Wa'alaikum salam wr wb mas Noviar

Maaf baru sempat saya bales 

Kalo alat-alat, ketika memulai menurut saya yang sebaiknya ada ya ini : 

        1. Petunjuk waktu yang bisa dikalibrasi (saya pake HP)

        2. GPS receiver (bisa diganti dengan google Earth atau yang sejenis)

        3. Binokular / naked eye

        4. Kamera digital (optional)

        5. Penggaris segitiga yang ditera untuk menunjukkan ketinggian derajat 
ataupun gawang rukyat yang bisa dibuat sendiri (saya menggunakan plastik 
transparansi untuk membuatnya) 

        6. Buku dan pena untuk catatan

        7. Komputer atau laptop untuk menyajikan data-data dan simulasi (kalo 
ini optional). Bisa juga digantikan dengan catatan altitude vs time misalnya 
yang didapat dari software tertentu misalnya Moon Calculator.
Saya sendiri ndak pernah pake GPS jika ngamat sendirian (kalo bareng tim 
misalnya dengan BHR DIY atau JAC memang pake, sekedar melihat azimuthnya), 
demikian juga komputer/laptop digantikan dengan catatan. Nah untuk alat optik, 
yang standar memang binokular, lebih bagus jika ada tripodnya, sehingga pas 
digunakan untuk mbidik ke sasaran tak perlu dipegangi dan dibelakangnya kita 
bisa nempelkan kamera digital untuk merekam citra. 

Nah, alat optik lain apa yang dibutuhkan? Ini optional saja ya, cukup salah 
satu saja diantaranya dan jika ada dana mungkin ini bisa ditengok : 

        1. Teleskop refraktor seperti dari Vixen atau GTScope.

        2. Reflektor, yang terkenal bagus dari Meade.

        3. Teodolit
Kalo untuk alat optik memang kita musti hati-hati. Sering orang salah sangka 
bahwa dengan magnifikasi yang besar (misalnya 400 x) maka citra hilaal/sabit 
tua yang diperolehnya akan lebih bagus. Sebenarnya tidak demikian. Bulan itu 
punya apparent diameter 0,5 derajat, maka untuk alat optik sebaiknya kita 
gunakan yang punya field of view (FOV) > 0,5 derajat. Memang dengan FOV yang 
besar itu otomatis magnifikasinya jadi kecil (maksimum 50-an). Hanya, memang 
itu yang paling baik untuk membidik hilaal khususnya melihat bentuk lengkung 
cahayanya, karena tujuan kita bukan untuk melihat bentuk kawah/permukaan Bulan 
yang memang butuh teleskop lebih kuat.

Untuk sabit tua Jumadil akhir ini, saya derivasikan datanya dari Moon Calc 
dengan koordinat Jakarta (Depok hanya berjarak 10 km dari Jakarta bukan?) :

Minggu, 29 Juni 2008
sunrise           = 06:07 WIB
tinggi Bulan    = 54 derajat
azimuth Bulan = 43 derajat (Matahari = 67 derajat)
best time        = masih terlihat saat sunrise (dengan binokuler, dengan mata 
telanjang kemungkinan tidak)

Senin, 30 Juni 2008
sunrise           = 06:07 WIB
tinggi Bulan    = 41 derajat
azimuth Bulan = 50 derajat (Matahari = 67 derajat)
best time        = masih terlihat saat sunrise (dengan binokuler, dengan mata 
telanjang tidak)

Selasa, 1 Juli 2008
sunrise           = 06:07 WIB
tinggi Bulan    = 27 derajat
azimuth Bulan = 55 derajat (Matahari = 67 derajat)
best time        = masih terlihat saat sunrise (dengan binokuler, dengan mata 
telanjang tidak)

Rabu, 2 Juli 2008
sunrise           = 06:07 WIB
tinggi Bulan    = 14 derajat
azimuth Bulan = 59 derajat (Matahari = 67 derajat)
best time        = 11 menit sebelum sunrise dengan binokuler

Dari senin - selasa, posisi Bulan digunakan untuk kalibrasi saja (terutama 
dengan titik pengamatan yang tetap). Sementara observasi sebenarnya tentang 
hilaal tua ya pada Rabu itu, untuk itu pada Rabu pagi tolong dicatat 
data-datanya, yang berupa : 

        1. Kapan terakhir kali hilaal tua terlihat (atau best-timenya), baik 
secara naked eye maupun dengan alat optik ?

        2. Kapan sunrise terjadi secara observasional ?

        3. Lokasi dan koordinat titik pengamatan ?

        4. Kira-kira berapa ketinggian dan azimuth hilaal tua ketika terakhir 
terlihat ? 
Kalo untuk sabit muda (hilaal) Rajab, untuk Tenggarong kondisinya seperti ini : 

Kamis, 3 Juli 2008
sunset            = 18:17 WITA
tinggi Bulan    = 4 derajat
azimuth Bulan = 295 derajat (Matahari = 293 derajat)
best time        = tak nampak sama sekali 

Jumat, 4 Juli 2008
sunset            = 18:17 WITA
tinggi Bulan    = 17 derajat
azimuth Bulan = 293 derajat (Matahari = 293 derajat)
best time        = sudah nampak saat sunset dengan binokuler (mata telanjang 10 
menit pasca sunset) 

Pada Kamis sore sebenarnya secara teori hilaal tak mungkin terlihat, 
sebagaimana data-data dari ribuan pengamatan yang sudah ada di berbagai 
penjuru. Makanya fokus pada Hari Jumat saja. Dan yang dicatat :


        1. Kapan pertama kali hilaal terlihat (atau best-timenya), baik secara 
naked eye maupun dengan alat optik ?

        2. Kapan sunset terjadi secara observasional ?

        3. Lokasi dan koordinat titik pengamatan ?

        4. Kira-kira berapa ketinggian dan azimuth hilaal ketika terakhir 
terlihat ? 
Data-data itu yang nanti akan kita tabulasikan.

Salam,


Ma'rufin


----- Original Message ----
From: noviar firdaus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]


Assalamulaikum Mas Marufin, 

Sepertinya, semakin lama bergabung dengan komunitas ini, menjadi saya semakin 
tertarik mendalami ilmu falak ini, khususnya kegiatan rukyatulhilal. 
Oleh karena itu:

        1. Alat-alat bantu yang saya miliki, ternyata tidak terlalu signifikan 
dalam mendukung kegiatan rukyat, kalau boleh saya tahu, peralatan minimun yang 
sebaiknya ada apa saja ya? mohon dibantu dengan skala prioritasnya (Insya Allah 
sy coba cicil satu persatu pengadaannya), selain itu, spesifikasinya yang cukup 
memadai. akan sangat membantu apabila ada teman-teman kita yang mau lego 
(second). 

Demikian, mohon dukungan mas dan teman-teman lainnya. 
salam dari Depok.

Wassalammualaikum
noviar


      

Kirim email ke