....., seperti yang diungkap oleh yth Pa 
Ma'rufin Sudibyo,.... ......... .........
 .......
 
"So, limit Chandrasekhar (yang luar biasa) memang akhirnya bisa diterima 
setelah ditemukan bukti yang luar biasa". 
 
Kemudian dengan bijak Pa Ma"rufin bertanya : 
 
"Bagaimana, bapak Pranoto Hudaya Rusmin? Jika anda punya ide luar biasa, mana 
bukti yang luar biasa itu ? At least, bagaimana konsepsi kalender Hijriyyah 
versi anda agar tidak berseberangan dengan hukum2 tentang ibadah yang sudah 
ada, dipraktikkan sejak zaman Nabi SAW? Yang kita tunggu adalah bukti itu : 
data-data hasil perhitungan anda. Sehingga diskusi bisa mengerucut pada satu 
kesimpulan, tidak nggladrah (ngambang) seperti sekarag.
 
Pertanyaan yang ada di benak saya juga seperti itu, cuma gak bisa ngungkap 
dalam tulisan seperti pertanyaan (ajakan bijak) dari Pa Ma'rufin. 
 
Pa Pranoto bisa saja merendah dengan menyebut dirinya bukan ahli falak. Wallahu 
a'lam, dan Pa Pranoto sendiri yang tahu.
 
Kalau saya benar-benar awam soal ilmu falak, tapi saya penasaran mengikuti 
diskusi tentang ini di milis ini.
 
Kata Pa Ma'rufin lagi : "Jika hanya bernarasi, ya maaf saja, saya sepakat 
dengan mas Tri, hentikan saja diskusinya yang lama-lama lebih mengarah ke debat 
kusir".
 
Menurut saya sich, biar saja Pa Pranoto membuktikan dulu bahwa teorinya layak 
dikaji, dibantah, dan,....., apapun namanya, ....., dengan tujuan mencari 
kebenaran yang "siapa tahu" kisahnya akan seperi Chandrasekhar, NC dan GG di 
atas. Tokh, kita khan bisa saja tidak lagi membuka postingannya Pa Pranato, 
kecuali yang masih penasaran seperti saya. Dan tidak menutup kemungkinan ada 
juga anggota milis yang pasif tapi rajin membaca perdebatan para ahli sambil 
menunggu bagaimana endingnya.
Kecuali Pa Pranoto sendiri yang menyerah dan menghentkan postingan topik ini, 
dan suatu saat muncul kembali menjawab "pertanyaan bijak"nya Pa Ma'rufin.
 
Bagaimana Pa Pranoto....? Semoga bisa meyakinkan yang masih penasaran.
 
Salam,
Encep.
 
 


--- On Tue, 5/27/08, Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [ RHI ] Re: [astronomi_indonesi a] Pranoto Rusmin, kita hentikan saja 
diskusinya
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com, "Rukyat" <rukyatulhilal@ 
yahoogroups. com>
Cc: "Pranoto Hudaya Rusmin" <[EMAIL PROTECTED] com.sg>
Date: Tuesday, May 27, 2008, 3:17 AM


Sedikit OOT,
 
Subrahmanyan Chandrasekhar hanyalah seorang India muda yang baru pertama kali 
berlayar dari India ke Inggris untuk meneruskan studinya di Cambridge.. Selama 
pelayaran tahun 1928 itu ia menghitung bagaimana bahan bakar sebuah bintang 
bisa dihabiskan dan apa konsekuensinya, dan ia mendapatkan bahwa bintang2 akan 
mengerut oleh gravitasinya sendiri. Dari hitungan di sepanjang lautan ini ia 
menemukan limit Chandrasekhar : massa pembatas bintang-bintang dingin yang 
besarnya 1,4 massa Matahari. Bintang yang lebih massif dari limit Chandrasekhar 
akan runtuh oleh gravitasinya sendiri menjadi bintang neutron.
 
Selama di Inggris, ia belajar di bawah bimbingan Sir Arthur Eddington, 
fisikawan aristrokrat yang menemukan reaksi fusi Hidrogen secara siklis dalam 
inti matahari. Meski awalnya dipuji sebagai orang ketiga yang memahami 
relativitas umum (setelah Einstein dan dirinya sendiri), namun belakangan 
Chandrasekhar terlibat pertengkaran sengit dengan Eddington dalam berbagai 
forum ilmiah gara2 limit Chandrasekhar. Meski ditentang komunitas ilmiah Eropa, 
Eddington tetap bersikukuh (dengan segala arogansinya) bahwa limit 
Chandrasekhar hanyalah bohong besar. Dan akhirnya, riset tentang evolusi 
bintang2 di Eropa pun menyurut, pindah ke AS. Belakangan secara mengejutkan 
Jocelyn Bell dan Anthony Hewish berhasil mendeteksi bintang neutron pertama 
pada 1960-an di observatorium yang mereka bangun sendiri di Cambridge. Disusun 
dengan penemuan bintang neutron dalam Crab Nebulae (M1) dan menyusul banyak 
lagi, dengan kecepatan penemuan yang eksponensial.
 
So, limit Chandrasekhar (yang luar biasa) memang akhirnya bisa diterima setelah 
ditemukan bukti yang luar biasa.
 
Bagaimana, bapak Pranoto Hudaya Rusmin? Jika anda punya ide luar biasa, mana 
bukti yang luar biasa itu ? At least, bagaimana konsepsi kalender Hijriyyah 
versi anda agar tidak berseberangan dengan hukum2 tentang ibadah yang sudah 
ada, dipraktikkan sejak zaman Nabi SAW? Yang kita tunggu adalah bukti itu : 
data-data hasil perhitungan anda. Sehingga diskusi bisa mengerucut pada satu 
kesimpulan, tidak nggladrah (ngambang) seperti sekarang. Dan tentunya bukan hal 
yang sulit bagi anda untuk menyusun data-data perhitungan secara sistematis, 
mengingat anda juga pengajar sains di salah satu institusi edukasi terkemuka di 
Indonesia (kalau tidak salah).
 
Jika hanya bernarasi, ya maaf saja, saya sepakat dengan mas Tri, hentikan saja 
diskusinya yang lama-lama lebih mengarah ke debat kusir. 
 
salam
 
 
Ma'rufin
 
----- Original Message ----
From: Tri Laksmana <trilaksmana@ gmail.com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, May 26, 2008 6:10:24 AM
Subject: [astronomi_indonesi a] Pranoto Rusmin, kita hentikan saja diskusinya


2008/5/25 pranoto rusmin <[EMAIL PROTECTED] com.sg>:

Pak memang saya bukan ahli sekali dalam menentukan sudut2 itu (belum untuk saat 
ini).
Untuk mudahnya, awal hari yang saya maksud adalah jam 6 pagi, diasumsikan 
ketika matahari terbit. 
Hal ini juga mempermudah orang awam, tidak perlu ngukur2 dulu untuk mengetahui 
awal sebuah hari.
Untuk alasannya, mohon sabar, dalam diskusi ini akan terungkap. 



 
. 

Jam enam pagi waktu lokal? Kenapa harus jam enam pagi? Kenapa tidak jam lima 
sekalian karena pak tani pagi2 sudah kerja di sawah? Kenapa tidak jam empat 
sekalian karena itu adalah saat ketika orang mulai sahur? Kenapa tidak tengah 
malam saja sekalian sebagaimana biasa?

Sori ya, soal kalender bukan hanya soal debat kusir, tapi lebih penting lagi 
adalah persoalan ngukur2an. Jangan meremehkan "ngukur2an" karena kalender 
sebagai sebuah produk budaya adalah sebuah usaha yang serius dari astronom2 
masa lalu (Edwards sudah menjelaskan hal tersebut), bahkan bagi beberapa 
peradaban, pengukuran yang teramat teliti menjadi sebuah obsesi. Orang punya 
konvensi awal hari tengah hari atau tengah malam itu bukan main bikin dekrit 
saja seperti layaknya dekrit diktator, tapi adalah sebuah proses konstruksi 
yang mencerminkan kebudayaan setempat dan kebutuhan-kebutuhan lokal.

Kalau kamu mau membongkar semua konvensi yang ada dan menetapkan sistem 
kalender baru, maka argumentasi kamu harus didasarkan pada hitung2an yang 
solid, dan definisi juga harus jelas. "Klaim luar biasa harus didukung oleh 
argumentasi luar biasa," begitulah caranya.

Asumsi kamu bahwa jam 6 pagi adalah saat ketika matahari terbit bukanlah asumsi 
yang valid, karena saat ketika matahari terbit berbeda-beda menurut garis 
lintang dan juga garis bujur. Dua titik yang memiliki garis bujur yang sama, 
sebut saja Jakarta dan Jepang, misalnya, waktu terbit matahari-nya berbeda. 
Pada bulan Juni, di Jepang matahari akan terbit lebih awal, sementara pada 
bulan Desember akan terbit lebih belakangan dari di Jakarta. Coba saja 
main-main dengan software astronomi, misalnya Starry Night atau Celestia, dan 
lihat bahwa saat sunrise dan sunset pasti berbeda-beda tidak hanya di garis 
bujur yang berbeda tapi juga garis lintang yang berbeda.

Di lain pihak, kalau awal hari didefinisikan tengah hari atau tengah malam, 
maka semua daerah yang berada pada garis bujur yang sama akan mengalami 
pergantian hari secara serentak.

Kembali ke awal, kamu mendefinisikan awal hari adalah jam enam pagi, atau saat 
ketika sudut jam matahari -6 jam (HA = -6h). Harus hati2 menggunakan definisi 
ini karena untuk daerah yang lintangnya berbeda-beda, saat itu belum pagi hari 
atau bahkan sudah siang. Di lain pihak, kalau definisi awal hari adalah 
berdasarkan tinggi matahari di atas horizon, misalnya awal hari dimulai saat 
tinggi matahari nol derajat di atas horizon (h = 0), lebih parah lagi karena 
ini berarti setiap tempat dengan garis bujur dan garis lintang berbeda akan 
memiliki awal hari yang berbeda-beda. Bayangkan kekacauan yang akan terjadi.

Kalau mau tanya pendapat saya sih, definisi awal hari saat ketika HA = -6h 
tidak jauh lebih baik dengan definisi matahari saat ketika HA = 12h atau HA = 
0h, wong cuma menggeser titik nol saja kok dan bahkan patokannya masih 
didasarkan pada jam matahari. Definisinya juga malah merepotkan karena banyak 
kegiatan ekonomi (dan ibadah) sudah dimulai jauh sebelum saat itu.

Kalau mau lebih serius, sebaiknya diskusi ini dibawa ke tataran "ngukur2" 
sudut. Ayo bicara angka. Sekali lagi jangan meremehkan karena justru fondasi 
kalender yang baik adalah "ngukur2" yang baik. Kalau kamu memang belum ahli 
sebagaimana kamu akui, sebaiknya diskusi ini dihentikan saja dan kita lanjutkan 
lagi kalau "ngukur2"nya sudah ahli. Pendeta-pendeta Vatikan dulu tidak 
sembarangan ketika melakukan reformasi Gregorian, mereka tidak sembarangan 
ketika menghapus 10 hari kalender, tapi didasarkan pada ilmu ukur posisi yang 
teliti. Bacalah buku2 tentang ilmu falak dan ilmu ukur posisi dan lakukan 
pengamatan dan pengukuran langsung, misalnya di Tanjung Sari. Ingat, kamu bukan 
orang awam karena kamu mau bikin kalender jadi harusnya ilmu ukur posisi harus 
mengerti. Dan sekali lagi: kalender harus didasarkan pada ilmu ukur posisi 
benda langit. Tidak ada orang bikin kalender hanya duduk-duduk saja di sofa 
sambil internetan, harus ada hitung2annya dan juga
 data. Jangan hanya jadi armchair astronomer, pergilah keluar dan ambil data.. 
Kalau kamu tidak paham ilmu falak sebagaimana pengakuanmu, sori-sori saja kalau 
saya meragukan kapabilitas kamu dalam menyusun sebuah "kalender global."

Maaf-maaf saja, tapi diskusi ini sudah berlangsung cukup lama tanpa ada hasil 
kongkret. Coba dengarkanlah saran Pak Mutoha dan Pak Ma'rufin: buat presentasi 
yang lebih terarah, argumentasinya jelas, dan ada kuantitas yang bisa diukur. 
Saran saya: belajarlah ilmu falak karena itu adalah fundamental untuk sebuah 
kalender. Ide besar harus didukung praktik yang besar. Barangkali ada benarnya 
dugaan kamu kalau kamu salah memilih milis ini, karena ini adalah milis tempat 
orang bertukar pikiran, bukan milis tempat orang sesumbar dan sok keren.


Salam,

-tri-

 
 

________________________________

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel 


      

Kirim email ke