Assalamu'alaikum..

Jumat lalu sekitar pukul 8 pagi, pak Said D Jenie, Kepala BPPT yang juga 
saudara kembar pak Umar Anggara Jenis (kepala LIPI) itu wafat. Inna lillahi wa 
inna ilaihi rajiuun.

Prof. Said D Jenie ini lebih dikenal sebagai ahli penerbangan dan menjadi tokoh 
penting dibalik terbangnya N-250 pada 10 Agustus 1995 (yang sayangnya tak 
pernah terbang lagi pasca krisis). Namun beliau juga dikenal piawai dalam 
teknologi satelit dan kendaraan bawah air.

Dalam masalah hisab rukyat, Prof. Said D Jenie pada tahun silam pernah 
mengemukakan gagasan untuk mengajukan definisi baru tentang hilaal, dengan 
parameter : fase = 1,5 % ; tinggi (h) = 2 derajat; umur Bulan > 7 jam. Meski 
dalam beberapa bagiannya terasa ada yang tidak sinkron, namun upaya 
pendefinisian baru ini patut dihargai mengingat untuk pertama kalinya fase 
Bulan masuk ke dalam parameter hilaal di Indonesia (sebelumnya hanya tinggi dan 
umur saja). Saya teringat pernah mengkritisi definisi beliau itu dan mengambil 
kesimpulan kalo itu sebenarnya tak beda dengan Kriteria Babilonia, salah satu 
kriteria visibilitas hilaal yang valid dan reliabel. 

Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin. Dan kita yang ditinggalkan, bisa 
melanjutkan perjuangannya.

Wassalamu'alaikum...


Ma'rufin

Catatan : berikut tulisan tentang parameter Said D Jenie tersebut

Dalam visibilitas hilaal, ada sejumlah elemen Bulan yang bisa digunakan, 
seperti tinggi Bulan (h), selisih tinggi dengan Matahari (aD), selisih azimuth 
dengan Matahari (DAz), elongasi (aL), umur Bulan sejak konjungsi, fase, Lag 
(yakni selisih waktu antara terbenamnya Bulan terhadap terbenamnya 
Matahari),magnitude visual (mvis) dan lebar sabit (W).

Elemen2 tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri2 dan saling bebas, melainkan 
saling terkait. Sebut saja misalnya selisih tinggi, selisih azimuth dan 
elongasi. Untuk hilaal, ketiga elemen ini membentuk segitiga siku2 imajiner 
dengan sisi rebah = DAz, sisi tegak = aD dan sisi miring = elongasi. Sehingga 
disini bisa diberlakukan persamaan Phytagoras. Sementara fase Bulan, umur Bulan 
lebar sabit dan magnitude visual Bulan merupakan fungsi dari elongasi Bulan. 
Dan Lag bergantung kepada selisih tinggi dan posisi lintang pengamatan. 

Jika Prof Said D Jeniemenggunakan parameter :

- fase = 1,5 % 
- tinggi (h) = 2 derajat 
- umur Bulan > 7 jam 

sebagai usulan batas visibilitas terbaru (di Indonesia), parameter ini bisa 
dicek satu persatu apakah memang sesuai dengan teori gerak Bulan yang dipakai 
saat ini (saya menggunakan algoritma Chapront ELP 2000/82 yang merupakan varian 
dari algoritma Jean Meeus 1991). 

Mari kita lihat dari fase. Rumusnya, f = 0,5 (1 - cos aL). Dengan fase minimum 
= 1,5 % = 0,015 kita mendapatkan nilai elongasi minimum Bulan = 14 derajat. 
Secara rata-rata Bulan bergerak menjauhi Matahari dengan kecepatan 0,5 
derajat/jam. Maka jarak sudut (elongasi) minimum sebesar 14 derajat itu secara 
rata-rata ditempuh selama 14/0,5 = 28 jam setelah konjungsi. Dari sini nampak 
jelas bahwa penggunaan parameter umur Bulan > 7 jam ternyata tidak sinkron 
dengan hasil hitungan tadi, dimana seharusnya digunakan umur Bulan > 28 jam. 

Bagaimana dengan tingginya? Harus dibedakan antara tinggi Bulan (h) yang 
dihitung dari horizon sejati dengan selisih tinggi (aD), dimana aD = h + s 
dengan s = tinggi Matahari terhadap horizon sejati (berharga negatif, karena 
sudah terbenam). Dengan segitiga Phytagoras, aD terkait dengan elongasi dan 
selisih Azimuth. Untuk Bulan yang baru saja meninggalkan konjungsi-nya, nilai 
DAz berkisar dari 0 - 5 derajat. Sementara jika umur Bulan > 24 jam, nilai 
ekstrim DAz bisa mencapai 10 derajat. 

Mari gunakan nilai2 DAz ini. Untuk DAz 0 - 10 derajat, rentang nilai aD 9,8 - 
14 derajat. Antara aD dan Lag terdapat hubungan yang sedikit ruwet, dimana aD = 
aS cos (lambda) dan Lag (dalam menit) = as*4. Lambda disini adalah lintang 
lokasi pengamatan. Untuk Indonesia, nilai lambda boleh dikata mendekati nol 
derajat (apalagi dilintasi garis khatulistiwa) sehingga cos(lambda)--> 1. Maka 
jika parameter pak Said D Jenie diterapkan di Indonesia, kita menjumpai nilai 
Lag dalam rentang 39 - 56 menit. 

Sehingga, parameter Prof Said D Jenie ini dalam bentuk lain bisa dituliskan 
sebagai :

- umur Bulan > 28 jam
- Lag > 39 menit

Ini sebenarnya bukan "tawaran" baru untuk kriteria visibilitas hilaal, sebab 
bentuk tersebut ternyata sangat mirip dengan apa yang dinamakan Kriteria 
Babilon, yang "ditemukan" ahli2 perbintangan Kerajaan Babilonia Baru pada 2.700 
tahun silam guna kepentingan konstruksi kalender mereka. Dalam kriteria 
Babilon, umur Bulan > 24 jam sementara Lag > 48 menit. Karena wilayah Babilonia 
Baru terletak di sekitar garis lintang 30deg LU, koreksinya untuk daerah tropik 
seperti Indonesia menghasilkan Lag > 41 menit, sangat dekat dengan nilai yang 
"ditawarkan" pak Said D. Jenie. 

Parameter Prof Said D. Jenie ini konsisten dengan hasil pengamatan kami di 
Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) dan Jogja Astro Club (JAC) mengenai sifat2 Bulan 
sabit muda/hilaal sepanjang 2007 ini. Namun dengan catatan hanya untuk 
pengamatan berbasis mata telanjang. 

Jika kita menggunakan teleskop/binokuler, parameter dari pak Said D. Jenie ini 
tidak bisa lagi digunakan dan harus dikoreksi, seperti yang dilakukan Mohammad 
Odeh (2004). Koreksi ini menghasilkan fakta : jika pengamat berada di 
ketinggian > 3.000 m dpl, menggunakan teleskop, maka elongasi minimum Bulan 
agar hilaal bisa terlihat akan turun drastis menjadi 6,4 derajat. Pada nilai 
elongasi ini, umur Bulan (rata-rata) adalah 12,8 jam. 

Sehingga didapat satu kesimpulan sederhana. Jika semua peneliti hilaal 
kontemporer sejak masa Andre Danjon (1932, saat itu Direktur Observatorium 
Strassbourg Perancis) hingga Prof. Abdulhaq Sultan (2003, kini pengajar optika 
di Universitas Yaman) dan Mohammad Odeh (2004, kini aktif di Arab Union for 
Astronomy and Space Sciences) bisa dipercaya, dengan teknologi masa kini pun 
kita takkan bisa melihat hilaal jika umur Bulan baru < 12 jam. 



      

Kirim email ke