Alhamdulillah pape

----- Original Message ----
From: Nidlol Masyhud <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, July 11, 2008 5:01:30 AM
Subject: Re: [ RHI ] Tantangan buat Pak Ma'rufin


Pak Pranoto,

1. Apa sih teori kendali itu? Kalau maksudnya menyesuaikan/ mengkoreksi 
kalender-kalender tabular menggunakan observasi empiris, ya memang itu sudah 
dilakan semenjak jaman jebot.

2. Apa kaitannya buku Al-Ghazali & Ibnu Rusyd dengan Logika dan Tasawuf? Dan 
apa pula hubungannya dengan kalender? Anda sudah pernah baca kedua buku itu..?

Harap dijawab.
Tidak harus memakai grafik, cukup dengan narasi.

Salam,
Nidlol.

 

--- On Fri, 7/11/08, pranoto rusmin <[EMAIL PROTECTED] com.sg> wrote:

From: pranoto rusmin <[EMAIL PROTECTED] com.sg>
Subject: [ RHI ] Tantangan buat Pak Ma'rufin
To: rukyatulhilal@ yahoogroups. com
Cc: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Date: Friday, July 11, 2008, 4:05 PM


Pak Ma'rufin boleh2 saja masih berpegangan dengan prinsip itu. Tapi, pasti 
hanya bersifat lokal. Cobalah Pak Ma'rufin buat paper, saya juga. Kita apply ke 
jurnal internasional. Di sana baru ketahuan kualitas dan kapasitas Pak Ma'rufin 
seberapa. Berani kan menghadapi tantangan saya secara profesional?

Inti dari teori kendali untuk menghitung jumlah hari dalam satu tahun kalender 
masehi atau jumlah hari dalam satu bulan kalender hijriah adalah tidak adanya 
akumulasi error. Jadi, kedua kalender tidak akan meleset dari data observasi 
yang ada. Rekan2 ahli astronomi harus menjamin nilai 1 tahun solar selalu 
valid, yaitu 365,2422 hari. Begitu juga perhitungan siklus sinoduk bulan dari 
newmoon ke newmoon juga harus dijamin melalui observasi terus menerus.
Hasilnya...kalender masehi akan selalu sinkron dengan musim. Kalender hijriah 
akan selalu sinkron dengan penampakan manzilah bulan untuk 24 zona waktu.

Saya kira kita perlu terbuka dan menyadari, bahwa dengan konsep kalender 
hijriah saat ini, jangankan untuk mendunia digunakan secara internasional, wong 
secara lokal saja jadi masalah. Jangan berharap mau dipakai untuk kegiatan 
sipil sehari-hari, untuk kegiatan ibadah saja jadi masalah. Untungnya semuanya 
masih dapat toleran. Kalau kita mengatakan tidak ada masalah dengan semua ini, 
ya lihat saja bagaimana nasib umat islam di masa depan nanti. 
Ini memang hanya persoalan cabang. Namun, kalau dicermati lebih dalam, hal ini 
muncul karena umat islam kehilangan budaya berpikir secara logis. Salah satunya 
gara2 perdebatan Imam Gozali dengan Ibnu Rusyd. Yang mengakibatkan pemikiran 
umat islam, khususnya Sunni tertarik ke arah sufistik, meninggalkan budaya 
filsafat rasional. Cobalah kalau Pak Ma'rufin ada waktu baca perdebatan kedua 
pakar tersebut. 

Menurut saya, Pak Ma'rufin perlu buat konsep baru, tanding dengan konsep saya. 
Jangan hanya mengungkapkan kembali hasil karya orang lain. Walau itu juga saya 
hargai. Tapi, itu kan sudah ada di buku. Jadi siapa saja tidak akan susah 
mencarinya. Coba selesaikan masalah kalender hijriah, yang masih ada saat ini. 
Boleh pakai konsep IDL nya Prof. Dr. M. Ilyas atau baca di moonsighting. 

Saya berharap dengan tantangan profesional ini ada manfaat buat kita semua. Pak 
Ma'rufin tidak hanya ngutip dari buku, tapi ada hal baru, dari ide sendiri, 
yang dimunculkan, yang akan menambahkan sesuatu dalam keilmuan yang sdh ada.

Oke Pak Ma'rufin.

Salam

Pranoto




--- On Fri, 11/7/08, Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [ RHI ] salah hitung (2) --> Re: Masehi vs Hijriah, persoalan sama 
hanya di lain tempat
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com, "Rukyat" <rukyatulhilal@ 
yahoogroups. com>
Date: Friday, 11 July, 2008, 2:46 PM


Mari fokus pada kalender lunar. Kalender lunar seperti kalender Hijriyyah 
mengenal 2 sistem perhitungan, yakni : sistem urfi (berbasis periode sinodik 
Bulan rata-rata) dan sistem hakiki (berbasis periode sinodik Bulan aktual). 
 
Sistem urfi ini sama dengan perhitungan pada kalender solar. Mari kita cek. 
Periode sinodik Bulan rata-rata besarnya 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik, 
sebagaimana disimpulkan astronom Umar Khayyam dkk di observatorium Nizamiyah 
Baghdad pada masa keemasan daulah Bani Abbasiyah dibawah pimpinan khalif Harun 
al-Rasyid. Sistem urfi menggunakan rumusan 1 lunasi (baca : Bulan Hijriyyah) = 
29 hari 12 jam. Sehingga dalam tiap lunasi terdapat 44 menit 2,8 detik (2.642,8 
detik) yang terbuang dan setelah 1 tahun selisih waktu yang terakumulasi itu 
mencapai 31.713,6 detik. Jika diproyeksikan secara linier, rata-rata dalam 3 
tahun lunar terdapat selisih sebesar 1 hari. Dan dalam 30 tahun selisih 
waktunya menjadi 951.408 detik, yang setara dengan 11 hari (1 hari = 86.400 
detik). Itulah sebabnya kenapa dalam kalender lunar murni terdapat "siklus 30", 
dimana dalam 30 tahun lunar terdapat 11 tahun kabisat (yang umurnya 355 hari) 
dan 19 tahun biasa/basitah (berumur 354
 hari). Dengan "siklus 30" ini maka pada akhir 30 tahun lunar itu selisih 
waktunya merosot menjadi tinggal 1.008 detik. Namun harus diingat bahwa selisih 
waktu per 30 tahun lunar ini juga tidak bisa diperhitungkan secara linier lagi, 
karena kurvanya pun berbentuk gergaji. 
 
(catatan : dengan membandingkan bentuk kurva selisih waktu antara tahun lunar 
murni dan tahun solar, saya berpendapat Paus Gregorius XIII mendapatkan 
pengaruh dari pemikiran Umar Khayyam ketika mencoba mereformasi kalender 
solar). 
 
Nah, dengan rumusan "siklus 30" ini maka selisih waktu dalam sistem urfi ini 
baru melebihi 1 hari setelah kalender berjalan selama 1.384 tahun lunar. 
Artinya sejak 1384 H kalender lunar berjalan sehari lebih lambat dibanding 
periode sinodik Bulan rata-rata, sehingga tahun 1384 H itu seharusnya 
ditetapkan sebagai tahun kabisat meski tahun 1382 H dan 1385 H secara teoritis 
juga merupakan tahun kabisat. 
 
Namun dari beragam literatur yang ada, ternyata tak ada yang menyebutkan soal 
penetapan tahun 1384 H ini sebagai kabisat. Mengapa ?
 
Musababnya hitungan di atas menggunakan sistem urfi, sementara ahli falak 
berpegangan pada sistem hakiki. Dalam sistem hakiki digunakan periode sinodis 
Bulan aktual, yakni selang waktu diantara dua konjungsi Bulan - Matahari 
(ijtima') yang berurutan, tidaklah selalu sama dengan periode sinodis Bulan 
rata-rata. Kita bisa melihat hal ini misalnya untuk tahun 1429 H, dimana 
periode sinodik aktual itu lebih besar dari periode sinodik rata-rata untuk 
lunasi Muharram, Shaffar, Syawwal, Dzulqa'idah dan Dzulhijjah, sementara pada 
lunasi sisanya periode sinodik aktual malah lebih kecil dibanding periode 
sinodik rata-rata. Jika selisih antara yang aktual dengan yang rata-rata ini 
diplotkan dalam kurva, kita mendapatkan kurva sinusoidal. Dan pada akhir 1429 H 
kita mendapatkan selisih waktunya hanya 2.787 detik, jauh di bawah angka 
31.713,6 detik sebagaimana dihasilkan sistem urfi. 
 
Namun konjungsi adalah suatu peristiwa yang tidak bisa diindra manusia, karena 
pada kondisi ini kita sama sekali tak bisa melihat Bulan dengan mata ataupun 
alat optik, terkecuali pada saat Gerhana Matahari. Itulah sebabnya sistem 
kalender lunar murni seperti kalender Hijriyyah mendeteksi terjadinya konjungsi 
dengan cara tidak langsung yakni lewat visibilitas hilaal, dengan hilaal : 
Bulan sabit dalam fase yang paling tipis yang sudah bisa dilihat mata di ufuk 
barat sesaat setelah Matahari terbenam. Dengan demikian maka dalam praktiknya 
kalender Hijriyyah mendefinisikan lunasinya sebagai selang waktu diantara dua 
visibilitas hilaal yang berurutan. Dengan didasarkan pada visibilitas hilaal 
ini, maka sebenarnya operasionalisasi kalender ini tidaklah rumit karena 
didasarkan pada observasi dan kenampakan fisik Bulan. Dan observasi semacam ini 
bisa dilakukan oleh manusia siapa saja, yang belajar untuknya, tanpa peduli apa 
statusnya.
 
Jika sistem hakiki yang jadi patokan, bagaimana dengan sistem urfi? Sistem ini 
memang tidak menjadi rujukan utama, namun tetap digunakan sebagai alat bantu 
terutama untuk mengetahui apakah tahun lunar yang sedang berjalan tergolong 
kabisat atau bukan. Misalnya tahun 1429 H ini. Berdasarkan hitungan sistem 
urfi, tahun 1429 H ini tidak tergolong tahun kabisat sehingga terdiri dari 354 
hari. Dan kompilasi data observasi hilaal dari tujuh lunasi yang sudah berjalan 
serta prediksi untuk lunasi yang tersisa menggunakan sifat keteraturan yang ada 
dalam data-data tersebut juga menunjukkan bahwa tahun 1429 H ini memang terdiri 
dari 354 hari.
 
Salam,
 
 
Ma'rufin

 

________________________________
 Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now!  
    


      

Kirim email ke